Farisatul Amanah: Perencanaan, Poin Penting Reklamasi dan Pascatambang

182
Farisatul Amanah, S.T., M.Si. (Foto: MNI)

NIKEL.CO.ID, 13 SEPTEMBER 2022—Persoalan mendasar dan sesegera mungkin harus dilakukan dalam proses pertambangan adalah reklamasi dan pascatambang. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

Materi penting yang disajikan dalam Training of Trainers APNI, di Hotel Novotel Jakarta Gajah Mada, Selasa (13/9/2022), adalah perencanaan atau pelaksanaan reklamasi dan pascatambang, yang disajikan oleh Farisatul Amanah, S.T., M.Si., seorang Inspektur Pertambangan Kementerian ESDM.

Farisatul mengungkapkan, poin penting yang harus diperhatikan pelaku usaha pertambangan untuk mencapai keberhasilan reklamasi pascatambang yang pertama adalah perencanaannya. Kriteria keberhasilan bukan hanya menjelaskan atau mencapai kualitasnya, tapi kuantitasnya juga.

“Jadi, luas yang sudah direncanakan harus dicapai tidak boleh kurang. Kalau kurang , nantinya menjadi utang. Kedua adalah jenis tanah. Hal ini menyangkut pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan jenis tanahnya. Tanaman apa saja yang bisa hidup di tanah tersebut,” ujar insinyur pertambangan lulusan Universitas Indonesia itu.

Kemudian, katanya menambahkan, treatment-treatment dalam pelaksanaan reklamasi juga pemantauannya seperti apa. Jikalau, misalnya, nanti ada kegagalan, maka perusahaan harus cepat melakukan tindakan yang mendukung sehingga proses reklamasi dapat berhasil, tidak molor sampai bertahun-tahun.

Magister teknik lingkungan itu mengatakan, perencanaan reklamasi harus memperhatikan luasnya lahan yang akan direklamasi. Kadang-kadang perencanaannya asal-asalan sehingga reklamasi menemui kegagalan.

“Kemudian untuk kualitas treatment atau perawatan harus diperhatikan betul. Akibatnya, tanamannya tidak tumbuh dan merana. Bisa saja terjadi karena terbatasnya personel sehingga tenaga perawatannya melakukannnya dengan terburu-buru. Kan mereka itu harus melakukan penyiangan, kemudian harus melakukan  pemupukan lagi. kalau ada yang mati, maka harus disulam,” paparnya.

Jadi, katanya menegaskan, sebenarnya dukungan untuk kegiatan perawatan ini cukup besar justru daripada penanaman awal. Dukungannya harus lebih banyak. Kalau, misalnya, ada erosi, bisa juga longsor karena tidak stabil. Jadi, hal-hal itu yang harus diperhatikan betul.

“Ada juga reklamasi sudah  lima tahun ternyata longsor. Jadi, sangat sia-sia. Maka ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelum ke penanaman. Lahan harus sudah stabil, baru kita melakukan penanaman agar bisa mencapai keberhasilan yang baik,” katanya menutup perbincangan. (Syalom/RDj)