NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pertambangan Indonesia mengalami perlambatan sepanjang 2025, menjadi satu-satunya sektor yang pertumbuhannya melambat dibanding tahun sebelumnya, menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS mencatat pertumbuhan industri pertambangan turun 0,66% secara tahunan dibanding 2024, dengan kuartal IV-2025 mencatat penurunan lebih dalam sebesar 1,31%.
“Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tumbuh 5,11%, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan,” kata Ketua BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Meskipun melambat, sektor pertambangan tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, bersama industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,3% sepanjang 2025, perdagangan 5,49%, dan pertanian 5,33%. Sementara itu, sub-sektor industri logam dasar mencatat pertumbuhan 15,71%, sejalan dengan tingginya permintaan ekspor besi, baja, dan logam mulia.
Selain itu, BPS mencatat tren impor bijih nikel dari Filipina terus meningkat dan menjadi sorotan, meski Indonesia sejak 2020 memberlakukan larangan ekspor bijih nikel untuk memperkuat hilirisasi industri dalam negeri. Berdasarkan data BPS, volume impor bijih nikel (HS 26040000) mencapai 15,33 juta ton sepanjang 2025, dengan nilai transaksi US$725,17 juta.

Sebagian besar impor masuk ke kawasan industri smelter, terutama di Weda, Maluku Utara, dan Morowali, Sulawesi Tengah. Weda menjadi penyerap terbesar, yakni 12,04 juta ton atau sekitar 78,5% dari total impor bijih nikel nasional dari Filipina, sementara Morowali menerima 2,42 juta ton.
Lonjakan impor bijih nikel dari Filipina terjadi dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2023 menjadi awal impor dengan volume 374.453 ton senilai US$16 juta. Pada 2024, volume meningkat menjadi 10,18 juta ton dengan nilai US$445,09 juta, lalu melonjak sekitar 5 juta ton pada 2025.
Data ini menunjukkan bahwa meski sektor pertambangan mengalami perlambatan, dinamika perdagangan komoditas seperti bijih nikel tetap signifikan, menjadi sorotan bagi pengelolaan industri hilir dan strategi pertumbuhan nasional ke depan. (Lili Handayani)




























