UE Larang Kendaraan Emisi Karbon di 2050, Nikel Indonesia Pegang Peran Kunci

184
Andrew Digges dari Firma hukum multinasional Inggris-Amerika, Norton Rose Fulbright LLP (kiri). Foto: Nikel.co.id

NIKEL.CO.ID, 1 September 2022-Andrew Digges dari firma hukum multinasional Inggris-Amerika, Norton Rose Fulbright LLP, mengatakan, negara-negara di Uni Eropa berkomitmen akan mengurangi emisi (dekarbonisasi) hingga nol persen di 2050. Kebijakan European Green Deal telah menetapkan jalur untuk mencapai tujuan ini, di antaranya tidak ada emisi bersih Gas Rumah Kaca (GRK) pada 2050 dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan dari penggunaan sumber daya.

European Green Deal adalah sebuah kebijakan sebagai upaya Uni Eropa dalam menciptakan kawasan bebas emisi. Pada 2050, transportasi mewakili 25% dari total emisi GRK di UE. Tujuan UE adalah untuk mencapai pengurangan 90% dalam emisi terkait transportasi pada tahun 2050.

Andrew mengutarakan, untuk mewujudkan hal tersebut, pada 2030 nanti sebanyak 30 juta mobil dan 80.000 truk diberlakukan tanpa emisi.

“Pada Juli 2021, Komisi Eropa mengusulkan 2035 larangan penjualan kendaraan yang menghasilkan emisi karbon,” kata Andrew di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, dari kebijakan UE tersebut, diperkirakan akan terjadi ledakan produksi kendaraan listrik (electric vehicle). Pertumbuhan permintaan nikel sebagai bahan baku baterai listrik pun semakin meningkat.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional berbasis di Paris, IEA disampaikan Andrew, penjualan global EV di 2012 sebanyak 120.000 unit. Di tahun 2021 terjadi peningkatan penjualan global, sebanyak 3,3 juta unit di China, 2,3 juta di UE, dan 16,5 juta unit dari berbagai negara lainnya.

Ia memperkirakan penjualan global EV di 2030 semakin meningkat, di China menjadi 14,1 juta unit, di UE 7,1 juta unit, dan di negara lainnya sebanyak 137 juta unit.

Berdasarkan IEA, seiring diberlakukannya kebijakan nol emisi di UE pada 2050, permintaan nikel sebagai bahan baku semakin meningkat. Di pasaran UE, baterai lithium-ion dengan katoda kaya nikel menjadi pilihan yang lebih disukai untuk kendaraan ringan atau  performa tinggi. Menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi dan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, dan biayanya lebih rendah.

Disebutkan IEA, Perkiraan pertumbuhan permintaan nikel dari pertumbuhan EV di 2020 tidak mengalami perubahan, dari 80 kilo ton (KT) stabil di angka 80 KT nikel. Namun, di 2030 akan meningkat dari 647 KT menjadi 1,567 juta KT, dan di 2040 dari 950 KT menjadi 3,28 juta KT.

Nikel Indonesia Memainkan Peran Kunci 
Andrew mengatakan, Indonesia akan menjadi negara yang memainkan peran kunci seiring meningkatnya produksi EV global. Karena, Indonesia adalah negara pemilik kandungan dan cadangan nikel terbesar di dunia.

Ia kembali mengutip data IEA tahun 2019, disebutkan Indonesia Indonesia memiliki sekitar 31% produksi nikel global, sementara ketiga negara produsen nikel lainnya, yaitu Philipina, Rusia, dan Kanada jika digabungkan hanya memiliki 34% niikel pada 2025.
 “Indonesia akan menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan produksi global hingga tahun 2025,” kata Andrew.
Namun, menurut Andrew, pasokan nikel global di masa mendatang akan didorong oleh kemajuan, dan reaksi terhadap peristiwa yang terjadi di Indonesia.
Ia mencontohkan, pada  1 Januari 2020 Pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel, lebih awal dari yang direncanakan, untuk memelihara industri hilir. Dari kebijakan Pemerintah Indonesia ini pabrik penyulingan China mencari sumber pasokan bijih baru dari Filipina atau Kaledonia Baru.
Sebaliknya, kebijakan larangan ekspor raw material nikel Pemerintah Indonesia, justru menarik investor dari negara lain untuk memproduksi nikel di Indonesia. Perusahaan-perusahaan China, misalnya, berkomitmen untuk menginvestasikan US$ 30 miliar ke nikel Indonesia.
“Investasi Tsingshan di kawasan industri Morowali dan Teluk Weda adalah contoh yang menonjol,” ungkapnya. (Syarif)