Beranda Berita Nasional Raden Sukhyar: Industri Hilir Harus Lebih Jauh ke Hilir, Feronikel Itu Cerita...

Raden Sukhyar: Industri Hilir Harus Lebih Jauh ke Hilir, Feronikel Itu Cerita Lama

216
0
Founder IM2I, Dr. Raden Sukhyar. Foto: Nikel.co.id

NIKEL.CO.ID,23 Januari 2023-Founder Indonesia Institue for Mineral and Metal Industry (IM2I), Dr. Raden Sukhyar berpandangan, industri hilir pertambangan di Indonesia harus terus berjalan dan harus lebih jauh ke hilir. Jangan hanya puas memproduksi barang setengah jadi, kemudian diekspor.

Founder IM2I, Dr. Raden Sukhyar mengatakan, peran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjadi penting dalam menentukan industri strategis, yang akan menarik atau mengaktivasi industri tambang hilir. Kemenperin bisa  membuat kesepahaman dengan kementerian terkait, di antaranya Kemenko Marves, Kementerian Investasi/BKPM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian ESDM dalam menentukan industri strategis di sektor pertambangan.

Raden Sukhyar yang terakhir menjabat Dirjen Minerba pada 2015 mencontohkan produk olahan nikel dari industri hilirisasi perlu dibuat kebijakan strategis. Tidak hanya berhenti pada olahan dari nikel ore kadar tinggi atau saprolit menjadi Nikel Pig Iron (NPI), feronikel (FeNi) sebagai bahan baku stainless steel. Atau nikel kadar rendah (limonit) diolah industri hilir menjadi MHP dan nikel sulfat, tapi diolah hingga produk lebih hilir lagi menjadi prekursor hingga  komponen baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Begitu pun untuk komoditas mineral logam bauksit, tak hanya diolah industri hilir menjadi alumina, tapi sampai komponen body mobil.

“Jadi, jika kita bicara EV lengkap semua dari unsur logam mineral. Semua bahan bakunya ada di Indonesia. Itulah esensinya,” kata Raden Sukhyar ketika dihubungi Nikel.co.id via telepon.

Menurut pria yang mengabdi sebagai birokrat di Kementerian ESDM sejak 1981, jika komoditas mineral logam diolah menjadi barang setengah jadi,  itu hanya sebagian kecil dari hilirisasi. Tidak memberikan manfaat yang besar untuk negara.

“Jika dari nikel ore diolah menjadi  FeNi atau MHP, sejak 1970-an sudah dilakukan seperti itu,” ujarnya.

Ia menekankan, bagi negara yang mempunyai keunggulan komparatif terbesar di dunia untuk komoditas nikel, harusnya negara mengolah nikel ore menjadi barang jadi yang bervariasi. Karena, apapun bentuk olahan dari nikel akan dikejar dunia.

Selain itu, bukan jangan pula lantaran sedang digembar gemborkan program industri hilir, untuk memproses bijih nikel lalu kita berbondong-bondong impor barang modal untuk teknologi pengolahan bijih nikel.

“Harusnya, teknologi untuk memproses nikel dibuat juga di dalam negeri. Di negara lain, contohnya Afrika Selatan, Chili, mereka membuat mesin sendiri untuk mengolah barang tambangnya,” saran peraih penghargaan Bintang Jasa Utama dan Medali Kehormatan Satyalencana Wira Karya dari Presiden RI.

Indonesia, diutarakan Raden Sukhyar,  jangan kehilangan opportunity, sehingga semua perangkat  industri hilir diimpor.

“Teknologinya impor, barangnya pun diolah setengah jadi, kemudian diekspor, dan masuk lagi ke Indonesia dalam bentuk barang jadi. Jangan seperti itu!,” Raden Sukhyar menegaskan.

Ia menuturkan, sejak ada larangan ekspor bijih nikel, smelter lebih banyak memproduksi feronikel yang ujungnya adalah stainless steel. Pun industri hilir dominan mengolah saprolit, bagaimana limonit? Karena itu, menurutnya,  sangat tepat untuk membatasi pembangunan smelter pirometalurgi. Pemerintah harus sudah mengarahkan berdirinya smelter hidrometalurgi  untuk memaksimalkan limonit menjadi MHP, nikel sulfat, prekursor, hingga baterai listrik.  

“Pemerintah harus segera membatasi jumlah smelter pirometalurgi. Yang berkompeten pembatasan smelter pirometalurgi adalah Kementerian ESDM, bukan Kementerian Investasi/BKPM. Karena yang mempunyai kebijakan mineral dan batu bara adalah Kementerian ESDM. Kalaupun ada smelter pirometalurgi salah satunya menggunakan nikel kadar rendah, misalnya di bawah kadar 1,6%. Ini kan masalah keekonomian saja,” paparnya.

Mantan Komisaris PT Timah Tbk dan Komisaris PT Pertamina Geothermal Energy ini kembali menegaskan, umumnya produk olahan dari industri hilir berupa barang setengah jadi dari nikel diekspor. Karena itu, perlu juga para pengusaha mengundang investor  atau produsen lithium di luar negeri dibawa ke Indonesia untuk membangun baterai lithium di Indonesia. Karena moment-nya tepat, nikel sebagai bahan baku dasar baterai.

Someday, jika nikel sudah diganti dengan komoditas lain, beda lagi ceritanya,” tukasnya.

Sepengetahuannya, industri baterai di Indonesia baru menggaung sejak delapan tahun terakhir ini. Jika bicara stainless steel, itu cerita puluhan tahun lalu dan kebutuhannya tinggi. Sekarang, ketika ada kebutuhan untuk baterai EV, perlu ada kebijakan meningkatkan jumlah industri hilir hidrometalurgi.

Ia mengakui, meskipun dari sisi bisnis yang cepat, investor lebih tertarik membangun industri hilir berteknologi pirometalurgi, namun tidak membuat keengganan investor yang sama atau yang lain menginvestasikan ke smelter hidrometalurgi.

“Di China, NPI dan FeNi sudah dicoba untuk diubah menjadi bahan baku baterai listrik. Jadi, dari feronikel diolah menjadi nikel matte, kemudian diolah menjadi nikel sulfat untuk prekursor baterai listrik,” kata Raden Sukhyar. (Syarif).

Artikulli paraprakKolaborasi BASF dan Eramet Bangun Bisnis EV di Maluku Utara
Artikulli tjetërDirektur PUSHEP: Kondisi Ilegal Mining Sudah Emergency, Perlu Perppu Tekan Ilegal Mining