Bos Inalum Minta Royalti Nikel untuk Baterai EV Bisa 0%

NIKEL.CO.ID – Pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja. Beberapa perusahaan tambang batu bara akan memanfaatkan batu bara kalori rendah untuk proyek gasifikasi batu bara yakni mengubah batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME).

Tak mau kalah dengan batu bara, Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara, yakni mendapatkan royalti 0%.

Dia mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

“Kalau untuk batubara kita sudah ada pajak iuran (royalti) 0%, karena sudah ada apakah ini akan berlaku pada nikel kadar rendah?” kata Orias dalam Webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, secara teknis pertambangan nikel kadar rendah ini mulanya dianggap ikutan, namun karena ada produk baterai yang bisa dihasilkan dari nikel kadar rendah dan kini juga tengah didorong pemerintah, maka komoditas ini menurutnya menjadi istimewa.

“Sekarang kita manfaatkan nikel kadar rendah. Ini ada iuran produksi dan lain-lain, yang terkait itu perlu disesuaikan, saya rasa kebijakan ini (royalti 0%) perlu dimasukkan ke dalam kebijakan minerba,” pintanya.

Seperti diketahui, kini empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), antara lain PT Inalum (Persero), PT Aneka Tambang Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah dalam proses pembentukan Indonesia Battery Holding untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury pun sempat menuturkan pembentukan holding perusahaan baterai ini terbentuk pada Semester I 2021 ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan di dalam bisnis baterai kendaraan listrik ini, akan terdapat tujuh tahap atau rantai bisnis, yakni mulai dari penambangan, pemurnian atau smelter, precursor plant, pabrik katoda, pabrik sel baterai, battery pack, hingga daur ulang (recycling).

“Kita masuk di empat yang tengah seperti precursor, katoda, sel baterai, battery pack, dan juga recycling dengan PLN. Di hulu oleh Antam dan MIND ID,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Nicke mengatakan pada tahun ini holding company BUMN ini terbentuk, lalu bisa bermitra dengan perusahaan global. Kini ada tiga perusahaan global yang berpotensi menjadi mitra BUMN yakni perusahaan asal China (CATL), Korea Selatan (LG), dan Amerika Serikat (Tesla).

“Sudah tanda tangan dengan China company. Lalu kita sedang dalam program, insya Allah minggu ini atau depan dengan Korean company,” ujarnya.

Tidak hanya untuk bisnis baterai kendaraan listrik, potensi kerja sama dengan calon mitra perusahaan global lainnya yaitu sistem penyimpanan energi (energy storage system/ ESS) atau ‘powerbank’ raksasa.

Nicke menyebut Tesla cenderung tertarik pada ESS karena pasar ESS ini besar dan bisa menjaga keandalan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“ESS potensi besar di Indonesia. Tesla minat di energy storage. Melihat potensi tadi untuk menjaga keandalan suplai dari PLTS. ESS ini pasar besar. Pertamina akan masuk ke sana,” paparnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Proyek Pabrik Baterai Rp130 T Rencana Diteken Pekan Ini

NIKEL.CO.ID – LG Energy Solution, anak usaha LG Chem Ltd di bidang electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik, dikabarkan akan meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Indonesia Battery Holding (IBH) pada Jumat, 18 Desember pekan ini, di Seoul, Korea Selatan (Korsel).

LG Chem asal Korsel adalah satu dari dua produsen EV battery dunia yang siap bekerjasama dengan BUMN Indonesia. Satu lagi yakni Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) dari China.

Dikutip dari Business Korea, LG Energy Solution, akan membentuk konsorsium dengan empat perusahaan BUMN yakni MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Keempat perusahaan pelat merah ini tergabung dalam IBH.

Proyek pabrik baterai dengan periode proyek 5 tahun tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 10 triliun won atau setara dengan Rp 130 triliun (kurs Rp 12,97/won Korea).

Selain itu, LG International juga akan mengambil bagian dalam proyek ini. Investasi kedua anak perusahaan LG Group dalam proyek tersebut diperkirakan mencapai 2 triliun won atau lebih, setara dengan Rp 26 triliun.

“Nota kesepahaman untuk inisiasi proyek dijadwalkan akan ditandatangani pada 18 Desember,” tulis informasi dari Business Korea, dikutip Senin (14/12/2020).

Dalam proyek ini, serangkaian fasilitas bersama akan dibangun untuk menangani proses penambangan nikel, peleburan, pemurnian, dan prekursor (senyawa yang berpartisipasi dalam reaksi kimia yang menghasilkan senyawa lain), bahan elektroda positif, dan produksi sel.

Fasilitas penambangan, peleburan dan pemurnian kemungkinan besar akan dibangun di Maluku Utara dan fasilitas produksi diharapkan akan didirikan di Jawa Barat. LG Energy Solutions akan bertanggung jawab penuh atas produksi sel baterai.

Proyek ini terpisah dari proyek bersama LG Energy Solutions dengan Hyundai Motor Indonesia. Proyek yang pertama itu adalah untuk membangun pabrik pembuatan baterai luar negeri LG Energy Solution terbesar dan yang kedua adalah untuk memproduksi sel baterai dan kemasan untuk digunakan dalam kendaraan listrik yang akan diproduksi di Indonesia.

Proyek yang terakhir ini juga diharapkan segera diluncurkan. LG dan Hyundai kemungkinan akan menandatangani MOU terakhir untuk inisiasi proyek pada bulan depan, Januari 2021.

Pabriknya diperkirakan akan dibangun di Karawang, Jawa Barat, dengan biaya konstruksi 1,5 triliun won atau setara dengan Rp 19,45 triliun.

Pada 1 Desember 2020, LG Chem juga secara resmi meluncurkan anak usaha LG Energy Solution. LG Energy Solution mengadakan rapat dewan dan majelis perdana pada tanggal 1 Desember dan mengumumkan bahwa mereka menunjuk Kim Jong Hyun sebagai presiden pertamanya.

“Kami sekarang telah berhasil memisahkan perusahaan untuk meraih impian yang lebih tinggi dan sekarang telah memulai perjalanan yang hebat,” kata Kim, dikutip LGcorp.

LG Energy Solution mempekerjakan sekitar 22.000 orang (sekitar 7.000 di Korea dan 15.000 di luar negeri) secara global dan memiliki sistem bisnis global yang terdiri dari basis produksi di Ochang di Korea, Michigan di AS, Xingang/Binjiang di China, dan Wroclaw di Polandia, dan Pusat teknologi R&D di Daejeon di Korea, Troy di AS, Nanjing di China, dan Frankfurt di Jerman.

Tahun ini, pendapatan diperkirakan mencapai 13 triliun won Korea atau Rp 169 triliun, dan rencananya akan mencapai penjualan sebesar 30 triliun won Korea pada tahun 2024 untuk menjadi ‘perusahaan solusi energi terbaik dunia’.

Sebelumnya, pada 14 November lalu, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan nilai proyek kerja sama pabrik baterai listrik di Indonesia dengan dua perusahaan, LG Chem dan CATL, yakni menembus US$ 20 miliar atau setara Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000).

Erick Thohir mengatakan, kehadiran investor ini menunjukkan kebijakan Indonesia sudah tepat. Dia mengatakan, kehadiran investor luar negeri ini akan mendukung ketahanan energi nasional.

Pada 17 November, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahkan membeberkan LG Chem akan segera meneken MoU proyek pabrik baterai pada pekan itu, antara 17-21 November 2020. Tapi belum kejadian.

Hal itu diungkapkan Luhut dalam sebuah seminar Universitas Gadjah Mada yang disiarkan melalui kanal YouTube, Selasa (17/11/2020).

“Minggu ini kalau tidak ada perubahan LG dari Korea akan segera tanda tangan,” kata Luhut.

“Dan sekarang kita approach yang lain, saya kira masih on going,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Pekan Depan, LG Chem & Indonesia Battery Holding Dikabarkan Teken Kerja Sama

Kedua pihak akan meluncurkan proyek platform baterai kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia dengan total nilai investasi hingga 10 triliun won dan berjalan selama 5 tahun.

NIKEL.CO.ID – LG Energy Solution, entitas usaha LG Chem dibidang baterai, dikabarkan akan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Indonesia Battery Holding pada 18 Desember mendatang, di Seoul, Korea Selatan.

Melansir pemberitaan Herald Business Newspaper yang dikutip Bloomberg, LG Energy Solutions, akan membentuk konsorsium dengan empat perusahaan negara Indonesia, MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang tergabung dalam Indonesia Battery Holding (IBH).

Konsorsium itu akan meluncurkan proyek platform baterai kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia dengan total nilai investasi hingga 10 triliun won dan berjalan selama 5 tahun.

Adapun, menurut sumber Herald Business Newspaper yang tidak ingin disebutkan, LG Chem dikabarkan akan melakukan penandatanganan dengan pihak Indonesia pada 18 Desember 2020 mendatang di Seoul, Korea Selatan.

Di sisi lain, Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan sampai dengan saat ini, belum dibentuk perusahaan khusus sebagai IBH. Namun demikian, masing-masing anggota IBH sudah melakukan penjajakan kerja sama.

“Sesuai arahan Menteri BUMN Erick Thohir, keempat perusahaan ini nantinya akan menjadi pemegang saham untuk membentuk Indonesia Battery Holding (IBH),” paparnya dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (7/12/2020).

Dia menuturkan bahwa tim pembentukan IBH diketuai oleh Komisaris Utama MIND ID Agus Tjahajana. Diharapkan skema kerja sama dengan calon mitra dapat rampung pada awal 2021.

Orias pun menjelaskan dalam joint venture (JV) pembentukan IBH, pihaknya terbuka dengan mitra asing maupun domestik. JV dapat dibentuk dengan mitra pada tiap nilai rantai industri baterai listrik JV pun dapat dilakukan secara langsung oleh BUMN, maupun anak perusahaan oleh BUMN dengan IBH.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengklaim dua produsen electric vehicle (EV) Battery untuk kendaraan listrik terbesar dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd dari Korea Selatan, memberikan isyarat akan bergabung dalam proyek investasi bernilai US$20 miliar dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Indonesia.

Menurut Orias, CATL sudah melakukan penandatanganan kerja sama awal dengan Antam. Adapun, LG Chem nantinya akan melakukan kerja sama dengan Pertamina.

“Jadi masing-masing anggota tim membentuk kerja sama dengan calon mitra, sehingga bisnis [IBH] bisa terintegrasi dari tambang hingga produksi baterai, dan daur ulangnya,” imbuhnya.

Sumber: bisnis.com

Read More

Inilah Daftar Perusahaan RI yang Terjun ke Industri Mobil Listrik

NIKEL.CO.IDMobil listrik menjadi inovasi terbaru dalam dunia transportasi yang populer sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Memanfaatkan energi listrik sebagai penggeraknya, mobil listrik diklaim jauh lebih ramah lingkungan daripada kendaraan berbahan bakar fosil seperti bensin dan solar.

Perusahaan-perusahaan otomotif dunia pun berlomba-lomba untuk terjun dan menciptakan mobil listrik, sebut saja Hyundai, Tesla, dan Toyota. Euforia untuk ikut terlibat dalam industri mobil listrik pun dirasakan oleh Indonesia.

Buktinya, sejumlah perusahaan mendeklarasikan diri akan membangun pabrik mobil listrik di Tanah Air. Bahkan, Indonesia sendiri pun mendirikan pabrik baterai listrik untuk menunjukkan eksistensinya di industri ini.

Lantas, siapa sajakah perusahaan Indonesia yang ikut terjun dan terlibat dalam industri mobil listrik? Berikut adalah daftarnya.

1. Toyota – Astra International (JK:ASII)

PT Astra Internasional Tbk (ASII) melalui perusahaan ventura miliknya, yakni PT Toyota Astra Motor (TAM) berkomitmen untuk turut mengembangkan dan meningkatkan pentrasi mobil listrik di Indonesia. Hal itu sempat disinggung oleh Marketing Director TAM, Anton Jimmy Suwandi, pada pertengahan tahun 2020 lalu.

“Kami tetap komitmen untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia karena memang itu untung jangka panjang. Bukan hanya untuk tahun ini, tetapi juga tahun depan dan seterusnya,” pungkas Anton pada Mei 2020.

Seakan kembali mempertegas komitmen tersebut, Yoichi Miyazaki selaku Asia Region CEO Toyota Motor Corporation dua hari lalu menyatakan bahwa Toyota akan segera memproduksi mobil listri di Indonesia. Dalam agenda pertemuan secara virtual yang juga diikuti oleh Menko Bidang Perekonomian, Airlangga, Yoichi menyebut bahwa pihaknya menggelontorkan dana investasi hingga US$2 miliar atau setara dengan Rp28,29 triliun untuk rencana tersebut.

“Setidaknya dalam lima tahun ke depan, Toyota sudah menyiapkan sepuluh jenis kendaraan listrik bagi konsumen Indonesia. Teknologi kendaraan Toyota juga sudah siap untuk mendukung penerapan B30 di Indonesia,” pungkas Yoichi dilansir pada Kamis, 10 Desember 2020.

Dengan nilai investasi sebesar itu, Yoichi memperkirakan konsumsi bahan bakar akan dapat ditekan hingga 126 liter pada tahun 2025 mendatang. Bali dipilih menjadi lokasi proyek pengembangan mobil listri Toyota karena dianggap dapat mendukung ekosistem eco-tourism di Pulau Dewata itu.

2. Inalum – Antam

Komitmen menciptakan kendaraan berteknologi ramah lingkungan juga ditunjukkan oleh pemerintah dalam mendukung pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Melalui holding BUMN pertambangan Inalum atau MIND ID, pemerintah menyatakan siap membangun pabrik baterai mobil listrik dengan nilai investasi US$20 miliar atau setara dengan Rp290 triliun.

Menteri BUMN, Erick Thohir, menyampaikan bahwa proyek pabrik baterai yang diklaim akan menjadi yang terbesar kedua di dunia ini akan menyasar dari hulu sampai ke hilir, yakni dari bahan mentah hingga ke produk jadinya. Oleh karena itu, proyek tersebut akan digarap bersama dengan perusahaan BUMN lainnya, yakni PLN, Pertamina, dan PT Aneka Tambang Tbk (JK:ANTM) (Antam). Nantinya, ketiga BUMN tersebut akan membentuk unit usaha baru bernama PT Indonesia Battery.

Dalam kesempatan yang berbeda, Direktur Utama Inalum, yakni Orias Petrus Moedak menjelaskan bahwa ada tiga lokasi yang dipertimbangkan sebagai lokasi pembangunan pabrik, yaitu Sulawesi Tenggara, Halmahera, dan Papua. Proyek ini pun ditargetkan dapat berjalan dua hingga tiga tahun ke depan.

“Pendanaan sebelumnya ada yang tanya nilai proyek kan sekitar US$12 miliar, lalu Pak Menteri (BUMN) katakan USD20 miliar karena turunannya lebih jauh, tidak berhenti pada nilai yang saya sampaikan, sehingga bisa sampai USD20 miliar. Kita terbuka untuk mitra kita, nikel kita banyak, mitra ketiga masuk bisa capai USD20 miliar, sekarang hitungan masih USD12 miliar,” pungkasnya seperti dilansir dari Sindonews.

3. Inalum – Vale Indonesia

PT Vale Indonesia Tbk (JK:INCO) juga disebut akan turut dilibatkan dalam pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Menteri Erick Thohir, mengingat posisi Vale Indonesia saat ini sebagai pemilik aset nikel terbesar di dunia.

Ambisi Erick Thohir untuk menegaskan eksistensi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia semakin tinggi ketika Inalum menuntaskan akuisisi 20% saham Vale Indonesia dari dua pemegang saham mayoritas sebelumnya, yakni Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co.Ltd.

Erick meyakini, akusisi tersebut menjadi momen penting dalam hilirisasi industri pertambangan nasional yang berperan strategis dalam industri nikel secara global. Bagaimanapun, dengan akuisisi ini pula Inalum mendapat akses untuk mengamankan pasokan bahan baku industri hilir nikel Indonesia, entah itu untuk diolah menjadi stainless steel maupun baterai mobil listrik

“Ini langkah bagus untuk memperkuat value chain di Indonesia serta pengembangan industri baterai untuk mobil listrik sebagai bagian dari proses transformasi sistem energi,” pungkas Erick dalam keterangan pers pada awal Oktober 2020 lalu.

4. Nissan – Indomobil

PT Indomobil (JK:IMAS) Sukses Internasional Tbk (IMAS) secara tidak langsung juga ikut terlibat dalam industri mobil listrik setelah entitas anak usahanya, yakni PT IMG Sejahtera Langgeng mengakuisisi 75% saham PT Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI). Pengambilalihan saham tersebut efektif berlaku pada 3 November 2020 lalu.

Perlu diketahui, setelah berada di bawah naungan Indomobil, Nissan memulai strategi penjualan produk baru berupa mobil listrik bernama Nissan Kicks e-Power pada November 2020. Mobil tersebut seluruhnya digerakkan menggunakan energi listrik dengan baterai lithium-ion yang membantu dalam optimalisasi tenaga penggerak kendaraan sehingga menjadi lebih hemat energi.

Manajemen NMDI meyakini, tren mobil listrik di Indonesia akan terus mengalami kenaikan. Pasalnya, mobil listrik menawarkan sensasi berkendara yang nyaman tanpa khawatir kehabisan energi karena menggunakan daya listrik.

“Saya yakin tren mobil listrik di Indonesia akan terus naik karena konsumen akan tetap bisa merasakan sensasi berkendara ala mobil listrik,” pungkas Marketing Director NMDI, Bagus Susanto, beberapa waktu lalu.

Sumber: investing.com

Read More

Komut Inalum Beberkan Kesiapan Proyek Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia dianggap semakin siap untuk menjadi salah satu pemain dalam industri pembuatan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/ EV). Dengan pasokan bahan baku yang berlimpah, serta ceruk pasar domestik yang menggiurkan, ini dianggap menjadi keuntungan Indonesia untuk mengembangkan pabrik baterai kendaraan listrik.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah menjelaskan bahan baku baterai yang paling utama adalah nikel, dan Indonesia memiliki pasokan cadangan nikel yang sangat besar untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengan demikian, negara bisa mendapatkan nilai tambah mulai dari hulu hingga hilir.

“Tidak bisa dipungkiri kita memiliki pasokan atau cadangan (nikel) yang sangat besar yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kegunaan program ini dan proyek ini. Bagaimana kita bisa memaksimalkan cadangan ini untuk kita dapatkan nilai yang sebesar-besarnya,” tutur Agus yang juga merupakan Komisaris Utama Inalum kepada CNBC Indonesia, Rabu (02/12/2020).

Menurutnya saat ini yang paling penting adalah bisa menggaet mitra yang mumpuni (qualified) dalam memproduksi baterai kendaraan listrik ini. Pasalnya, pembuatan baterai EV skala besar saat ini masih terbilang baru, sementara kemampuan negara dalam pembuatan bahan bakar mobil listrik ini masih dalam jumlah yang kecil.

Nantinya, dengan bekerja sama dengan mitra, maka diharapkan terjadi transfer ilmu (transfer knowledge) dari mitra yang berpengalaman. Ini artinya, mitra akan memberikan teknologi dan cara bekerja dengan cepat, sementara Indonesia menawarkan pasar domestik dan bahan baku.

Dia mengatakan, saat ini Indonesia telah merakit baterai untuk keperluan penyimpanan energi oleh PLN. Namun komponen baterai masih diimpor.

Agus yakin dengan bekal itu Indonesia mampu membuat pabrik baterai secara gradual.

“Tentu kita menyadari Indonesia pada posisi berkembang ke arah penggunaan electric vehicle, tapi kita tidak akan sulit untuk memproduksinya melihat pengalaman produksi otomotif selama 20 tahun dan komponen mobil EV lebih sedikit dibanding combustion engine,” katanya.

Sebagai informasi, pada 2040 mendatang permintaan mobil listrik diproyeksikan akan mencapai 60 juta unit. Agus menambahkan, perkembangan industri otomotif akan sejalan dengan pertumbuhan populasi manusia, sehingga 20 tahun mendatang 60% mobil dunia adalah berbasis listrik.

Sementara di domestik sendiri, permintaan mobil listrik dalam 10 tahun mendatang diperkirakan akan mencapai 400-600 ribu unit dengan asumsi penjualan mobil nasional mencapai 2 jutaan unit.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Selain China dan Korea, Proyek Baterai Listrik BUMN Juga Dilirik Jepang

NIKEL.CO.ID – Indonesia tengah dilirik investor luar negeri untuk proyek pabrik baterai listrik. Sebab, produk hilir ini menjadi prospek transportasi masa depan karena digunakan untuk mobil listrik.

Proyek ini dimotori oleh holding BUMN tambang, yaitu MIND ID di sisi hulu. Sedangkan di sisi hilir ada PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau disebut juga CEO MIND ID, Orias Petrus Moedak, mengatakan ada dua perusahaan luar negeri yang sudah menyatakan minatnya.

Dua perusahaan tersebut yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea. Selain mereka, ada juga Jepang yang melirik Indonesia dalam proyek ini.

“Ada yang pendekatan, tapi belum sejauh Korea dan China. Kami lihat ada potensi sama Jepang,” kata Orias dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (15/10/2020).

Orias mengungkapkan, saat ini Indonesia dalam posisi didatangi perusahaan asing dalam proyek ini, karena potensi bisnisnya yang cukup besar.

Sebab, selain digunakan menjadi penggerak mobil listrik, baterai listrik ini juga bisa digunakan untuk sektor lain seperti pembangkit listrik tenaga matahari, yang sumber listriknya bisa disimpan dalam storage menggunakan baterai ini.

Secara komposisi, bahan baku baterai listrik ini mayoritas menggunakan 80 persen nikel yang pasokannya melimpah di Indonesia.

Selain itu ada cobalt dan lithium. Khusus lithium, Orias mengungkapkan akan mengimpornya dari luar negeri atau berinvestasi di negara yang menghasilkan lithium.

“MIND ID kemungkinan investasi di luar, tempat yang hasilkan lithium. Lithium impor, kami sudah lihat di beberapa negara,” ujarnya.

Untuk kerja sama dengan Korea dan China, investasi yang dibutuhkan mencapai USD 12 miliar hingga USD 20 miliar seperti yang pernah disebutkan Menteri BUMN Erick Thohir.

Menurut Orias, masalah porsi pendanaan dari masing-masing perusahaan tengah dibahas, berbarengan dengan pembentukan perusahaan patungan atau joint venture (JV).

Untuk modal yang dibutuhkan biasanya berasal dari ekuitas perusahaan dan utang dengan rasio 30:70. Menurut dia, tidak sulit mencari utang untuk proyek ini.

“Itu nilai proyeknya USD 12 miliar, nanti kami akan diberi tahu oleh tim, equity berapa dan pinjaman berapa. Equity kan biasanya 30:70. Jadi ya USD 3,6 miliar (dari ekuitas). Tapi kan mitranya banyak ya. Jadi ini enggak berat cari pinjamannya,” ujarnya.

Sumber: KUMPARAN.COM

Read More

Inalum Resmi Kuasai 20 Persen Saham Vale Indonesia (INCO)

NIKEL.CO.ID – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi membeli sebanyak 14,9 persen saham PT Vale Indonesia (INCO) milik Vale Canada Limited (VCL) dan sebanyak 5,15 persen milik Sumitomo Metal Mining Co., Ltd (SMM).

Berdasarkan transaksi saham di BEI pagi ini, Rabu (7/10/2020) telah terjadi dua kali transaksi saham INCO di pasar negosiasi senilai Rp5,524 triliun pada harga 2.780 per saham. Transkasi dilakukan melalui Danareksa Sekuritas (OD) sebagai pembeli dan Citigroup Sekuritas Indonesia (CG) sebagai penjual.

Sebelumnya, Chief Financial Officer INCO, Bernadus Irmanto dalam keterangan resmi pada laman Bursa Efek Indonesia, Jumat (19/6/2020), menyatakan, berdasarkan keterangan resmi dari VCL dan SMM kepada perseroan, bahwa sebanyak 20 persen kepemilikannya pada perseroan akan dijual senilai Rp5,525 triliun atau USD371 juta.

“Untuk kepemilikannya, VCL dan SMM akan menerima sekitar Rp5, 525 triliun atau USD371 juta secara tunai setelah penyelesaian transaksi, yang diharapkan akan terjadi pada akhir tahun 2020,” tambah Bernadus.

Ia menjelaskan, syarat dan ketentuan akhir telah diselesaikan dalam perjanjian-perjanjian dan termasuk pembelian 20 persen saham perseroan oleh Inalum.

“Inalum akan mengakuisisi 20 persen saham perseroan, dengan rincian 14,9 persen berasal dari VCL dan 5,1% dari SMM,” imbuh dia.

Setelah transaksi, jelas Bernadus, VCL masih memegang sebanyak 44,3 persen saham perseroan dan SMM menggenggam 15 persen di PT Vale.

“Total kepemilikan VCL dan SMM sebesar 59,3%,” tutup dia.

Sumber: emitennews.com

Read More