Rencana Pembangunan Kawasan Industri Logam Di Kalimantan Dikecam Internasional

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikabarkan akan mengembangkan smelter logam baru yang dibangun dengan raksasa baja dan nikel China.

Namun, kritik tidak berhenti mengalir untuk industri yang baru rencana itu.

Dilansir dari South China Morning Post, smelter nikel yang dibangun Indonesia bersama Tsingshan Holding Group itu akan dibangun di Kalimantan.

Smelter baru digadang-gadang akan menyediakan Indonesia dengan investasi yang memang diperlukan untuk mengembangkan industri baterai kendaraan elektrik (EV) di Indonesia.

Namun banyak pakar lingkungan memperingatkan proyek itu berbahaya.

Perlu penanganan yang hati-hati agar tidak merusak lingkungan dan komunitas sekitar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, mengatakan minggu lalu jika Indonesia berbicara dengan Tsingshan dan Fortescue Metals Group dari Australia untuk membangun estate industrial baru sebagai tempat peleburan bijih besi, bijih nikel dan tembaga.

Ketiga logam itu penting untuk menyediakan kebutuhan global untuk teknologi baru.

Smelter itu akan berada dekat pembangkit listrik hidropower 11 ribu megawatt di provinsi Kalimantan Utara, yang saat ini sedang dibangun oleh perusahaan konstruksi energi China PowerChina dan perusahaan Indonesia Kayan Hydro Energy.

Fase pertama proyek pembangkit listrik hidropower itu diharapkan selesai pada 2025 mendatang.

Namun tambang Australia Fortescue Metals, salah satu penyumbang penting bijih besi Australia ke China, menjelaskan mereka tidak bekerjasama dengan Tsingshan untuk membangun estate industri baru, terutama pabrik smelter.

Alih-alih membantu China, melalui anak perusahaannya, Fortescue Future Industries, mereka akan membantu pemerintah Indonesia membangun lebih banyak proyek energi hijau seperti hidropower negara dan sumber geothermal.

Sesuai kesepakatan yang disepakati kedua negara tahun lalu, Fortescue Future Industries mengatakan akan melakukan studi kecocokan untuk mengembangkan lebih banyak proyek hijau bebas karbon.

Perusahaan itu juga akan membangun pembangkit listrik geothermal 25 Gigawatt (GW) dan pembangkit listrik 60 GW di Papua dan Kalimantan Timur dan Utara.

Proyek-proyek ini akan menguntungkan lebih banyak bisnis lokal dan rantai suplai mereka serta mendulang ekspor Indonesia, klaim perusahaan Australia itu.

“FFI berupaya mengambil posisi pemimpin dalam energi hijau dan industri produk hijau, menguatkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja saat kita berpindah dari bahan bakar fosil,” ujar CEO Fortescue Future Industries di This Week in Asia.

Menarik investor

Scott Ye, direktur PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, mengatakan rencana membangun pabrik logam di Kalimantan masih “didiskusikan”.

Bijih nikel yang ditambang dari tambang itu sebagaimana yang ditambang dari tambang nikel lain, Tambang Industri Morowali, kini digunakan besar-besaran untuk produksi stainless steel.

Namun Indonesia akan menggunakannya untuk produksi baterai lithium-ion tahun 2024.

Membangun smelter dekat pembangkit listrik hidropower artinya Tsingshan bisa mencapai tujuannya mengoperasikan tambang nol-karbon.

Dengan ini, tuntutan untuk menjadi pembuat kendaraan elektrik global akan terpenuhi.

Tsingshan bulan lalu umumkan mereka akan membangun 2000 megawatt pembangkit listrik solar dan angin di Indonesia dalam 5 tahun ke depan.

Sampai saat ini, smelter nikel di Indonesia bergantung pada energi dari pembakaran batubara.

“Ada banyak permintaan (untuk nikel hijau) dari baik perusahaan EV China atau negara lain.

“Namun ada juga banyak tekanan dari pemerintah, contohnya China, untuk mengurangi emisi karbon dioksida,” ujar Ye saat webinar yang diprakarsai Klub Koresponden Luar Negeri Jakarta.

Elon Musk, CEO Tesla, tahun lalu mengatakan perusahaannya akan memberikan “kontrak raksasa” untuk pembuat baterai yang dapat menyediakannya dengan nikel ramah lingkungan.

Indonesia sudah menargetkan untuk mendapatkan kontrak itu.

Nikel kembali dicari berkat pasar EV tapi juga karena AS dan negara lain mencari cara mengamankan rantai suplai logam penting itu, mengurangi ketergantungan pada satu penyuplai saja.

Indonesia sendiri memiliki sumber daya nikel terbesar di dunia yang diharapkan bertahan lebih dari 30 tahun.

Indonesia dulunya adalah produsen nikel terbesar sampai mendapat larangan ekspor bijih nikel tahun lalu untuk mengembangkan rantai suplai yang lengkap.

Kini tantangan yang dimiliki Indonesia adalah kurangnya dana, kemampuan dan teknologi yang diperlukan untuk mengembangkan sektor nikel, ujar Lin Che Wei, pendiri firma peneliti di Indonesia, Independent Research and Advisory Indonesia.

Tantangan lainnya adalah ancaman kerusakan lingkungan, yang berarti pabrik logam nikel harus tidak memiliki dampak negatif terhadap komunitas lokal dan hutan di Kalimantan.

Sumber: Intisari Online

Read More

Harga Nikel Terus Menurun, Ternyata Ini Penyebabnya

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel masih berada dalam tren penurunan. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Selasa (16/3), harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) untuk kontrak pengiriman 3 bulanan berada di level US$ 16.151 per ton. Harga ini menurun dari harga pada perdagangan Senin (15/3/2021), yang berada di level US$16.214 per ton.

Bahkan, level harga nikel saat ini semakin  jauh dari harga pada awal perdagangan bulan Maret 2021, yang mencapai level US$18.682 per ton.

Analis NH Korindo Sekuritas  Indonesia Maryoki Pajri Alhsunah menilai, penurunan harga nikel ini dikarenakan pasokan yang bertambah. Pasokan yang bertambah ini tidak terlepas dari beroperasinya kembali Norilsk Nickel (Nornickel). Nornickel  sendiri adalah perusahaan pertambangan nikel dan palladium raksasa yang berasal dari Rusia.

Di sisi lain, perusahaan nikel dari China, yakni Tsingshan juga akan menggenjot produksi untuk menyuplai kebutuhan industri baterai.

“Jadi dengan dua latar belakang itu dapat memicu naiknya pasokan nikel, sehingga harganya menurun,” terang Maryoki kepada Kontan.co.id, Rabu (17/3/2021).

NH Korindo Sekuritas memperkirakan harga nikel akan cenderung stabil di kisaran US$ 16.000- US$ 17.000 per ton tahun ini. Gerakan green energy yang dikampanyekan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, akan menjadi katalis positif untuk komoditas logam ini.

Pada Rabu (17/3/2021), harga saham sejumlah perusahaan nikel bergerak variatif. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 1,32% ke level Rp 2.300. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melemah 1,10% ke level Rp 4.510 dan saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) stagnan di level Rp 168.

Sumber: KONTAN

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

Harga Nikel Turun Terendah Sejak 2016 Setelah Ada Kesepakatan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Harga nikel di London merosot lebih dari 8% pada hari Kamis (04/03/2021) dan harga logam di Shanghai turun terbesar dalam sembilan bulan setelah adanya kesepakatan besar oleh perusahaan China Tsingshan yang meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan nikel untuk bahan baku baterai.

Harga patokan nikel diperdagangkan pada level tertinggi sepanjang enam tahun yang tembus pada minggu lalu di tengah ekspektasi lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik akan memacu kekurangan. Elon Musk mengatakan pada bulan Februari bahwa nikel adalah perhatian utama Tesla.

Nikel tiga bulan di London Metal Exchange turun sebanyak 8,5% menjadi $ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016, juga karena berita bahwa Norilsk Nickel mengharapkan untuk menstabilkan masalah banjir di tambang Oktyabrsky dan Taimyrsky minggu depan.

Kontrak nikel Juni yang paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange berakhir 6% lebih rendah pada 130.510 yuan ($ 20.180,61) per ton, membukukan kerugian harian terbesar sejak Mei 2020.

[Click here for an interactive nickel price chart]

Tsingshan Holding Group Co., produsen baja tahan karat terkemuka dunia, akan segera mulai memasok nikel matte ke produsen bahan baterai China dan berencana untuk memperluas investasi nikelnya di Indonesia. Matte adalah produk antara yang terbuat dari konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia kelas baterai.

“Produksi massal nikel matte Tsingshan memicu reformasi sisi pasokan. Hambatan pasokan nikel sulfat telah rusak. Ada ruang terbatas untuk harga nikel naik, “kata Huatai Futures dalam sebuah catatan.

Produsen nikel-pig-iron sekarang dapat membuat nikel matte dengan sedikit menyesuaikan proses pembuatannya, Celia Wang, seorang analis di Mysteel mengatakan kepada Bloomberg.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” katanya.

Penurunan harga nikel mendorong harga saham turun. Di Sydney, Nickel Mines Ltd. turun 10% dan IGO Ltd. kehilangan hampir 8%. Di Cina, Zhejiang Huayou Cobalt Co merosot 10% dan Ganfeng Lithium Co turun 9,7%.

(Dengan file dari Bloomberg dan Reuters)

Sumber: mining.com

Read More