Estimasi TCO antara Motor Listrik dengan Berbasis BBM

290
Kepala Pemasaran Motor Gesits Batam, Sumardi.

NIKEL.CO.ID, 2 November 2022-Muncul penilaian harga satu unit kendaraan roda dua motor listrik lebih mahal dibandingkan harga berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) di kelasnya. Kepala Pemasaran Motor Gesits Batam, Sumardi mengestimasi total cosh ownership (TCO) antara penggunaan motor listrik dengan konvensional.

“Gesits merupakan merek sepeda motor listrik buatan anak bangsa yang diproduksi PT WIKA Industri Manufaktur (WIMA). Gesits merupakan terobosan baru, karena menghadirkan kendaraan listrik ramah lingkungan. Tingkat TKDN mungkin paling tinggi di kelas produk lokal, mencapai 46,73% tingkat lokal kontennya,” kata Direktur Utama PT. Octagon Precision Indonesia, Sumardi kepada nikel.co.id, di Jakarta, belum lama ini.

Di bawah bendera PT. Octagon Precision Indonesia, Sumardi memegang kendali pemasaran motor Gesits untuk segmen Retail dan Business to Business (B to B) untuk kawasan Batam.

Sumardi mengutarakan bahwa Gesits tidak berhenti berinovasi di kendaraan motor listrik roda dua. Beberapa waktu lalu, Gesits sudah mengembangkan kendaraan listrik roda tiga. Kegunaannya untuk angkutan barang dan angkutan umum lainnya. Korporat juga sukses melaksanakan konversi dari hand tracktor menjadi menjadi tracktor listrik.

Dengan inovasi-inovasi yang dilakukan Gesits, harapannya bisa merambah ke sektor pertanian, khususnya dalam industri alat mesin pertanian (Alsintan).  Jadi, tidak hanya di roda dua dengan fokus urbancity mobility, tetapi juga bisa digunakan oleh para petani untuk mendukung aktivitas sektor pertanian.

Dituturkan,  sebelumnya, masih di 2022, WIMA meluncurkan Gesits generasi kedua, namanya Gesits 2 Raya atau G2 Raya. Peluncuran G2 Raya ini untuk menjawab demand market, karena variasi kebutuhan pasar berbeda-beda. Harapannya, G2 Raya bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan segmen market yang ada di Indonesia.

“Gesits memiliki mesin 2 kWh dengan tenaga puncak 5 Kw. Gesits kendaraan listrik terbaik di kelasnya, seperti tanjakan tidak kekurangan power, genangan banjir pun bebas melaju,” Sumardi mengklaim keunggulan Gesits.

Jika ingin menge-cash baterai waktunya sekitar 3 jam, dan tersedia battery shopping di beberapa tempat. Ke depan,  tentunya battery shopping akan terus meluas di seluruh Indonesia.

Dipaparkan, Gesits generasi pertama dan kedua bisa menempuh jarak 50 KM. Bagasi motor memiliki kapasitas kabin untuk dua baterai. Jadi slot di kabin itu untuk dua baterai, sehingga bisa menempuh jarak 100 KM.

“Penyediaan ekosistem baterai dilakukan secara bertahap. Mudah-mudahan akan masif  dikembangkan di area-area lainnya di Indonesia. Sekarang di Jakarta sudah ada di beberapa titik. Terutama yang telah dilakukan para mitra, salah satunya Gojek yang menggunakan kendaraan listrik Gesits,” tuturnya.

Perusahaan saat ini sedang approach ke beberapa lembaga lain, baik pemerintahan maupun swasta, di antaranya untuk layanan jasa kurir.

Sumardi bilang, untuk satu kali produksi Gesits rata-rata 200 unit per hari. Ketika demand dibutuhkan dalam jumlah lebih besar, akan dilakukan penambahan unit dan line produksi.  Perusahaan juga sudah menyiapkan gedung baru di area pabrik di Cilengsi untuk mengantisipasi adanya peningkatan demand terkait telah dikeluarkannya Inpres No.7 Tahun 2022.

Mahal?

Sumardi mengakui ada anggapan harga motor listrik Gesits masih terbilang mahal dibandingkan harga motor konvensional di kelasnya. Menurutnya, salah satu komponen yang membuat banderol Gesits lebih mahal ialah karena baterai. Setiap pembelian motor Gesits mendapat bundling satu unit baterai. Berbeda dengan motor konvensional yang dijual tanpa bahan bakar. Alasan lain, komponen motor listrik dominan masih menggunakan baterai dari luar negeri.

“Dibilang mahal, sebenarnya tidak juga. Misalnya kita membeli motor berbasis BBM, kita beli BBM tergantung kebutuhan. Hari ini beli 2 liter, kita bayar 2 liter. Problemnya, dengan kendaraan listrik berbasis baterai mau roda dua, roda tiga, atau roda empat sekalipun, ketika kita membeli kendaraan, maka harus dibeli baterainya. Tapi ingat, ada yang namanya total cosh ownership (TCO),” jelas Sumardi.

Ia merinci, untuk jarak tempuh 50 kilometer roda dua Gesit hanya spending cost Rp 2.500, sementara kendaraan roda dua berbasis BBM untuk jarak yang sama membutuhkan BBM sekitar 1,5 liter. Jika harga bensin Rp 10.000, berarti pengguna kendaraan konvensional akan mengeluarkan kocek Rp 15.000.

Menurutnya, jika pengguna motor konvensional mengeluarkan biaya untuk BBM selama tiga tahun, TCO-nya lebih besar dibandingkan daily operation cost motor listrik.

“Dalam jangka beberapa tahun biaya pengeluarannya akan lebih murah dari harga motor listrik tersebut,” ujarnya.

Kendati demikian, dalam pemenuhan kebutuhan baterai listrik, Sumardi meminta pemerintah harus hadir. Dibentuknya holding BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC), diharapkan dapat menjawab kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di Tanah Air.

Saat ini untuk penyediaan baterai listrik, Gesits sudah bekerja sama dengan PT  International Chemical Industry yang memproduksi baterai ABC dan PT. Dharma Polimetal Tbk.  Baterai listrik Gesits dominan dari lithium ion.

Ke depan, disampaikan Sumardi, akan dikembangkan beberapa model baterai, seperti  NCM (nikel, cobalt, dan mangan), ada juga LFP (lithium iron  phospate), serta lithium titanit.

Diutarakan, dari beberapa keluarga lithium ion ada beberapa pilihan. Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan. Yang paling utama adalah power-nya berbanding lurus dengan motor. Contoh, ada baterai yang bisa memberikan waranti  bisa 3.000 kali di-cash. Namun, dari segi power-nya agak sedikit berkurang.

Ia mengungkapkan, “Pada beberapa manufacture di luar negeri yang pernah saya temukan, komponen baterai itu dikombinasikan, antara NMC dengan LFP dalam satu pack. Itu memungkinkan, hanya saja semua itu tergantung kebutuhan.” (Varrel/Syarif)