NIKEL.CO.ID, JAKARTA – PT Pintu Air Mas (PAM) Mineral Tbk. tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek industri nikel nasional di tengah dinamika kebijakan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) satu tahunan dan fluktuasi harga komoditas.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk., Ruddy Tjanaka, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di Kantor Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Jakarta, Kamis (22/1/2026). Dia menjelaskan, secara internal PAM Mineral sejatinya telah menyiapkan perencanaan tambang untuk jangka tiga tahun. Namun demikian, perusahaan tetap menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang saat ini mewajibkan pengajuan RKAB secara tahunan.
“Kalau dari kami sebenarnya persiapan itu untuk tiga tahun, jadi memang lebih ideal RKAB tiga tahunan. Tapi, karena aturan pemerintah seperti itu, ya tetap kita ajukan per tahun,” ujar Ruddy yang sudah berpengalaman selama 15 tahun di industri pertambangan itu.
Terkait kuota produksi, ia mengungkapkan, saat ini PAM Mineral masih mengacu pada RKAB tiga tahunan yang sebelumnya diinisiasi. Melalui entitas PT Indrabakti Mustika (IBM), perusahaannya memperoleh sekitar 25% dari total 1,8 juta ton atau setara 450 ribu ton.
“Untuk PAM Mineral sendiri belum ada karena masih menunggu persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH). Sementara untuk PT Sumber Mineral Abadi (SMA) kita masih menggunakan inisiasi inventory,” paparnya.
Mengenai pergerakan harga nikel, Ruddy mengapresiasi adanya tren kenaikan yang dipicu oleh pembatasan kuota produksi, yang turut mendorong indeks harga seperti London Meral Exchage (LME) dan Harga Acuan Mineral (HMA). Namun ia menilai tantangan utama saat ini bukan pada harga, melainkan pada kepastian kuota.
“Kalau harga sih kita appreciate ya, kelihatan ada kenaikan. Tapi, persoalannya kan kuota belum ada, jadi kita hanya melihat angka,” katanya.
Meski demikian, PAM Mineral tetap optimistis terhadap prospek nikel sepanjang 2026. Ia menekankan pentingnya kejelasan kebijakan pemerintah terkait kuota produksi agar pelaku usaha dapat bergerak lebih pasti.
“Kita masih optimistis, sepanjang pemerintah segera merilis seberapa besar kuota yang bisa kita dapat,” ujarnya.
Optimisme tersebut, lanjutnya, ditopang oleh semakin kuatnya industri hilir nikel di dalam negeri serta komitmen pemerintah terhadap pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
“Industri hilir sudah ada di sini, komitmen pemerintah terhadap EV juga jelas. Ekosistemnya sudah terbentuk dan itu peluang terbaik bagi industri nikel,” tegasnya.
Untuk target 2026, PAM Mineral mengajukan RKAB dengan total potensi produksi mencapai 5,3 juta ton. Rinciannya, untuk PT IBM diajukan sebesar 2,5 juta ton, PAM Mineral tetap 800 ribu ton, dan PT SMA sebesar 2,3 juta ton.
“Itu target full kapasitas. Kalau ada pengurangan, mungkin sekitar 20–30%,” pungkas Ruddy. (Lili Handayani)
























