Beranda Berita Nasional BPS Ungkap Nikel Menjadi Salah Satu Komoditas Penyumbang Terbesar Surplus Ekspor 2025

BPS Ungkap Nikel Menjadi Salah Satu Komoditas Penyumbang Terbesar Surplus Ekspor 2025

680
0
Nikel (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Sepanjang Januari hingga 25 Oktober 2025, produk berbasis nikel menjadi salah satu dari lima kelompok komoditas yang menjadi pendorong kinerja neraca dagang Indonesia. Selain nikel, komoditas lainnya adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar minyak, besi dan baja, dan alas kaki.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, dalam keterangannya di Jakarta, menyampaikan, komoditas lemak dan minyak hewani/nabati memberikan kontribusi surplus terbesar, yaitu US$28,12 miliar. Diikuti BBM yang menambah US$22,59 miliar, kemudian besi dan baja sebesar US$15,79, produk nikel US$7,39 miliar, dan alas kaki senilai US$5,47 miliar.

Secara akumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia selama sepuluh bulan pertama 2025 mencapai US$35,88 miliar. Jumlah ini meningkat US$10,98 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year).

https://events.minviro.com/decarbonisation-workshop-apac-2025?hs_preview=GJvcVbTU-272478457024

“Indonesia telah mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Untuk Januari–Oktober 2025 saja, surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif sektor nonmigas sebesar US$51,51 miliar, sedangkan sektor migas masih mencatat defisit US$15,63 miliar,” ujar Pudji, sebagaimana dikutip Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Selasa (2/12/2025).

Total nilai ekspor selama periode tersebut, katanya menambahkan, mencapai US$234,04 miliar, naik 6,96% dari capaian Januari–Oktober 2024 yang sebesar US$218,82 miliar.

China, Amerika Serikat, dan India tercatat sebagai tiga negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Ketiganya menyumbang 41,84% dari total ekspor nonmigas. Rinciannya, ekspor ke China mencapai US$52,45 miliar (23,51%), ke Amerika Serikat US$25,56 miliar (11,46%), dan India US$15,32 miliar (6,87%).

Menurut dia, pengiriman barang ke China, terutama berasal dari komoditas besi dan baja, BBM, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan listrik, produk pakaian rajut beserta aksesori, serta alas kaki.

https://event.cnfeol.com/en/event/339
https://event.cnfeol.com/en/event/339

Di sisi lain, nilai impor Indonesia selama Januari–Oktober 2025 tercatat US$198,16 miliar, meningkat 2,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$171,61 miliar, tumbuh 4,95%. Sebaliknya, impor migas turun 12,67% menjadi US$26,56 miliar.

Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan, lonjakan impor terbesar terjadi pada kelompok barang modal yang nilainya mencapai US$40,55 miliar, naik 18,67% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang periode tersebut, China tetap menjadi negara asal impor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai US$70,19 miliar atau 40,9%. Di posisi berikutnya adalah Jepang dengan US$12,17 miliar (7,09%) serta Amerika Serikat dengan US$8,17 miliar (4,76%). (Lili Handayani)