Staf Khusus Presiden Sebut Negara-negara di Global North Berkontribusi 92% Emisi Global

285
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arief Budimanta

NIKEL.CO.ID, 3 Oktober 2022-Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Dr. Arif Budimanta menyebut beberapa negara yang harus bertanggung jawab munculnya emisi global. Secara kumulatif, negara-negara di Global North telah memberikan kontribusi 92% dari emisi global.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arief Budimanta menyampaikan, dalam penjelasan tentang Ambang Batas Jejak Material Ton Per Kapita, sebuah studi mengungkap negara-negara berpenghasilan rendah mengkonsumsi suatu komoditas sebesar 2 ton per orang per tahun. Contohnya Kongo. Negara-negara berpenghasilan menengah-bawah, seperti Indonesia, mengkonsumsi sekitar 4 ton per orang per tahun. Sementara  negara-negara berpenghasilan menengah-atas, semisal China, mengkonsumsi sekitar 12 ton per orang per tahun.

“Adapun negara-negara berpenghasilan tinggi, misalnya Amerika Serikat, mengkonsumsi secara signifikan sekitar 28 ton per orang per tahun,” kata Arif Budimanta, dalam sebuah webinar, baru-baru ini.

Padahal, diutarakan dia, para ahli ekologi mengatakan bahwa tingkat jejak material yang berkelanjutan adalah sekitar 8 ton per orang. Negara-negara berpenghasilan tinggi melebihi batas ini hampir empat kali lipat.

“Jika semua negara mengkonsumsi seperti negara-negara kaya, kita akan membutuhkan empat  planet untuk memenuhi kebutuhan kita,” ujarnya.

Bukan hanya kejar-kejaran jumlah mengkonsumsi suatu komidatas. Namun, harus dipikirkan pula kelanjutan ketersediaan komoditas untuk dikonsumsi. Apalagi komoditas tersebut hanya bisa digunakan untuk sekali pakai. Contohnya pengunaan komoditas mineral logam nikel.  

Nikel saat ini tidak hanya digunakan sebagai bahan baku stainless steel, namun sudah dikembangkan untuk bahan baku baterai listrik. Pengembangan produk olahan nikel ini dalam upaya mendukung program pengurangan emisi global.

Arief Budimanta menyebutkan beberapa negara penghasil emisi global. Amerika Serikat adalah salah satu negara maju yang harus bertanggung jawab yang menghasilkan produk-produk beremisi. Negara ini menyumbang tidak kurang dari 40% emisi global. Kemudian, Uni Eropa bertanggung jawab atas 29% emisi global.

“Secara kumulatif, negara-negara di Global North, yang hanya mewakili 19% dari populasi global, telah memberikan kontribusi 92% dari emisi global. Namun, negara-negara di Global South yang berkontribusi sedikit untuk menyebabkan masalah ini menderita 82-92% dari semua biaya ekonomi dan kerusakan yang diakibatkan oleh kerusakan iklim. Mereka menderita 98-99% dari semua kematian terkait iklim. Dengan kata lain, hampir semua kematian terkait iklim terjadi di wilayah selatan global,” paparnya.

Dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam ini, menurut Arief Budimanta, bisa dikatakan dengan model kolonialisme model baru. Karena bisa dilihat dengan aliran materi-materi yang didasari dengan aliran modal (penanaman modal). Maka, Pemerintah Indonesia pada saat ini mendukung penuh masuknya aliran modal di Indonesia. Karena Indonesia menganut devisa bebas, tetapi pada sisi lain dimanfaatkan untuk menjadi devisa pada sisi publik.

“Mengapa kita harus menghasilkan devisa negeri di dalam devisa yang masuk ataupun aliran modal? Yang pasti, aliran devisa yang masuk harus dipastikan menghasilkan devisa untuk kepentingan dalam negeri,” jelasnya.

Dipaparkan, masuknya investasi dari luar itu, harus memberikan multiplier effect, seperti  penciptaan lapangan kerja, aspek stabilitas ekonomi, dan stabilitas nilai tukar rupiah, karena Indonesia memiliki kemampuan devisa untuk menahan kemungkinan intervensi terhadap nilai tukar dolar AS. Kondisi ini disebabkan beberapa hal, seperti kenaikan suku bunga, inflasi yang tinggi di Amerika, yang akan berpengaruh naiknya harga-harga barang di Indonesia.

“Namun, tentu kita tidak akan bergantung pada hal tersebut. Maka dari itu, kita harus mengelola sumber daya energi dari komoditas lain, tidak hanya bergantung pada minyak semata. Banyak energi yang diperbarukan seperti batu bara, gas bumi, matahari, dan sebagainya,” kata Arief Budimanta. (Fia/Syarif)