Hari Pertambangan Ke 76, Penambang Nikel Siap Sukseskan Program Net zero Emission (NZE)

263

NIKEL.CO.ID – Selaku pelaku hulu tambang nikel asosiasi penambang nikel berharap pemerintah memperhatikan dan memperbaiki tata kelola hulu ke hilir sektor nikel.

Hal tersebut dikatakan Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia APNI Meidy Katrin Lengkey pada webinar dijakarta Selasa (28/9/2021).

“pemerintah betul-betul mendorong kegiatan hulu itu harus diperbaiki dulu baik proses pengembangan baik tata kelolanya karena seperti yang saya bilang diawal tadi industri hilir itu agar berjalan sempurna tanpa ada industri hulu.” Ujarnya

Menurut Meidy ,  asosiasi penambangan nikel indonesia hanyalah pelaku hulu yang menyediakan bahan baku yang telah melakukan investasi besar besaran menyambut undang undang energi.

“hanya pelaku hulu kami ini hanya penambang yang menyediakan bahan baku utama untuk proses menuju steal and steal and than cupbatrai.” Imbuhnya .

Menurut Meidy apa yang telah dilakukan penambang nikel sebagai upaya besar meninggalkan industri fosil yang artinya kita telah memasuki erabaru yang menggunakan baterai dimana nikel merupakan bahan bakunya

” Kalau kita berbicara nikel apa sih keunggulanya jika baterai itu menggunakan bahan unsur utamanya nikel 1. Longlife 2. Lebih evesien ” paparnya.

Meidy mengungkapkan hingga saat ini kendala besar yang dihadapi pihaknya yang menjadi Pekerjaan Rumah bagi asosiasi penambang adalah masih amburadulnya terkait kegiatan pertambangan nikel yang seharusnya terpadu.

“tentu juga dukungan yang membuat pemerintah indonesia bagaimana kita indonesia dicadangkan sebagai pemegang cadangan terbesar di indonesia nikel dunia 23,7 persen nikel itu berada diindonesia” pungkasnya.

Sebelumnya , Menteri Energi Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam sambutan di hari jadi pertambangan ke 76 mengatakan

Kebijakan pemanfaatan mineral diarahkan untuk peningkatan nilai tambah terutama nikel sebagai salah satu material pendukung baterai kendaraan listrik.

Adapun di bidang ketenagalistrikan, pemerataan akses listrik masih menjadi fokus utama Kementerian ESDM.

“Saat ini, rasio elektrifikasi telah mencapai 99,4 persen. Tahun depan, ditargetkan seluruh rumah tangga telah teraliri listrik 100 persen,” kata Menteri Arifin.

Kementerian ESDM juga telah menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN), yang diharapkan mampu membuahkan solusi untuk tantangan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“GSEN diharapkan mampu menjadi jawaban dari tantangan yang saat ini dihadapi, antara lain keterbatasan pengembangan energi baru terbarukan dan tuntutan pembangunan infrastruktur yang lebih masif serta tepat guna,” kata Menteri Arifin.

Dokumen itu telah memetakan rencana untuk menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan sebesar 38 GW sampai 2035.

Penambahan kapasitas pembangkit itu melalui upaya percepatan substitusi energi primer, konversi energi primer fosil, penambahan kapasitas energi baru terbarukan dan pemanfaatan energi hijau nonlistrik atau non-BBN.

“Untuk mencapai target tersebut pemerintah memprioritaskan pengembangan energi surya karena biaya investasi yang semakin rendah dan waktu pelaksanaan yang semakin singkat,” ujar Menteri Arifin.

Program-program tersebut, lanjutnya, mendukung target transformasi energi menuju net zero emission (NZE), yang menjadi komitmen bersama untuk dicapai paling lambat pada 2060 atau bisa lebih cepat lagi dengan bantuan internasional.

Pemilihan teknologi menjadi pertimbangan utama guna memastikan ketersediaan, kemudahan, keterjangkauan, keberlangsungan dan daya saing untuk mencapai kemandirian energi, ketahanan energi, pengembangan berkelanjutan, serta ketahanan iklim dan rendah karbon. ( Dikutip dari Antara).