NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel nasional menghadapi tekanan berat, terutama dari sisi harga global dan kebijakan domestik, sepanjang 2025 ini, kendati pada saat yang sama Indonesia menjadi produsen nikel terbesar dunia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) beberapa waktu lalu di Jakarta. Ia mengatakan, jika menilik perjalanan industri nikel sepanjang 2025, tantangan terbesar berasal dari anjloknya harga nikel di pasar global. Tekanan harga ini tidak dapat dilepaskan dari lonjakan produksi produk olahan nikel Indonesia dalam lima tahun terakhir.
“Kalau kita hitung dari 2020 sampai 2025, produksi kita itu naik sekitar lima kali lipat. Produknya sangat banyak, tapi ini tidak berdiri sendiri. Banyak pihak selalu menyalahkan Indonesia atas turunnya harga, padahal ada faktor lain yang jauh lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi dan geopolitik global turut berperan besar dalam melemahkan permintaan nikel dunia. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, perang Rusia—Ukraina, hingga ketegangan geopolitik dan perang dagang China dengan Amerika Serikat secara langsung menekan permintaan terhadap produk nikel.
“Perang, konflik geopolitik, perang tarif, itu semua berdampak langsung ke demand nikel. Jadi, tantangannya bukan hanya dari sisi suplai Indonesia, tapi juga kondisi global,” jelasnya.
Dari sisi internal, ia menilai tantangan industri nikel lebih banyak datang dari kebijakan pemerintah yang berdampak pada peningkatan biaya produksi. Sepanjang 2025, industri menghadapi kenaikan upah minimum regional (UMR) yang signifikan, penerapan kewajiban biodiesel dari B35 menjadi B40, serta wacana peningkatan ke B50 pada tahun depan.
“Kenaikan UMR itu minimum sekitar 60%. Kemudian B35 ke B40 jelas menaikkan biaya produksi karena harga bahan bakar bisa naik sekitar 20–25%. Tahun depan bahkan ada wacana B50,” ungkapnya.
Ditambah lagi, katanya lagi, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) serta kenaikan royalti pertambangan turut menambah beban industri. Ia juga menyoroti lonjakan royalti yang dinilai cukup tajam.
“Royalti naik signifikan, dari kisaran 10% bisa menjadi 40%. Dari rentang 11–19%, itu lonjakan yang besar dan dampaknya tetap terasa sampai sekarang,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan, di balik berbagai tantangan tersebut, industri nikel Indonesia mencatatkan kemajuan strategis yang sangat penting. Pada 2025, Indonesia berhasil menjadi produsen nikel terbesar di dunia dengan penguasaan pangsa pasar global yang sangat dominan.
“Kita berhasil menjadi produsen nikel paling besar di dunia. Pangsa pasar kita bisa mencapai 70 sampai 75%. Ini modal besar bagi bangsa Indonesia ke depan untuk membangun ekosistem industri nikel yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan pengelolaan kebijakan yang lebih seimbang dan dukungan ekosistem industri yang tepat, dominasi Indonesia di pasar nikel global dapat menjadi fondasi kuat bagi hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi nasional pada masa mendatang. (Shiddiq)






















