Beranda Korporasi Ceria Corp Perkuat Posisi Indonesia dalam Produksi Nikel Berkelanjutan

Ceria Corp Perkuat Posisi Indonesia dalam Produksi Nikel Berkelanjutan

209
0
(Foto: Dok. Ceria Corp)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Upaya memperkuat kepemimpinan Indonesia dalam industri nikel berkelanjutan terus menunjukkan hasil. Ceria Corp, perusahaan nasional yang sepenuhnya berbasis penanaman modal dalam negeri (PMDN), menegaskan perannya sebagai pionir green nickel melalui pengembangan operasi terintegrasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan tata kelola lingkungan modern.

Sebagai perusahaan yang telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional (PSN) sekaligus objek  vital nasional (Obvitnas), Ceria Corp mengoperasikan fasilitas smelter berbasis teknologi rectangular rotary kiln electric furnace(RKEF) berkapasitas 72 MVA di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Smelter tersebut memiliki kemampuan produksi hingga 63.200 ton feronikel per tahun dengan kadar nikel 22 persen, didukung kepemilikan renewable energy certificate (REC) sebagai wujud penggunaan energi hijau.

CEO Ceria Corp, Derian Sakmiwata, menegaskan, kualitas produk menjadi keunggulan utama perusahaan.
“Produk kami juga memiliki kandungan karbon, sulfur, dan fosfor yang sangat rendah,” ujar Derian, dikutip Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

“Kami berupaya membedakan produk kami karena melihat adanya kesenjangan pasokan yang signifikan di pasar Eropa dan Amerika Serikat,” tambahnya.

Permintaan global yang terus meningkat mendorong perusahaan memperluas kapasitas dengan pembangunan RKEF Line II. Konsep pembangunan smelter tersebut mengusung konservasi energi dan air, serta pengendalian emisi yang ketat sebagai bagian dari konstruksi hijau yang menjadi standar perusahaan.

Selain itu, berkembangnya industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) membuka peluang baru bagi Ceria Corp untuk membangun fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) senilai sekitar US$2 miliar. Proyek HPAL tersebut dirancang untuk memproses bijih limonit menjadi 146.600 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun—setara 55.400 ton nikel dan 6.000 ton kobalt—yang menjadi bahan penting untuk rantai pasok baterai EV.

Dengan proyek besar yang terus berjalan, Ceria Corp juga menjajaki kemitraan dengan investor global. Prinsip environmental, social, & governance (ESG) menjadi pedoman utama perusahaan dalam memastikan seluruh proses dari hulu ke hilir dapat dilacak dan dikelola secara bertanggung jawab. Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi pondasi utama operasional perusahaan.


“Sumber daya dan cadangan Ceria diproyeksikan mampu memasok pabrik pengolahan kami selama lebih dari 20 tahun. Keberlanjutan sangat penting bagi kami dan menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar energi ramah lingkungan perusahaan berasal dari PLTA, diperkuat oleh surat perjanjian jual beli tenaga listrik (SPJBTL) 352 MW dengan PLN. Sumber energi lain termasuk barge mounted power plant (BMPP) 60 MW dan pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas 284 MW yang masih dalam pengembangan.

Dalam enam tahun terakhir, Ceria Corp mempertahankan peringkat Proper Biru sebagai bukti kepatuhan lingkungan. Komitmen terhadap masyarakat juga diwujudkan melalui program pemberdayaan di sektor pendidikan, kesehatan, sosial budaya, ekonomi, hingga infrastruktur. Saat ini lebih dari 65% tenaga kerja perusahaan berasal dari masyarakat lokal.

Sebagai bagian dari peta jalan keberlanjutannya, Ceria Corp menargetkan sertifikasi Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Langkah ini menjadi strategi penting untuk memperkuat peran Indonesia dalam industri nikel global yang semakin menuntut transparansi dan produksi yang bertanggung jawab.

Dengan arah pengembangan yang menekankan teknologi hijau, energi bersih, serta keterlibatan masyarakat, Ceria Corp menegaskan ambisinya menjadi salah satu penggerak utama ekonomi hijau nasional sekaligus pemain penting dalam rantai pasok nikel dunia. (Lili Handayani)