Beranda Pemerintahan Proyek Titan Menyusul Dragon, Pemerintah Pastikan Ekosistem Baterai EV Tetap Jalan

Proyek Titan Menyusul Dragon, Pemerintah Pastikan Ekosistem Baterai EV Tetap Jalan

384
0
Ilustrasi EV battery (Foto isitmewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia kembali menegaskan ambisinya menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dunia. Setelah Proyek Dragon resmi memasuki tahap groundbreaking, megaproyek lain yang tak kalah strategis,  Proyek Titan, dipastikan tetap berjalan dan ditargetkan mulai dibangun paling lambat September 2025.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM, Prof. Ahmad Erani Yustika, menegaskan, kerja sama proyek ekosistem baterai EV Zhejiang Huayou Cobalt dengan BUMN Indonesia, yakni PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), masih berada dalam proses kajian dan finalisasi kesepakatan antarpihak.

“Memang masih ada beberapa kerja sama antara Antam dan yang dari Cina itu, Huayou. Sampai sekarang masih dalam kajian, masih belum secepat seperti yang kita bayangkan,” ujar Erani kepada wartawan di Kantor Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Proyek Titan akan menyusul Proyek Dragon, kerja sama antara Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dan Antam dan IBC, yang telah resmi melakukan groundbreaking pada Minggu, 29 Juni 2025.

Nilai investasi Proyek Dragon ditaksir mencapai US$5,9 miliar, setara Rp96 triliun. Dengan adanya proyek ini nantinya akan terbangun ekosistem baterai EV terintegrasi dari hulu hingga hilir di Halmahera Timur, Maluku Utara, dan Karawang, Jawa Barat, dengan total kapasitas produksi mencapai 15 gigawatt hour (GWh).

Groundbreaking proyek tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya menjual sumber daya mineral mentah, tetapi juga serius mengembangkan industri bernilai tambah tinggi. Meski belum melakukan groundbreaking, dia menegaskan, Proyek Titan tidak berhenti. Proyek ini masih berjalan sesuai rencana, namun memerlukan waktu untuk menyelesaikan berbagai aspek teknis dan komersial.

“Sampai sekarang rencana itu masih berjalan. Tetapi secara teknis mereka masih memerlukan waktu untuk memfinalisasi kesepakatan kerja sama di antara beberapa pihak itu,” jelasnya.

Ia mengakui, belum mengetahui secara detail titik krusial yang membuat kesepakatan tersebut belum rampung.

“Saya masih belum tahu pasti di titik mana yang belum selesai atau finalisasinya kerja sama di antara mereka itu,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah, dorongan agar proyek segera dieksekusi terus disampaikan, meski tanpa tenggat waktu kaku. Menurutnya, Menteri ESDM belum menetapkan deadline khusus, namun arah kebijakannya jelas: proyek harus berjalan secepat mungkin tanpa mengorbankan kehati-hatian bisnis.

“Pak Menteri ketika memimpin belum ada tenggat. Tapi, ini mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Jangan hilangkan momentum lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat.

“Sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan. Tapi, pemerintah tidak bisa berada di posisi menentukan secara sepihak,” katanya.

Menurut dia, proyek sebesar ini menuntut kajian mendalam, tidak hanya soal pasar dan ketersediaan bahan baku, tetapi juga berbagai detail non-teknis yang menentukan kenyamanan dan keberlanjutan kerja sama.

“Bisnis itu harus dikaji secara matang. Bukan hanya soal pasarnya ada, anggaran tersedia, bahan-bahannya cukup. Tapi ada pernak-pernik yang harus diteliti satu per satu, supaya semua pihak yang bekerja sama benar-benar merasa nyaman untuk mengeksekusi program itu,” pungkasnya.

Dengan Proyek Dragon yang sudah berjalan dan Proyek Titan yang disiapkan menyusul, pemerintah berharap momentum hilirisasi mineral, khususnya nikel, tidak kembali tertunda. Kedua proyek ini diproyeksikan menjadi tulang punggung transformasi industri kendaraan listrik nasional sekaligus pengungkit investasi jangka panjang di sektor energi bersih Indonesia. (Shiddiq)