Antam Berencana Tingkatkan Kepemilikan Saham PT Weda Bay Nickel Jadi 40%

NIKEL.CO.ID – Emiten BUMN tambang mineral, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dikabarkan berencana menambah porsi kepemilikan saham pada PT Weda Bay Nickel menjadi 40% dari sebelumnya 10%.

Sejumlah sumber Bloomberg menyatakan rencana penambahan ini diprediksi mencapai US$ 300 juta atau setara dengan Rp 4,41 triliun.

Saat ini, perusahaan tambang asal Perancis, Eramet Group bersama perusahaan baja asal China, Tsingshan Holding Group Co menguasai 90% saham Weda Bay, dan sisa 10% dimiliki Antam. Situs resmi Eramet mencatat, dalam patungan itu, Eramet memiliki 43% saham, sementara Tsingshan memiliki 57%.

“Emiten tambang milik negara Indonesia Antam sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan kepemilikannya di Weda Bay Nickel, pemilik salah satu deposit mineral terbesar di dunia,” kata orang-orang yang mengetahui informasi tersebut, dikutip Bloomberg, Senin (26/10/2020).

“Antam juga menghubungi bank investasi untuk membahas potensi pembelian saham dari raksasa baja tahan karat China Tsingshan, salah satu pemegang proyek tersebut bersama Eramet SA Prancis,” kata sumber tersebut.

Situs Eramet mencatat, Weda Bay Nickel merupakan pemilik proyek pemurnian bijih nikel dengan teknologi pirometalurgi. Pabriknya berlokasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Weda Bay Nickel memulai operasi penambangannya pada Oktober 2019 dan memiliki sebanyak 9,3 juta ton konten nikel dan diharapkan menghasilkan 30.000 metrik ton per tahun mulai tahun depan.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2020, Antam memiliki beberapa entitas patungan di antaranya Weda Bay Nickel (10%), PT Antam Niterra Haltim (30%), PT Sorikmas Mining 25%, PT Galuh Cempaka 20%, PT Gorontalo Minerals 20%, dan PT Sumbawa Minerals 20%.

CNBC Indonesia sudah menghubungi SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko untuk meminta tanggapan. Dia menegaskan, berkaitan dengan informasi fakta material akan diinformasikan oleh Antam dengan melakukan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang ada bagi perusahaan terbuka.

“Pada prinsipnya, kami akan terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral ke hilir yang memberikan nilai tambah yang positif serta perluasan basis cadangan dan sumber daya,” katanya, Senin (26/10/2020).

“Hingga tahun 2019 tercatat posisi cadangan bijih nikel Antam sebesar 353,74 juta wmt (wet metrik ton) dengan sumber daya bijih nikel mencapai sebesar 1,36 miliar wmt.”

“Potensi cadangan dan sumberdaya mineral nikel tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan skala bisnis perusahaan melalui hilirisasi mineral nikel guna menciptakan nilai tambah produk nikel Antam serta meningkatkan kontribusi yang positif bagi negara dan masyarakat,” katanya.

“Perusahaan juga terbuka dalam menjalin kemitraan dengan partner strategis berdasarkan profitabilitas menguntungkan dalam mengembangkan proyek-proyek hilirisasi, baik nasional maupun internasional terutama mitra kerja yang memiliki akses terhadap teknologi dan pendanaan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang yang dimiliki perusahaan,” lanjut Kunto.

Dia menegaskan, Antam berfokus pada pengembangan bisnis untuk meningkatkan laba dan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) perusahaan, serta tetap berupaya menurunkan lebih lanjut cash cost, meningkatkan daya saing biaya, dan peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan revenue.

Di sisi lain, sumber Bloomberg menyatakan, negosiasi sedang dalam tahap awal dan belum ada keputusan akhir yang dibuat soal berapa banyak saham yang dapat didivestasi Tsingshan.

Seorang juru bicara Tsingshan juga tidak menanggapi panggilan dan pesan WeChat oleh Bloomberg pekan lalu.

Data perdagangan mencatat saham ANTM minus 0,46% di posisi Rp 1.080/saham pada Senin (26/10), pukul 11.06 WIB. Dalam 5 hari perdagangan terakhir, saham ANTM naik 2,37% dan sebulan terakhir melesat 49%.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Nickel Mines Australia Akan Membeli 70% Saham PT Angel Nickel Industry (ANI) Indonesia

NIKEL.CO.ID – Nickel Mines Ltd mengatakan akan membeli 70% saham dari PT Angel Nickel Industry (ANI) Indonesia seharga US$ 490 juta. Lewat kesepakatan ini, Nickel Mines berniat akan menggandakan produksi nikelnya dalam dua tahun.

Perusahaan Australia ini akan membeli saham Angle Nickel Industry dari unit Tsingshan Group, produsen baja tahan karat terbesar di dunia. Dalam pengumuman Jumat (16/10/2020), Nickel Mines akan membangun empat jalur tungku listrik tanur putar di Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Pulau Halmahera di provinsi Maluku Utara, Indonesia.

Dengan 70% saham, Nickel Mines menyatakan akan mendapatkan sekitar 25.200 ton produksi nickel pig iron per tahun dari total kapasitas produksi 36.000 ton.

Saham Nickel Mines melonjak 5,8% di awal perdagangan ke rekor tertinggi A$ 0,815 setelah pengumuman.

Nickel Mines telah membayar US$ 10 juta sebagai deposit kepada unit Tsingshan, Shanghai Decent Investment. Nickel Mines mengatakan sebagian besar nilai kesepakatan akan didanai melalui uang tunai, utang dan ekuitas.

Proyek IWIP adalah salah satu proyek yang telah dijadikan prioritas nasional oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pemrosesan nikel di dalam negeri setelah menghentikan ekspor bijih yang belum diolah.

Sumber: KONTAN

Read More

Setelah Divestasi Saham Vale, MIND ID Akan Fokus Ke Nikel Sebagai Core Business

NIKEL.CO.ID – Menteri Badan Usaha MIlik Negara (BUMN)  Erick Thohir mengatakan langkah perusahaan holding mineral Mining Industri Indonesia (MIND ID) menuntaskan transaksi pembelian 20 persen saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (PT VI) menjadi bagian penting dalam mengembangkan hilirisasi industri di sektor pertambangan.

“Ini juga langkah bagus untuk memperkuat value chain di Indonesia, serta pengembangan industri baterai untuk mobil listrik sebagai bagian proses transformasi sistem energi,” ujar Erick Thohir dalam keterangannya, Kamis, 8 Oktober 2020.

Erick menjelaskan, pembelian saham PT VI oleh MIND ID sudah sesuai dengan mandat BUMN untuk mengelola cadangan mineral strategis Indonesia dan hilirisasi industri pertambangan nasional. Khususnya, kata dia, terkait nikel domestik sehingga dapat menghasilkan produk lokal dengan nilai ekonomis.

Erick menargetkan nantinya produksi nikel bisa meningkat 4-5 kali lipat lebih besar dari produk hulu. Lebih lanjut, dengan menjadi pemegang saham terbesar kedua, MIND ID akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku industri hilir nikel Indonesia.

Cadangan ini termasuk untuk hilirisasi industri nikel menjadi stainless steel maupun menjadi baterai kendaraan listrik. Apalagi, Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel bahan baku utama EV Battery terbesar dunia yang menguasai 27 persen kebutuhan pasar global.

Vale Indonesia merupakan perusahaan yang dimiliki Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. (SMM) sebagai pemegang saham mayoritas. Dalam transaksi yang berlangsung pada Rabu, 7 Oktober, emiten VCL telah melepas sahamnya sebesar 14,9 persen dan SMM sebesar 5,1 persen seharga Rp 2.780 per lembar saham atau totap Rp 5,52 triliun.

Dengan selesainya transaksi ini, kepemilikan saham di PT VI berubah menjadi Vale Group 44,34 persen, MIND ID 20,00 persen, SMM 15,03 persen, Sumitomo Corporation 0,14 persen, dan publik 20,49 persen. Adapun transaksi ini merupakan langkah lanjutan setelah pada Juni lalu para pihak telah menandatangani perjanjian jual beli saham alias shares purchase agreement.

Adapun divestasi saham 20 persen merupakan kewajiban amandemen dari Kontrak Karya (KK) pada 2014 antara pemerintah dengan PT VI yang harus dilaksanakan lima tahun setelahnya. Berdasarkan perjanjian divestasi ini, KK PT VI akan berakhir pada 2025 dan dapat diubah atau diperpanjang menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sesuai peraturan perundang-undangan.

Sejak kebijakan ekspor nikel dilarang per 1 Januari 2020, MIND ID diminta melakukan inovasi dan restrukturisasi model bisnis dalam industri ini, sekaligus meningkatkan value chain dari nikel nusantara yang berlimpah.

MIND ID telah merancang pembangunan pabrik lithium-ion di dekat tambang nikel milik PT Antam di Tanjung Buli, Halmahera Timur dan di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Dengan pembangunan pabrik tersebut, Indonesia bisa berkompetisi di pasar EV Battery dunia yang kini 27,9 persen pasarnya dikuasai China.

Di samping itu, MIND ID juga akan fokus terhadap nikel sebagai core business. Perseroan bakal membangun ekosistem pengembangan industri jenis mineral untuk hilirisasi produk dalam negeri serta membuka peluang untuk bekerja sama dengan pihak lain.

Sumber: SWA.CO.ID

Read More