Setyo Wasisto Titip Tiga Pesan Transformasi Nilai untuk Peserta ToT APNI

174

NIKEL.CO.ID, 11 November 2022 – Ketua Dewan Pengawas APNI, Komisaris Jenderal Pol. (P) Drs. Setyo Wasisto, S.H., menyampaikan tiga pesan transformasi nilai untuk para peserta Training of Trainers Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Mineral Nikel sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke daerahnya masing-masing ketika melaksanakan aktivitas usaha pengelolaan dan pengolahan nikel.

Hal itu disampaikan Komjen Pol. (P). Drs. Setyo Wasisto saat menutup ToT Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Mineral Nikel yang dilaksanakan APNI sejak 7 November hingga 9 November 2022 di Hotel Grand Sahid Jakarta. Ia menyampaikan pesan transformasi nilai, yaitu spiritual, nasionalisme, dan nilai sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

“Semoga ini menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Yang pertama adalah transformasi nilai atau values. Transformasi nilai ini ada tiga hal,” kata Setyo Wasisto.

Menurutnya, nilai pertama adalah spiritual. Nilai spiritual ini harus disadari bahwa kekayaan sumber daya alam berupa nikel berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga harus benar-benar dikelola dengan baik dan benar serta bermanfaat dan bertanggung jawab.

“Nilai spiritual ini kita paham bahwa nikel yang kita kelola, kita tambang adalah ciptaan Tuhan dan harus kita pahami betul bahwa dengan kekuasaan Tuhan semuanya bisa terjadi. Ini harus disadari betul,” ujarnya.

Selain itu, pesan kedua yang disampaikan Setyo adalah transformasi nasionalisme. Menurutnya transformasi nasionalisme yaitu mencintai Tanah Air, bangsa dan negara serta mematuhi kebijakan pemerintah yang memperkuat nasionalisme. Seperti kebijakan larangan ekspor nikel untuk melaksanakan hilirisasi industri nikel, sehingga menghasilkan manfaat yang lebih besar untuk peningkatan pendapatan negara.

“Ketika Bapak Presiden mengatakan tidak boleh ekspor, maka itulah kita harus dukung dengan sepenuh hati, karena ini adalah untuk bangsa dan negara kita. Kita tidak mau momentum nikel ini akan sama halnya dengan ketika kita booming minyak,” tuturnya.

Setyo mengutarakan, beberapa tahun lalu Indonesia adalah negara pengekspor minyak. Namun sekarang telah menjadi negara pengimpor minyak. Jangan sampai momentum nikel ini seperti perdagangan kayu yang dikuasai oleh Singapura.

Indonesia dikalahkan oleh Singapura dalam perdagangan kayu dan Singapura selama ini telah menjadi negara eksportir kayu. Padahal di Singapura tidak memiliki hutan dan luas wilayahnya kecil. Sedangkan Indonesia dengan luas wilayah hutan yang begitu besar tidak mampu memanfaatkan momentum tersebut untuk menjadi negara terbesar eksportir kayu.

“Kita kalah dengan singapura yang menjadi eksportir kayu. Coba saudara lihat di Singapura ada hutan di mana? Tapi kayunya besar-besar dan itu adalah kayu Spanyol (separuh nyolong),” imbuhya.

Berdasarkan pengalaman Setyo yang pernah bertugas sebagai Atase Kepolisian di Malaysia selama dua setengah tahun, dia mengungkapkan bahwa kayu-kayu yang diperdagangkan Singapura maupun Malaysia itu berasal dari Indonesia.

“Kayu-kayunya dari Indonesia ke Singapura ke Malaysia diterima dengan baik, welcome, langsung dikasih surat. Kayunya dari Indonesia tapi surat-suratnya dari Malaysia, dari Singapura, dan kita hanya gigit jari, kita nggak dapat apa-apa,” ungkapnya.

Selanjutnya, Setyo menerangkan bahwa transformasi nilai yang ketiga adalah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal ini berkaitan dengan momentum nikel saat ini yang menjadi primadona komoditi internasional. Berbagai negara-negara industri maju berbondong-bondong menanamkan investasinya di pertambangan nikel maupun smelter.

“Oleh sebab itu momentum nikel ini kita harus menjadi tuan rumah, kita harus menjadi raja, kita harus menjadi kekuatan yang luar biasa manakala kita bersama dan bersatu. Itu yang kita harapkan,” terangnya.

Terakhir Setyo menegaskan bahwa sebagai Ketua Dewan Pengawas APNI, dia berharap agar tetap terjalin komunikasi yang baik dan mampu mengembangkan jaringan bisnis yang luas.

“Oleh sebab itu APNI akan mendorong terus komunikasi, mendorong kita untuk meningkatkan network (jejaring) sesuai dengan jargon-jargon yang kita sampaikan tadi,” Setyo mengakhir sambutan penutupan ToT. (Shiddiq)