NIKEL.CO.ID, YOGYAKARTA – Social Investment Indonesia (SII) beberapa waktu lalu, tepatnya 10 Desember 2025, kembali menyelenggarakan Indonesia Social Investment Forum (ISIF) 2025, sebuah ajang investasi sosial terbesar di Indonesia, di Hotel Tentrem, Yogyakarta. Forum yang kali ini sudah diselenggarakan sepuluh kali ini menjadi momentum penting ketika Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Direktur SII, Pitono Nugroho, menekankan pentingnya terobosan pemikiran dan kerja sama inovatif untuk mendongkrak capaian SDGs yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan Sustainable Development Solutions Network (SDSN), skor indeks SDGs Indonesia pada 2024 tercatat 69,4 poin, sedikit menurun daripada 2023 yang meraih 70,16 poin. Penurunan tersebut menggeser peringkat Indonesia dari posisi 75 ke 78 secara global.
“Kita perlu melampaui batasan sosial dan bekerja sama secara inovatif agar target-target pembangunan berkelanjutan dapat dipercepat pencapaiannya,” ujar Pitono Nugroho, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Jumat (19/12/2025).
Meskipun, aspek lingkungan (environment/E) sering mendominasi diskusi keberlanjutan, memperkuat aspek sosial (social/S) dalam kerangka environment, social, and governance (ESG) menjadi krusial bagi legitimasi dan keberlanjutan bisnis di Indonesia.
Stagnasi capaian SDGs ini menjadi katalisator bagi para pemangku kepentingan untuk fokus pada penanganan isu-isu sosial yang paling material. Rangkaian diskusi mendalam di ISIF 2025, menyoroti pentingnya pemetaan isu sosial secara komprehensif.
Pitono memaparkan, isu yang dibahas dalam diskusi tersebut menyangkut ketenagakerjaan lokal dan pengembangan kapasitas tenaga kerja, penerapan hak asasi manusia (HAM) dalam rantai pasok (human rights due diligence), pemberdayaan masyarakat adat, dan pelestarian hak-hak komunitas adat dalam kegiatan investasi dan bisnis.
“Forum ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor yang kuat sangat diperlukan untuk menangani tantangan material ini,” tuturnya.
Ia mendeskripsikan, narasumber-narasumber adalah Dr. Ery Seda (akademisi dari FISIP UI), ahli standar keberlanjutan, Dewi Tio dari GRI, dan perwakilan industri pertambangan, yakni Ignatius Wurwanto dari PT Indo Tambangraya Megah Tbk. dan Endra Kusuma dari PT Vale Indonesia Tbk.
Dengan mengusung tema “Melampaui Batasan Sosial: Membangun Masa Depan Berkelanjutan dengan Inovasi dan Kolaborasi”, ISIF 2025 berfokus pada tiga pilar solusi inovatif untuk menjawab tantangan stagnasi SDGs, yakni inovasi sosial berbasis komunitas dan teknologi, memperkuat pendanaan berkelanjutan (sustainable finance), dan pengukuran dampak yang akuntabel.
ISIF 2025 dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan profesional, praktisi CSR, pemerintah, LSM, akademisi, dan wirausahawan sosial.
Kegiatan ini disponsori oleh community partner Indonesian Initiative for Sustainable Mining (ISSM), IS2P, Forum TJSL, Social Value Indonesia, ibcsd, LCI, Filantropi Indonesia, Universitas Brawijaya, dan Universitas Trunojoyo.
ISIF 2025 ditutup dengan konsensus bahwa aspek sosial dalam ESG harus diperkokoh melalui kolaborasi dan dukungan pendanaan inovatif. Setelah itu, hasil diskusi forum ini akan ditindaklanjuti dalam aksi nyata di lapangan, memperkuat jejaring dan kemitraan strategis demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Lili Handayani)






















