Beranda Berita Nasional Kolaborasi BASF dan Eramet Bangun Bisnis EV di Maluku Utara

Kolaborasi BASF dan Eramet Bangun Bisnis EV di Maluku Utara

275
0
Proses barging: Kendaraan truk melakukan aktivitas pengangkutan ore nikel ke kapal tongkang.

NIKEL.CO.ID, 20 Januari 2023—BASF Perusahaan (Jerman) dan Eramet perusahaan (Prancis), saat ini tengah meyelesaikan kesepakatan terkait investasi senilai US$ 2,6 miliar atau setara Rp 39 triliun untuk fasilitas smelter nikel di Indonesia yang akan digunakan dalam produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Sebelumnya BASF, juga diketahui akan merealisasikan investasi permunian nikel pengelola menjadi prekursor baterai listrik di Maluku Utara. Rencana produk investasi tersebut akan digunakan untuk keperluan pengembangan kendaraan listrik nasional.

Hal ini tentunya adanya dukungan penuh dari Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia, pada pertemuan langsung dengan Chief Executive Ofifice BASF.

“Saya mendukung penuh rencana investasi BASF di Indonesia khususnya dalam mendukung pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik,” kata Bahlil melalui keterangan tertulis, Selasa malam (17/1).

Diketahui juga pengumuman ini muncul saat Indonesia telah mendekati perusahaan global dengan tujuan untuk membangun fasilitas produksi baterai kendaraan listrik dan mobil tentunya dengan mengeksploitasi sumber daya nikel.

Bahlil juga mengatakan bahwa investasi tersebut sejalan dengan cita-cita pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pemain kendaraan listrik kelas dunia.

Pabrik pemurnian tersebut akan didirikan di Maluku Utara di mana menjadi lokasi sumber bahan baku nikel.

“Investasi pada proyek ini bernilai 2,4 miliar Euro (US$ 2,59 miliar),” ungkap Kementerian Investasi, mengutip Kepala Eksekutif BASF, Martin Brudermuller.

“Kami ingin menyampaikan bahwa kesepakatan kami dengan Eramet sedang dalam tahap akhir. Keputusannya kemungkinan pada paruh pertama tahun 2023,” jelasnya.

Diketahui pula proyek ini akan dikembangkan di Weda Bay, Indonesia dengan tujuan untuk memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) dari nikel melalui pabrik dengan teknologi high pressure acid leach (HPAL). MHP digunakan dalam baterai kendaraan listrik.

Menurut Bahlil, rencana investasi BASF dan Eramet sejalan dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain kendaraan listrik kelas dunia. Indonesia juga telah menyelesaikan perjanjian dengan BYD Group (Tiongkok) dan Tesla untuk berinvestasi di fasilitas produksi kendaraan listrik.

Sementara itu, Eramet berencana membangun pabrik baru yang ditargetkan mulai berproduksi pada awal 2026. Kapasitas produksinya hingga 67.000 ton nikel dan sekitar 7.000 ton kobalt per tahun.

Sekilas Eramet
Informasi yang diterima Nikel.co.id dari Public Affair Manager Eramet, Rian Gumilang, Eramet merupakan perusahaan pertambangan dan metalurgi mutinasional Prancis. Eramet telah hadir di Indonesia selama lebih dari 17 tahun melalui partisipasinya di PT Weda Bay Nickel, Halmahera, Maluku Utara.

Kegiatan Eramet di Indonesia terutama produksi nikel dan feronikel dengan PT Weda Bay Nickel (Eramet adalah pemegang saham 43% dan Tsingshan 57% di Strands Mineral. Strands Mineral memiliki 90% dan PT Antam 10% dari PT Weda Bay Nickel).

Eramet mengawasi operasi penambangan tambang Weda Bay Nickel, sedangkan Tsingshan mengoperasikan pabrik, serta infrastruktur yang diperlukan untuk produksi.

Sumber daya deposit Weda Bay Nickel saat ini tercatat sebesar 12,2 juta ton nikel (rata-rata kandungan nikel 1,48%). Sebagian darinya adalah limonit, produk yang sangat sesuai dengan perkembangan Eramet di wilayah tersebut.

Karena Eramet yakin akan potensi Indonesia, Grup bermitra dengan BASF, produsen industri besar yang berbasis di Jerman, untuk merencanakan pengembangan kompleks HPAL di daerah tersebut. BASF akan mengolah nikel dan kobalt yang merupakan bahan penting untuk pembuatan baterai dalam kendaraan listrik.

Di luar itu, Eramet terus menggali potensi lebih jauh dengan mengeksplorasi bahan galian yang ada di nusantara sehingga dapat lebih mengedepankan keahliannya untuk membantu memenuhi tujuan strategis Indonesia di industri pertambangan maupun tujuan Eramet, yaitu menjadi juara yang bertanggung jawab di bidang pertambangan era baru logam.

Eramet sangat percaya bahwa korporat memiliki peran untuk dimainkan dalam transisi energi, dengan memenuhi permintaan akan sumber daya vital untuk pembangunan. Karena itu, Eramet telah memposisikan diri secara strategis dan berjuang untuk transformasi sumber daya mineral Bumi yang bertanggung jawab, untuk hidup bersama dengan baik.

Eramet mematuhi Praktik Terbaik Penambangan Bertanggung Jawab dan tambangnya siap untuk diaudit di bawah standar IRMA. (Fia/Syarif)

Artikulli paraprakWacana Indonesia Nickel Price Index Makin Menguat
Artikulli tjetërRaden Sukhyar: Industri Hilir Harus Lebih Jauh ke Hilir, Feronikel Itu Cerita Lama