Beranda Nikel Demi Naikkan Harga, Rencana Produksi Bijih Nikel di RKAB 2026 Turun Jadi...

Demi Naikkan Harga, Rencana Produksi Bijih Nikel di RKAB 2026 Turun Jadi 250 Juta Ton

1646
0
Sekum APNI, Meidy Katrin Lengkey (Foto: Dok APNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Dibandingkan dengan RKAB 2025, yang jumlah produksinya 379 juta ton, produksi nikel Indonesia pada tahun depan, sesuai dengan RKAB 2026, hanya 250 juta ton. Turunnya produksi bijih nikel (nickel ore) dimaksudkan untuk menjaga agar harga tidak semakin turun.  

Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey,  mengungkapkan hal itu.

“Rencana pemerintah produksi sebanyak 250 juta ton. Tetapi, saya tidak tahu realisasinya. Dengan menekan produksi diharapkan harga akan membaik, naik. Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun ya,” kata Meidy, yang sedang menghadiri acara di Bali, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), melalui saluran telepon, Jumat (19/12/2025).

Apabila, sambungnya, pasokan bijih nikel terus meningkat maka kembali terjadi penurunan harga. Hal itu tentu kurang baik. Oleh sebab itu, jalan yang bisa ditempuh adalah mengurangi produksi bijih nikelnya, sehingga harganya akan naik.

“Kalau Indonesia bisa menurunkan kapasitas produksi, harganya bisa naik. Itu sudah pasti hukum alam. Kalau oversupply, demand turun, harga juga ikut turun,” tuturnya.

Selain itu, turunnya rencana produksi 2026 tersebut akan disubstitusi oleh impor yang dilakukan oleh perusahaan smelter.

“Ya, pasti mereka akan impor bijih nikel. Kita tidak berhak menahan impor kan, kecuali pemerintah mengeluarkan aturan tidak boleh impor,” pungkasnya.

Diketahui, berdasarkan kajian yang dilakukan asosiasi pada tahun ini, pasokan nikel di pasar global diprediksi surplus sekitar 209 juta ton, sementara pada tahun depan surplusnya diprediksi mencapai 261 juta ton.

Sebanyak 65% dari total surplus pada 2026 tersebut berasal dari Indonesia, sehingga negara ini diharapkan dapat mengontrol pergerakan harga nikel global. Kondisi surplus tersebut diprediksi berisiko membuat harga logam nikel global di London Metal Exchange (LME) terjerembab ke level US$12.000/ton dari rata-rata saat ini kisaran US$14.000 – US$15.000 per ton. (Uyun)