Dirjen Minerba Sebut Ada Tiga Perusahaan Jepang Dukung Investasi Smelter Nikel

319
Dirjen Minerba, Ridwan Djamaluddin. Foto: Nikel.co.id

NIKEL.CO.ID, 25 November 2022 – Semenjak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencanangkan program hilirisasi industri nikel dan lainnya untuk memaksimalkan industri komoditi turunan banyak investor asing yang berminat berinvestasi di Indonesia termasuk dunia perbankan internasional pun berminat menanam investasinya untuk pembangunan pabrik smelter.

Hal itu seperti disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Ridwan Djamaluddin. Saat ini, setidaknya, sudah ada tiga perusahaan Jepang yakni Sumitomo Metal, Mitsu, dan Toyota Tsuho yang menyatakan minatnya untuk mendukung pendanaan pembangunan smelter.

“Kami juga mengidentifikasi dua bank yang berpotensi dan berminat dalam pembangunan smelter. Keduanya, yakni Bank of China dan Japan Bank of International Corporation,” ucap Ridwan yang dikutip Indonesia.go.id, Jum’at (25/11/2022).

Menurut Ridwan, KESDM mencatat ada enam perusahaan yang menyampaikan minatnya menjadi pelaksana proyek smelter, dan telah memasukkan info memo yang memuat seluruh informasi dalam prospektus awal dan informasi lain.

Adapun enam perusahaan itu antara lain, PT Ceria Nugraha Indotama, PT Laman Mining, PT Macika Mineral Industri, PT Mahkota Konaweeha, PT Bintang Smelter Indonesia, dan PT Dinamika Sejahtera Mandiri.

Melihat besarnya potensi investor dalam pembangunan hilirisasi industri nikel dan lainnya, KESDM mengusulkan agar pembangunan smelter menjadi proyek strategi nasional untuk mempermudah administratif.

Ridwan menuturkan, usulan itu telah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian).

“Dengan status proyek strategis nasional ini, kendala administratif, kendala perizinan dapat lebih mudah ditangani,” tuturnya.

Dari data KESDM didapat hasil saat ini terdapat 19 smelter baru yang sudah terbangun di Indonesia dan ada empat tambahan smelter di akhir tahun 2022. Data KESDM mencatat pemerintah menargetkan 53 smelter akan terbangun sampai 2024.

Untuk empat smelter yang akan beroperasi akhir tahun 2022, yaitu, smelter milik PT Aneka Tambang Tbk, PT Smelter Nikel Indonesia, PT Cahaya Modern Metal Industri, dan PT Kapuas Prima Citra.

Dari semua komitmen tersebut, data KESDM mencatat investasi pada pembangunan smelter itu hingga 2024 yang dibutuhkan mencapai US$8 miliar.

Kemudian, Ridwan menurut bahwa pemerintah telah melakukan pertemuan dengan para pembangun smelter untuk menginventarisasi kendala. Selain itu, pemerintah juga turut membantu penyusunan info memo perusahaan smelter untuk ditawarkan kepada para calon investor dan calon pendana.

Untuk saat ini, ada 12 perusahaan yang disebut mengalami kendala dalam pembiayaan pembangunan smelter.

Ia mengambil contoh pada gelaran Dubai Expo saja, Indonesia telah mendapatkan sejumlah komitmen investasi. Salah satunya dari Emirates Global Aluminium (EGA).

Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier mengatakan, perusahaan terbesar di Uni Emirat Arab akan bekerja sama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum untuk meningkatkan kapasitas produksi komoditas tersebut.

“Emirates Global Aluminium berminat investasi bekerja sama dengan Inalum akan membawa teknologi baru untuk meningkatkan output produksi aluminiumnya,” kata Taufiek. (Shiddiq)