Analis: Tiga Tahun ke Depan, Harga Nikel Tetap Kuat

294
Ilustrasi (Foto; Ist)
Ilustrasi (Foto; Ist)
NIKEL.CO.ID – Kondisi harga nikel sekarang ini masih dalam rentang penguatan yang berkelanjutan (bullish). Ada beberapa alasan untuk mengatakan demikian. Pergerakan harga nikel pada pada awal 2022 cukup bergairah.

Hal tersebut dikatakan analis riset Fauzan Luthfi Djamal,  pada acara webinar RHB Smart Talks,  Minggu (6/2/2022). Ia menambahkan, pasar juga sudah melakukan antisipasi penambahan kapasitas dari Indonesia yang pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikelnya sudah mulai berproduksi.

“Tetapi, di satu sisi kita juga pihatin dengan berkurangnya output baja nirkarat (stainless steel) dari China. Ditambah pula, ada beberapa sentimen negatif terkait ekonomi di sana, khususnya di sektor properti itu yang demand-nya kemungkinan akan berkurang,” katanya.

Analis riset Fauzan Luthfi Djamal (Foto: Capture)

Fauzan menambahkan, dalam pergerakan harga nikel, China memang cukup memberikan pengaruh. Karena, bagaimanapun negara itu selama ini memenuhi kebutuhan nikelnya dari pasar nikel dunia. Jadi, kalau ada gangguan demand dari negara tersebut maka akan memberi dampak juga ke harga nikel.

“Satu lagi yang membuat tren harga nikel masih menguat adalah persedian nikel global. Persediaan nikel saat ini yang tercatat di London Metal Exchange (LME) itu masih sangat rendah dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Saat ini persediaan nikel hanya sekitar 96.000 ton, padahal, periode lima tahun sebelumnya, antara 2015 hingga 2019, rata-rata persediaan nikel sekitar 425.000 ton. Jadi, memang ada memang ada defisit bulanan dari ketersediaan nikel,” paparnya.

Kondisi ini, katanya melanjutkan, tetap akan menjadi sentimen utama menguatnya harga nikel. Apalagi, hingga kini belum ada pasokan untuk yang dapat mengisi kekosongan tersebut secara signifikan.

Atleast untuk tahun 2021 kita melihat harga nikel itu akan tetap di kisaran harga US$21.000 ton. Hal ini memang efek, sebagaimana kita ketahui bersama, dari percepatan adopsi electric vehicle (EV). Pengembangan baterai untuk EV itu membuat ketersediaan berkurang sangat banyak,” masih menurut Fauzan.

Ia memberikan gambaran, tuntutan kebutuhan nikel saat ini 70% datang dari produksi baja nirkarat dan demand untuk baterai EV hanya 9%. Beberapa analis memprediksi porsi kebutuhan untuk baterai EV akan meningkat menjadi 30% pada 2026.  Sayangnya, untuk persediaan nikel dunia saat ini belum banyak pasokan baru selain dari Indonesia dan Filipina. Alhasil, nikel semakin langka dan harganya pun naik meski ada penambahan pasokan Indonesia.

“Kalau untuk tiga tahun lagi kemungkinan nikel masih tetap mahal harganya karena suplainya masih belum terjaga. Dan, yang menarik, kalau kita lihat tren sepanjang 2000-2019 biasanya penguatan dolar Amerika selalu berdampak negatif terhadap pergerakan komoditas, tetapi sejak tiga tahun belakangan ini menguatnya dolar Amerika berhenti pengaruhnya terhadap harga nikel,” ujarnya.

Hal itu terjadi, katanya melanjutkan, karena isu supplay and demand tadi mengalahkan penguatan dolar Amerika. Biasanya pengjuatan mata uang Negeri Paman Sam itu berkorelasi negatif terhadap komoditas lainnya, tetapi tidak untuk nikel. (Herkis/R)