Tesla Putuskan Beli Nikel Dari Perusahaan Australia

NIKEL.CO.ID – Tesla telah menyepakati pembelian nikel, bahan baku utama baterai mobil listrik mereka, dari BHP, penambang nikel terbesar di dunia yang berada di Australia.
Langkah Tesla ini merupakan strategi memastikan suplai nikel dari produsen yang tidak dikontrol China, seperti di Indonesia.

Kerja sama dengan BHP merupakan kesepakatan ketiga yang dilakukan Tesla pada tahun ini, setelah Vale dan Goro.

Menurut Financial Times, Elon Musk, CEO Tesla, mengatakan pada Juli tahun lalu bahwa dia akan menawarkan ‘kontrak besar dalam jangka waktu lama’ pada perusahaan yang menambang nikel secara ‘efisien dan sensitif pada lingkungan’.

Tesla akan membeli nikel dari pabrik BHP, Nickel West, di Australia, yang merupakan salah satu produsen logam baterai dengan emisi karbon terendah.

Nikel merupakan material kunci buat Tesla menciptakan mobil listrik yang mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh. Nikel membuat baterai bisa memiliki lebih banyak kerapatan energi.

Setiap mobil listrik membutuhkan setidaknya 40 kg di dalam baterai.

Reuters menjelaskan produsen otomotif dunia saat ini mencari penyuplai alternatif agar mengurangi ketergantungan dari China.

Indonesia adalah salah satu penyuplai besar nikel, kira-kira mewakili 30 persen di dunia menurut Nickel Study Group, dominasinya juga diperkirakan bakal mencapai 50 persen pada 2025. Meski begitu sebagian besar produksi nikel di Indonesia menggunakan batu bara dan produsennya dikontrol China.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerja sama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim telah mengantongi proposal dari Tesla.

Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.

Menurut Kemenperin saat ini sudah ada lima perusahaan pemasok bahan baku baterai di Indonesia, yakni Huayue Nickel Cobalt, QMB New Energy Material, Weda Bay Nickel, Halmahera Persada Lygend, dan Smelter Nikel Indonesia.

Selain itu sudah ada empat produsen baterai di dalam negeri, yaitu International Chemical Industry, ABC Everbright, Panasonic Gobel, dan Energizer.

Steve Brown, konsultan independen di Australia, mengatakan kepada Reuters, strategi Tesla menggaet BHP logis, sebab peluang mendapatkan nikel di dunia saat ini tidak banyak.

Jejak karbon di pabrik Nickel West dikatakan setengah dari para produsen nikel top di Indonesia, yang menggunakan teknologi berenergi besar untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit. Praktek pembuangan limbah di pabrik itu juga dikatakan berisiko lebih rendah.

“Tesla akan mendapatkan ketersediaan nikel dari produsen mapan dengan kredensial operasional yang kuat sebanyak mungkin,” kata dia.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Elon Musk dan Sederet Rencana Investasi di Indonesia

Investasi di industri baterai mobil listrik tampaknya bukan satu-satunya yang akan dilakukan Elon Musk melalui perusahaannya di Indonesia.

NIKEL.CO.ID – Nama Elon Musk dan Tesla Inc. sempat menjadi primadona dan buah bibir di Indonesia pada pengujung 2020 hingga awal tahun ini. Hal itu tak lepas dari desas-desus rencana perusahaan mobil listrik tersebut untuk berinvestasi di Indonesia.

Kala itu, sejumlah pejabat negara getol mempromosikan rencana besar industri mobil dan baterai listrik Tanah Air. Perusahaan Elon Musk tersebut pun awalnya disebut-sebut akan membangun pabrik mobil listrik di Indonesia.

Kabar itu pun membuat sejumlah emiten nikel di Indonesia, kompak mengalami lonjakan harga saham di lantai bursa. Sebab, nikel merupakan bahan baku utama baterai listrik.

Namun belakangan, Tesla disebut-sebut bukan berminat untuk membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. Terlebih, setelah adanya keputusan terbaru Tesla membangun pabrik mobil listrik di India pada kuartal I/2021.

Adapun, isu investasi perusahaan asal AS di Indonesia tersebut mengalami pergeseran. Tesla dikabarkan berminat investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

Hal itu ditegaskan oleh Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga pada Maret lalu. Saat itu, dia  mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik.

Menurutnya, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik mobil. Menurutnya Arya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi.

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kita enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery Agus Tjahjana mengatakan bahwa penjajakan antara Indonesia dan Tesla sedang dilakukan dengan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi.

Dia menyatakan kesiapan untuk memberi keperluan yang dibutuhkan Tesla untuk rencana pembangunan pabrik di Indonesia. Menurutnya, perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Holding Battery (IHB) yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), dan PT Pertamina (Persero) telah menyatakan kesiapannya.

“Kami siap, kami sediakan lahannya kalau diperlukan oleh Antam, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Jadi, kalau misalkan, mau ke Pertamina siap, PLN juga siap, kita pada posisi lebih banyak menunggu tetapi yang dua ini sudah masuk ke yang lebih serius,” ungkapnya.

Investasi SpaceX

Kini, kabar mengenai rencana investasi Elon Musk melalui perusahaannya di Indonesia kembali berhembus. Namun, untuk kali ini perusahaan tersebut bukanlah Tesla, melainkan Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX) melalui anak usahanya yakni Starlink.

SpaceX sendiri merupakan perusahaan yang didirikan Musk, yang berfokus pada industri luar angkasa. Salah satu misi utama dari perusahaan itu adalah menjadi penyedia transportasi massal untuk menuju ke luar angkasa.

Adapun, rencana investasi SpaceX di Indonesia tampak dari paparan di Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada Senin, (19/7/2021).

Saat itu, Kemenkominfo melalui Direktorat Telekomunikasi menggelar kegiatan FGD jaring pendapat dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi untuk membahas rencana investasi SpaceX ke Indonesia.

Berdasarkan dokumen yang diterima Bisnis, acara FGD digelar pada Senin (19/7/2021) pukul 09.00 WIB.

Sejumlah asosiasi yang terlibat dalam acara tersebut antara lain Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), dan Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI).

Acara tersebut juga melibatkan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) dan Masyarakat Telematika Indonesia.

Sebagai salah satu peserta FGD, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Muhammad Arif menceritakan secara umum SpaceX melalui Starlink ingin masuk ke Indonesia sebagai penyedia telekomunikasi di Indonesia. SpaceX sedang mengurus beberapa perizinan, salah satunya adalah perihal hak labuh.

“Intinya Starlink ingin masuk Indonesia. Saat ini sedang mengurus hak labuh dan lain sebagainya, untuk beroperasi di Indonesia,” kata Arif kepada Bisnis Senin (19/7/2021).

Arif mengatakan FGD tersebut meminta masukan kepada sejumlah asosiasi mengenai rencana tersebut, mengingat hadirnya Starlink dengan satelit yang beroperasi di orbit rendah (low earth orbit satellite /LEO) akan membuat peta persaingan sedikit bisnis berubah.

Bisnis mencoba mengonfirmasi mengenai rencana investasi SpaceX di Indonesia kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate. Sayangnya, hingga berita ini diturunkan Johnny belum merespons.

Adapun, Arif menyatakan, perusahaan penyelenggara jaringan telekomunikasi  di Indonesia tidak keberatan dengan kehadiran SpaceX di Indonesia. Apjatel menilai layanan internet berbasis serat optik masih yang terbaik, sehingga tak dapat digantikan dengan internet satelit Starlink milik SpaceX.

Arif mengatakan Apjatel tidak mempermasalahkan kehadiran SpaceX di Indonesia selama memenuhi peraturan yang berlaku dan memiliki kesetaraan dalam berbisnis di Indonesia dengan para penyedia infrastruktur dan layanan telekomunikasi lainnya.

“Selama dia [SpaceX] mengikuti ketentuan maka tidak ada masalah,” katanya.

Persaingan Perusahaan Domestik

Arif mengatakan evolusi teknologi merupakan suatu keniscayaan. Kehadiran Starlink yang berisiko membuat persaingan pasar layanan internet tetap rumah menjadi makin ketat, tak dapat dihindari.

Kendati demikian, dia optimistis layanan internet rumah berbasis serat optik tetap akan tumbuh meski ada Starlink. Layanan internet rumah berbasis serat optik lebih andal dan minim gangguan jika dibandingkan dengan internet satelit.

“Sehebat-hebatnya satelit melawan kabel masih menang kabel karena tidak ada gangguan udara,” kata Arif.

Arif menilai Starlink dapat mempercepat upaya pemerintah dalam mendorong percepatan transformasi digital dan merdeka sinyal di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kualitas internet yang disuntikan dari satelit Starlink milik SpaceX, jauh lebih baik dibandingkan dengan satelit jenis high throughput satellites (HTS) atau satelit khusus internet.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, Starlink beroperasi di orbit rendah atau termasuk dalam kategori LEO.

Dengan beroperasi di orbit bawah, satelit ini mampu memberikan latensi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan satelit konvensional dan satelit khusus internet.

SpaceX mengeklaim latensi yang dihasilkan dari satelit ini sekitar 25 milidetik – 35 milidetik. Starlink juga mampu menghasilkan internet hingga 1Gbps.

Pada 2019, SpaceX telah meluncurkan 120 satelit ke orbit rendah. Komisi Komunikasi Federal US memberikan izin kepada SpaceX untuk menempatkan 42.000 satelit Starlink di orbit.

Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berharap kepada pemerintah untuk mewajibkan Starlink bekerja sama dengan penyedia jasa internet lokal, seandainya Starlink berinvestasi ke Indonesia.

Bisnis penyedia internet lokal bakal tergerus, jika Starlink diperbolehkan beroperasi sendiri atau langsung melayani pelanggan.

Ketua Umum APJII Jamalul Izza mengatakan pada intinya teknologi baru tidak dapat dibendung. Meski demikian, seyogianya masuknya teknologi baru dimaksimalkan untuk membuat ekosistem bisnis yang sudah ada makin berkembang. Salah satunya adalah bisnis penyedia jasa internet.

“APJII mengimbau pemerintah agar Starlink ini bisa diarahkan untuk bekerja sama dengan seluruh ISP yang ada,” kata Jamal.

Dia mengatakan dengan menjalin kerja sama, maka para penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP) yang saat ini jumlah mencapai 600 ISP, dapat makin mudah mendapatkan infrastruktur telekomunikasi untuk menggelar layanan.

Sumber: bisnis.com

Read More

Kata Luhut ke Tesla: Hey, You Need Us

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali angkat bicara terkait kelanjutan investasi Tesla Inc di Indonesia.

Luhut menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi dengan perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Luhut juga memastikan Tesla saat ini masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita ini bukan negara jelek. Beberapa malam yang lalu, Tesla masih mengejar kita, masih diskusi, semua masih berjalan dan berlanjut,” kata Luhut dikutip Kompas.com dari Kontan, Rabu (10/3/2021).

Luhut mengeklaim, Pemerintah Indonesia tidak akan bersikap meminta-minta ke pihak Tesla agar membangun pabrik di Indonesia.

Lebih lanjut Luhut mengatakan justru pihak Tesla yang lebih membutuhkan Indonesia.

“Itulah kenapa saya pikir mereka jangan begging-begging (memohon). Hey, you need us (Hai, kalian butuh kita). Kita juga butuh mereka. Jadi harus seimbang, jangan sampai kita ditempatkan posisi untuk meminta-minta,” ucap Luhut.

Luhut juga menyatakan publik tak perlu khawatir karena selama ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Tesla.

Meski, Luhut juga mengatakan tidak bisa menyampaikan secara mendetail bagaimana rencana investasti Tesla di Indonesia.

Hal ini terkait Indonesia yang masih memiliki non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla.

NDA merupakan perjanjian antar paihak untuk saling menjaga kerahasiaan informasi atau material tertentu yang tak boleh diketahui pihak lain.

Namun satu yang pasti, Luhut mengatakan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melihat potensi yang ada di Tanah Air.

Menurutnya, berbagai bahan baku mobil yang dibutuhkan Tesla seperti bauksit, nikel dan tembaga, semuanya dimiliki Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah terus mendorong untuk pengembangan industri pada industri hulu dan turunan dari mobil listrik yang salah satunya adalah baterai.

Diketahui pula, Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS).

Sederhananya, ESS ini seperti “power bank” dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan megawatt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Sumber: Kompas.TV

Read More

Strategi Elon Musk Atasi Kelangkaan Bahan Baku Baterai Lithium

NIKEL.CO.ID – Produsen mobil listrik milik Elon Musk, Tesla, Inc mulai mengalihkan fokusnya dalam pembuatan baterai lithium-ion ke katoda besi. Hal ini dikarenakan semakin menipisnya bahan baku untuk menciptakan baterai lithium-ion dalam skala besar, yaitu nikel.

Dilansir dari carscoops, Minggu (28/2/2021), Tesla sudah sesuai dengan Standard Range Model 3 buatan China dengan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP), yang diduga menjadi alasan mengapa harga Model 3 yang lebih murah dipangkas tahun lalu.

Dalam akun Twitter pribadinya, CEO Tesla Elon Musk menyebut bahwa pergeseran model-lebar menuju baterai LFP sudah di depan mata. Permintaan nikel, serta sumber daya terbatas lainnya yang digunakan dalam produksi baterai, seperti kobalt, mulai melebihi pasokan.

Kedua logam tersebut sebagian bertanggung jawab atas harga EV yang lebih tinggi daripada rekan ICE mereka. Menurut Bloomberg, mereka menyumbang sekitar 30% dari harga Tesla. Kesulitan menambang logam semacam itu, termasuk ketidakstabilan geopolitik di wilayah tempat mereka ditambang, telah membuat Tesla menjajaki kemungkinan alternatif.

Menurut Reuters, dalam sebuah panggilan investor tahun lalu, Musk telah meminta perusahaan pertambangan nikel untuk meningkatkan produksi sambil menawarkan kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama untuk nikel yang ditambang dengan cara yang efisien dan sensitif terhadap lingkungan.

Tesla dipandang memiliki strategi agresif terhadap produksi baterai. Komponen penting lainnya dalam baterai modern adalah litium, yang akan terus dibutuhkan dalam baterai LFP bebas nikel.

Financial Times melaporkan bahwa tahun lalu, pada hari baterai jarak sosial Tesla, Musk mengumumkan rencana untuk masuk ke penambangan lithium. Ini dilihat oleh banyak orang sebagai langkah untuk mengguncang dua produsen lithium, Livent dan Albemarle, beraksi.

Tesla berencana untuk memproduksi 20 juta mobil per tahun pada tahun 2030, dan untuk melakukannya akan membutuhkan lebih banyak lithium daripada yang ditambang. Output (di luar China) tidak dipandang sebagai peningkatan ke tingkat yang akan memenuhi tuntutan Tesla.

Peralihan ke baterai LFP bebas nikel juga merupakan salah satu tulang punggung utama di balik teknologi baterai “jutaan mil” mereka. Kemajuan seperti itu, yang sudah dipatenkan oleh Tesla, akan meningkatkan jumlah siklus pelepasan muatan dari 1000-1500 menjadi sekitar 4000. Untuk mobil yang diisi ulang setiap minggu, itu bisa melihat potensi masa pakai baterai 75 tahun.

Sumber: OkeZone.com

Read More

Tesla Siap Beri Kontrak Raksasa ke Produsen Nikel

NIKEL.CO.ID – CEO Tesla Elon Musk telah meminta pemasok Nikel untuk menambang lebih banyak logam bumi untuk produksi baterai kendaraan listriknya dan siap memberi kontrak “raksasa” jika memenuhi standard yang diminta.

Hal itu diungkapkan Elon Musk mengutip website Teslarati. Dalam upaya perusahaan untuk memenuhi peningkatan permintaan kendaraan, Tesla akan mengalihkan mobil Standard Range ke LFP, atau lithium baterai besi fosfat.

Sebelumnya, Elon Musk telah memberi tahu penambang Nikel untuk menambang lebih banyak logam. Menawarkan “kontrak raksasa” yang bernilai banyak uang, Musk siap meletakkan uangnya di mana mulutnya berada, mencari cara untuk beralih ke katoda Nikel dalam upaya untuk meningkatkan produksi sel.

“Baiklah, saya hanya ingin menekankan kembali, perusahaan pertambangan mana pun di luar sana, tolong menambang lebih banyak nikel, oke? Di mana pun Anda berada, tolong menambang lebih banyak nikel, dan jangan menunggu nikel kembali ke suatu masa – suatu titik tertinggi yang Anda alami sekitar lima tahun yang lalu atau apa pun. Lakukan efisiensi, sebagai penambangan nikel yang ramah lingkungan dengan volume tinggi. Tesla akan memberi Anda kontrak besar untuk jangka waktu yang lama jika Anda menambang nikel secara efisien dan dengan cara yang sensitif terhadap lingkungan. Jadi semoga, pesan ini sampai ke semua perusahaan pertambangan, ” kata Elon Musk dalam twitnya.

Tesla telah memproduksi Standard Range Model 3 di Amerika Serikat dengan katoda Nikel dalam sel baterai lithium-ionnya. Ini bisa berubah setelah Musk men-tweet bahwa ketersediaan Nikel bukanlah seperti yang diperkirakan oleh perusahaan.

Sementara sel berbasis nikel memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi, yang membantu mobil listrik meningkatkan peringkat jangkauannya, paket besi fosfat mampu menyimpan lebih sedikit energi. Mereka ideal untuk kendaraan Rentang Standar Tesla, di mana konsumen mengorbankan jangkauan dan kinerja untuk label harga yang lebih rendah.

Sementara itu, kendaraan SR Tesla masih layak untuk dibeli, bukan rahasia lagi bahwa orang lebih suka memiliki jangkauan yang lebih luas.

Masalahnya adalah Nikel tidak ditambang dalam jumlah yang cukup besar untuk mendukung tujuan Tesla untuk pindah ke katoda Nikel di semua mobilnya. Sebagai gantinya, ini akan menyimpan sel-sel ini untuk varian Long Range dan Performance kendaraan.

Musk juga mengatakan bahwa kendaraan Standard Range memiliki kemampuan untuk menahan “jarak 200… hampir 300 mil” dengan paket besi fosfat. Tampaknya ini cukup untuk kendaraan Rentang Standar Tesla, dan sejalan dengan yang dia katakan Juli lalu.

Sumber: Investor Daily

Read More