Harga Nikel di Shanghai dan LME Turun Dipicu Lemahnya Permintaan dari China

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga di bursa Shanghai turun pada Selasa (8/6). Tertekan kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan lemahnya permintaan konsumen utama China.

Melansir Reuters pukul 12.14 WIB, harga kontrak tembaga Juli yang paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange turun 0,3% menjadi 71.450 yuan ($11.176.81) per metrik ton pada 0449 GMT. Sementara tembaga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange naik tipis 0,1% menjadi US$ 9.910.50 per metrik ton.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, rencana anggaran baru Presiden Joe Biden senilai US$ 4 triliun akan baik bahkan jika itu berkontribusi pada kenaikan inflasi dan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi, Bloomberg News melaporkan.

“Data di Amerika Serikat mulai mengarah ke inflasi dan Janet Yellen telah membuat komentar … yang terdengar seperti kasus melunakkan semua orang untuk apa yang berpotensi datang,” kata Malcolm Freeman, direktur broker Kingdom Futures di sebuah catatan.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi jumlah uang beredar dan berpotensi mendorong investor untuk menarik diri dari aset berisiko seperti logam.

Sementara itu, premi tembaga Yangshan terakhir berada di US$ 28 per ton, berada di sekitar level terendah sejak Februari 2016 dan turun 75% dibandingkan Mei 2020, menunjukkan melemahnya permintaan impor logam ke China.

Impor tembaga China turun 8% di bulan Mei dari bulan sebelumnya, rekor harga tertinggi semakin mengikis minat beli di negara tersebut.

Di tempat lain, harga nikel LME turun 0,3% menjadi US $17.835 per metrik ton, seng naik 0,2% menjadi US$ 3.005,50 per ton dan timah naik 1,3% menjadi US$ 30.935 per metrik ton.

Harga aluminium ShFE turun 0,7% menjadi 18.340 yuan per metrik ton, nikel turun 1% menjadi 130.320 yuan per metrik ton dan timbal naik 0,4% menjadi 15.045 yuan per metrik ton.

Sumber: KONTAN