Beranda Asosiasi Pertambangan Ketua MPR RI Ingatkan Pemerintah Harus Mengambil Langkah Strategis untuk Menjaga Keseimbangan...

Ketua MPR RI Ingatkan Pemerintah Harus Mengambil Langkah Strategis untuk Menjaga Keseimbangan Produksi Nikel

589
0

NIKEL.CO.ID, 6 Maret 2023-Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, Indonesia adalah negara penghasil nikel terbesar di dunia. Dia mengingatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia, termasuk komoditas nikel harus dilandasi oleh semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menyampaikan, berdasarkan catatan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel dunia pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton, atau meningkat sekitar 21 persen dari produksi tahun 2021. Dari angka tersebut, 48 persennya atau sekitar 1,6 juta metrik ton adalah produksi Indonesia.

“Cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai 72 juta ton nikel. Sebanyak 90 persen cadangan nikel Indonesia tersebar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara dengan perkiraan cadangan bijih nikel sebesar 2,6 miliar ton bijih nikel. Maluku Utara dengan perkiraan cadangan bijih nikel sebesar 1,4 miliar ton. Serta Papua dan Papua Barat yang diperkirakan memiliki cadangan bijih nikel mencapai 0,06 miliar ton,” papar mantan Ketua DPR RI ke-20 ini saat menyampaikan sambutan di acara The APNI 6th Birthday Ceremony-Event APNI Friendly Gathering-Improving Nickel Upstream To Downstream To Support Indonesia ASEAN Chairmanship 2023 & Indonesia Gold 2045 di Hotel Raffles Jakarta, Senin malam (6/3/2023).

Acara dalam rangka memperingati HUT ke-6 Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) malam ini, dihelat pula Gathering C Level bertajuk “Nickel Gathering Jakarta CMO Club /Markplus-Nationalism, Spiritualism & Mining Entrepreneurship” hasil kerja sama APNI dengan Jakarta CMO Club (Mark Plus).

Hadir di acara ini antara lain Ketua Umum APNI, Komjen Pol. (Purn) Drs. Nanan Soekarna, Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, Dewan Pembina, Penasihat, dan Pengawas APNI, Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura, Tri-Founders Philip Kotler Center for ASEAN Marketing Hermawan Kartajaya, dan CEO ESQ Leadership Center Ary Ginanjar Agustian, Kementerian/Lembaga pemerintahan, dan undangan lainnya.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, saat ini nikel menjadi salah satu komoditas global yang semakin populer dan dibutuhkan. Salah satu alasan utamanya adalah karena nikel menjadi elemen atau bahan baku penting untuk pembuatan baterai kendaraan listrik yang saat ini tengah menjadi tren dunia.

“Berdasarkan hasil riset terbaru Goldman Sachs,
diperkirakan penjualan kendaraan listrik akan melonjak menjadi sekitar 73 juta unit pada tahun 2040. Naik dari sekitar 2 juta unit pada tahun 2020. Selama rentang waktu tersebut, penjualan mobil listrik diperkirakan juga meningkat, dari 2 persen menjadi 61 persen dari total penjualan mobil global. Konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik dunia, tentunya adalah lonjakan kebutuhan baterai kendaraan listrik, dimana nikel menjadi elemen utamanya,” urai Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia dan Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat ini menambahkan, sekalipun Indonesia memiliki cadangan nikel berlimpah, namun penting diingat bahwa nikel adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Artinya, akan habis pada masanya. Meskipun cadangan bijih nikel Indonesia diperkirakan bisa dimanfaatkan hingga kurun waktu 73 tahun, eksploitasi yang berlebihan dan tanpa kendali, tentunya akan memperpendek usia cadangan nikel yang dimiliki Indonesia.

Karena itu, dia mengingatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia, termasuk komoditas nikel harus dilandasi oleh semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Sebab itu, segala aspek dan dimensi dalam sektor sumber daya alam, termasuk dari sisi entrepreneurship, harus menempatkan nasionalisme dan wawasan kebangsaan sebagai landasan berpijak.

Salah satunya, Bamsoet menekankan, pemerintah harus mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga keseimbangan produksi nikel. Antara lain dengan mengedepankan efisiensi, serta mengoptimalkan nilai tambah dengan pemanfaatan teknologi dan energi terbarukan. Terpenting, pemanfaatan nikel sebagai sumber daya alam harus dilakukan secara bijaksana, dan harus bermuara pada sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

“Sebagaimana diamanatkan oleh Konstitusi, khususnya Pasal 33 ayat (3), bahwa bumi dan air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Selain itu, merujuk pada ketentuan Pasal 33 ayat (4), penyelenggaraan perekonomian nasional, termasuk di dalamnya pengelolaan sumberdaya alam, harus berpedoman pada prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian,” pungkas Bamsoet. (Rif)