Presiden Jokowi: Indonesia Produsen Kunci Rantai Pasok Baterai Litium Global

154
Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-77 Kemerdekaan RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang bersama DPR-DPR-DPD di Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2022). Foto: Dok. Republika

NIKEL.CO.ID, 18 Agustus 2022-Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa saat ini Indonesia telah menjadi negara produsen utama dalam rantai pasok baterai lithium global. Sumber daya alam Indonesia, salah satunya nikel merupakan salah satu kekuatan pendukung menjadi negara maju.

Presiden Jokowi mengutarakan tantangan yang hadapi Indonesia saat ini sangat berat. Semua negara di seluruh dunia sedang menghadapi ujian Krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 belum sepenuhnya pulih. Perekonomian dunia juga belum sepenuhnya bangkit. Tiba-tiba meletus perang di Ukraina, sehingga krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan tidak terhindarkan lagi.

“Kita tahu 107 negara terdampak krisis, dan sebagian di antaranya diperkirakan akan jatuh bangkrut. Diperkirakan 553 juta jiwa terancam kemiskinan ekstrem, dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan dan kelaparan,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-77 Kemerdekaan RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang bersama DPR-DPR-DPD di Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2022).

Namun, di tengah tantangan yang berat, kata Presiden Jokowi, kita patut bersyukur, Indonesia termasuk negara yang mampu menghadapi krisis global ini. Negara Indonesia termasuk negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19, termasuk lima besar negara dengan vaksinasi terbanyak di dunia, yaitu 432 juta dosis vaksin yang telah kita suntikkan.

Inflasi juga berhasil dikendalikan di kisaran 4,9 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7 persen. Jauh di bawah inflasi negara-negara maju yang berada di sekitar 9 persen. Bahkan, sampai pertengahan tahun 2022 ini, APBN juga surplus Rp106 triliun.

Oleh karena itu, pemerintah mampu memberikan subsidi BBM, subsidi LPG, dan subsidi listrik, sebesar Rp 502 triliun di tahun 2022 ini, agar harga BBM di masyarakat tidak melambung tinggi.

Selain itu, ekonomi berhasil tumbuh positif di 5,44 persen pada kuartal II tahun 2022. Neraca perdagangan juga surplus selama 27 bulan berturut-turut, dan di semester I tahun 2022 ini surplusnya sekitar Rp 364 triliun.

Capaian tersebut, Presiden Jokowi mengutarakan, patut kita syukuri. Fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat baik di tengah ekonomi dunia yang sedang bergolak. Di satu sisi, kita memang harus tetap waspada dan harus tetap hati-hati. Namun di sisi lain, agenda-agenda besar bangsa harus terus kita lanjutkan untuk meraih Indonesia Maju. Jika Indonesia mampu mengelola pandemi dengan baik, Insya Allah mampu mengelola agenda-agenda besar lainnya dengan baik pula.

“Inilah kekuatan pertama kita untuk membangun Indonesia” kata Presiden Jokowi .

Kekuatan SDA Indonesia

Presiden Jokowi menyebutkan bahwa kekuatan kedua Indonesia adalah sumber daya alam yang melimpah. Wilayah yang luas dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia pasti menjadi kekuatan besar Indonesia jika kita kelola secara bijak dan berkelanjutan.

Syaratnya satu, Presiden Jokowi menekankan, harus dihilirkan dan diindustrialisasikan di dalam negeri, agar nilai tambahnya bisa maksimal untuk kepentingan nasional. Hal ini akan membuka lapangan kerja, meningkatkan ekspor, menghasilkan devisa, meningkatkan pendapatan negara, serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Kekuatan ketiga Indonesia adalah bonus demografi. Jumlah penduduk yang sangat besar, dan didominasi oleh anak-anak muda usia produktif, serta daya beli masyarakat yang terus meningkat, akan menjadi motor penggerak ekonomi nasional dalam menghadapi kompetisi global.

Kekuatan keempat adalah kepercayaan internasional yang meningkat tajam. Indonesia diterima oleh Rusia dan juga diterima Ukraina sebagai jembatan perdamaian. Diterima negara-negara besar, walau pun geopolitik sedang panas.

Indonesia juga dipercaya PBB sebagai Champions dari Global Crisis Response Group untuk penanganan krisis global baik krisis pangan, krisis energi maupun krisis keuangan. Tahun ini, Indonesia menjadi Presiden G20, organisasi 20 negara ekonomi terbesar di dunia. Tahun depan, Indonesia juga menjadi Ketua ASEAN.

“Artinya, kita berada di puncak kepemimpinan global dan memperoleh kesempatan besar untuk membangun kerja sama internasional,” jelasnya.

Kepercayaan besar dari masyarakat internasional ini juga bisa dirasakan di dalam negeri. Reformasi struktural untuk daya saing dan iklim berusaha terus dilakukan. Ekosistem investasi dan pertumbuhan UMKM terus diperbaiki. Hilirisasi dan manufaktur di dalam negeri terus tumbuh pesat.

“Pertumbuhan investasi juga meningkat tajam, di mana saat ini 52 persen di antaranya sudah berada di Luar Jawa. Artinya, ekonomi kita bukan hanya tumbuh pesat, tetapi juga tumbuh merata, menuju pembangunan yang Indonesia sentris,” tuturnya.

Menurut Presiden Jokowi, dengan kekuatan dan peluang besar tersebut, Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk membangun Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Pertama, hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam harus terus dilakukan.

“Hilirisasi nikel, misalnya, telah meningkatkan ekspor besi baja 18 kali lipat. Saya ingat di tahun 2014, hanya sekitar Rp 16 triliun, tapi di tahun 2021 kemarin meningkat menjadi Rp 306 triliun karena sudah diekspor dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi. Di akhir tahun 2022 ini, kita harapkan sudah bisa mencapai Rp 440 triliun. Itu hanya dari nikel. Sekali lagi, itu hanya dari nikel,” paparnya.

Selain penerimaan pajak, devisa negara juga naik, sehingga kurs rupiah lebih stabil. Sekarang ini, Indonesia telah menjadi produsen kunci dalam rantai pasok baterai litium global. Produsen mobil listrik dari Asia, Eropa, dan Amerika ikut berinvestasi di Indonesia.

Setelah nikel, disampaikan Presiden Jokowi, Pemerintah Indonesia juga akan terus mendorong hilirisasi bauksit, hilirisasi tembaga, dan hilirisasi timah. Dan Indonesia harus berani membangun ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi, yang akan mendukung pengembangan ekosistem ekonomi hijau dunia.Dalam pidato kenegaraan, Presiden Jokowi juga menyampaikan program pemerintah lainnya, seperti ketahanan pangan, farmasi, energi, hukum, sosial, politik, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. (SBH)