NIKEL, CO,ID, JAKARTA — Langkah maju signifikan diambil dalam upaya mewujudkan industri nikel yang berkelanjutan di Indonesia. Tsingshan Group, produsen nikel terkemuka dunia, bersama dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) telah memulai kerja sama strategis yang berfokus pada empat pilar utama. Pilar-pilar tersebut mencakup ekonomi sirkular, pengembangan keterampilan industri, pemberdayaan masyarakat lokal, dan penguatan manajemen rantai pasok hijau.
Kerja sama tersebut menjadi fondasi kokoh untuk memperdalam penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di sektor nikel. Tujuannya adalah mendorong efisiensi operasional yang lebih tinggi dan meningkatkan daya saing industri nikel nasional di pasar global. Melalui implementasi ekonomi sirkular maka limbah akan berkurang dan penggunaan sumber daya dioptimalkan.

Kerja sama strategis Tsingshan dengan lembaga khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang fokus pada pembangunan industri inklusif dan berkelanjutan antara lain juga untuk pengembangan keterampilan industri akan memastikan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, sementara pemberdayaan masyarakat akan menciptakan dampak sosial yang positif. Rantai pasok hijau akan menjamin praktik bisnis yang ramah lingkungan, berkontribusi pada visi nikel berkelanjutan.
Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), sebagai kawasan percontohan dan implementasi standar environment, social, and governance (ESG), turut berperan penting dalam inisiatif ini. Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen IWIP dalam memperkuat prinsip keberlanjutan ke dalam pengelolaan kawasan industri.
“Implementasi program percontohan di IWIP diarahkan untuk memperkuat tata kelola kawasan yang berorientasi pada efisiensi sumber daya secara maksimal, mengurangi emisi karbon, dan mengembangkan kapasitas industri yang adaptif terhadap kebutuhan ekonomi hijau. IWIP akan menjadi laboratorium hidup untuk praktik-praktik terbaik dalam industri nikel yang bertanggung jawab, termasuk pengelolaan limbah yang inovatif, penggunaan energi terbarukan, dan program pelatihan bagi karyawan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan,” demikian dipaparkan di keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Ke depan, IWIP berencana memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenant kawasan, asosiasi industri, lembaga keuangan, serta para pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini krusial guna memastikan pelaksanaan program keberlanjutan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan di seluruh ekosistem industri.
Langkah proaktif ini menegaskan posisi IWIP sebagai kawasan industri yang secara konsisten mendukung transformasi industri nikel menuju rantai nilai global yang lebih hijau, bertanggung jawab, dan bernilai tambah bagi Indonesia.

Terkait dengan hal di atas, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) merasa bangga dan terhormat untuk kembali terlibat dalam kegiatan strategis ini. Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, setelah sebelumnya menjadi salah satu komite dalam BRICS Green Minerals di Beijing, serta berpartisipasi dalam South-South Intergovernmental Dialogue on Unlocking Equitable Mineral Value Addition bersama 11 negara produsen mineral kritis, APNI kembali mendapat kepercayaan.
“Kami akan menjadi salah satu peserta sekaligus pembicara dalam kunjungan dan workshop tersebut. Kehadiran APNI dalam kegiatan ini semakin menegaskan komitmen kami terhadap pengembangan industri nikel yang berkelanjutan,” tutur Meidy kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan, “Keterlibatan APNI dalam kegiatan ini sangat penting. Kami akan berpartisipasi aktif dalam sesi diskusi, berbagi pandangan, dan bertukar pengalaman dengan para pemangku kepentingan industri. Kami akan melihat langsung bagaimana implementasi praktik green minerals, keberlanjutan, ekosistem, dan rantai pasok nikel berjalan di Indonesia. APNI berkomitmen untuk terus mendukung upaya bersama dalam membangun industri ekstraksi hijau yang berdaya saing global.” (Red)
























