Dirut PT PAM Mineral Tbk: Masa Depan Industri Nikel Ada di Limonite

632
Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka
Dirut PT PAM Mineral Tbk: Masa Depan Industri Nikel Ada di Limonite
Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka

NIKEL.CO.ID, 1 Maret 2022-Holding PT PAM Mineral Tbk (NICL) berencana membangun pabrik hidrometalurgi. Cadangan nikel kadar rendah yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan nikel kadar tinggi, ditangkap holding sebagai peluang untuk memenuhi kebutuhan baterai listrik yang kian berkembang.

PAM Mineral Tbk (NICL), merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel. Perusahaan ini berdiri sejak 2008 dan memiliki wilayah operasional seluas 198 hektare di Desa Laroenai, Kecamatan Bungku Pesisir, Sulawesi Tengah.

PAM Mineral mempunyai anak usaha, yaitu PT Indrabakti Mustika yang melakukan operasional pertambangan nikel seluas 572 hektare di lima desa di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

“PT PAM Mineral memiliki dua IUP yang bernaung di bawah PT PAM Mineral. Jadi, PAM Mineral sebagai Holding,” kata Direktur Utama PAM Mineral, Ruddy Tjanaka kepada Nikel.co.id, baru-baru ini.

Disampaikan Ruddy, kapasitas produksi dari kedua perusahaan ini di 2021 sekitar 750 ribu metric ton dan di 2022 sekitar 1,8 juta metric ton.

Produksi nikel perusahaan diukur berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB). RKAB untuk IUP PAM Mineral tahun 2022 diberikan sekitar 570 ribu metric ton per tahun. RKAB 2022 untuk IUP Indrabakti Mustika sebanyak 1,2 juta metric ton per tahun.

Menurut Ruddy, nikel kadar rendah atau limonite sudah mulai terbuka pangsa pasarnya di Indonesia, seiring semakin meningkatnya kebutuhan untuk baterai listrik. Namun, ada hal yang perlu dicermati bahwa industri electric vehicle (EV) tidak melulu menggunakan baterai listrik dari nikel. Ada jenis baterai listrik berbahan baku unsur lain.

“Karena itu, kita berharap pemerintah harus lebih agresif, misalnya mengeluarkan peraturan tentang penggunaan bahan baku baterai listrik ini,” imbaunya.

Ia menekankan, pengembangan industri baterai nasional harus lebih cepat, karena teknologi pembuatan baterai listrik di Indonesia sudah ketinggalan zaman. Karena itu, Indonesia harus cepat mengikuti dan mengaplikasikan teknologi modern untuk proses pembuatan baterai listrik.

“Kita berharap, dengan adanya potensi penyerapan nikel kadar rendah, ada  kebijaksanaan pemerintah untuk membangun industri baterai seperti Karawang dan Batang, bisa segera terealisasi,” ujarnya.

Ruddy mengungkapkan bahwa holding sudah merencanakan akan membangun pabrik pengolahan nikel kadar rendah. Pihaknya sudah membicarakan hal ini dengan salah satu perusahaan domestik. Perusahaan ini akan mendeveloplebih ke arah pabrik hidrometalurgi. Pabrik ini nantinya memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

“Kita berharap pabrik hidrometalurgi ini dapat dibangun secepat mungkin. Saat ini kita sama-sama mempelajari, karena teknologinya belum begitu lama didevelop. Kita sedang mengkaji, jika nanti diterapkan secara komersial dapat memproduksi dalam kapasitas lebih besar,” paparnya.

Menurutnya, sejak kali pertama PAM Mineral  berproduksi, sudah melihat ke nikel kadar rendah. Ia melihat nikel kadar rendah mempunyai potensi di Indonesia, karena jumlahnya lebih banyak dibandingkan nikel kadar tinggi.

“Nikel kadar tinggi mungkin dalam waktu tidak lama jumlahnya akan jauh berkurang. Karena di Indonesia potensi terbesarnya ada di nikel kadar rendah,” imbuhnya.

Menurutnya, Indonesia jika ingin menjadi negara maju di 2040, dapat diukur dari banyaknya pemakaian baja per kapita. Sementara di Indonesia masih rendah penggunaan produk baja, dampaknya industri baja tidak berkembang.

Ia menjelaskan, pabrik hidrometalurgi umumnya menerapkan dua teknologi. Pertama, teknologi yang menggunakan tekanan tinggi, namanya High Pressure Acid Leaching (HPAL). Kedua, teknologi yang menggunakan atmosfir atau Atmosferic Pressure Acid Leaching (APAL).

“Untuk pabrik HPAL baru saja dibangun di Morowali dan di Pulau Obi oleh dua perusahaan. Rata-rata investasi untuk satu pabrik di atas 1,5 miliar dolar AS. Perusahaan ini menggunakan beberapa teknologi dari Papua Nugini (PNG),” imbuhnya.

Sementara pabrik APAL, Ruddy melanjutkan, biayanya lebih murah, karena tidak memakai energi yang besar. Teknologi ini bisa memisahkan antara unsur nikel, kobalt, dan unsur lainnya Beberapa pihak ada yang mengklaim pabrik pengolahan ini zero waste, jadi tidak ada limbah.

“Investasinya antara 50 juta sampai 100 juta dolar AS. Hanya memang volume produksinya berbeda,” kata Ruddy. (Herkis/Syarif)