Nilai Ekspor Indonesia April 2021 Cetak Rekor Tertinggi Dalam 10 Tahun

Ekspor Indonesia ke Tiongkok meningkat paling besar pada April 2021. Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi untuk negara tujuan India.

NIKEL.CO.ID –  Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 18,48 miliar pada April 2021. Angka tersebut mencetak rekor tertinggi sejak Agustus 2011 yang sebesar US$ 18,64 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, tingginya nilai ekspor pada bulan lalu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas di pasar global.

“Permintaan dari beberapa negara mitra dagang juga sudah semakin meningkat,” katanya dalam Konferensi Pers Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia April 2021, Kamis (20/5/2021).

Harga minyak mentah Indonesia naik hingga 200% pada bulan lalu jika dibandingkan April 2020. Namun, angka tersebut sedikit menurun 2,43% dibanding Maret 2021.

Sedangkan harga beberapa komoditas nonmigas juga naik cukup tinggi, antara lain minyak kelapa sawit, tembaga, timah, alumunium, dan emas. Harga minyak kelapa sawit naik 4,24% secara bulanan dan 76,5% secara tahunan. Lalu, tembaga 3,74% secara bulanan dan 84,4% secara tahunan, serta emas 2,43% secara bulanan dan 4,6% secara tahunan.

Suhariyanto mengatakan, nilai ekspor April 2021 tercatat naik 0,69% dibanding Maret 2021 sebesar US$ 18,35 miliar. Angka itu juga melonjak 51,94% dari April 2020 yang senilai US$ 12,16 miliar.

BPS melaporkan, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 2,19 miliar pada April 2021. Nilai ekspornya  dibandingkan impornya yang sebesar US$ 16,29 miliar.

Kenaikan ekspor secara bulanan didukung ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing 5,34% dan 0,44%. Secara tahunan, ekspor migas pun melonjak 69,6% dan nonmigas 51,08%.

Berdasarkan sektornya, ekspor pertanian tercatat US$ 340 miliar, turun 14,55% secara bulanan. Komoditas yang nilainya turun cukup besar secara bulanan adalah sarang burung, hasil hutan bukan kayu lainnya, tanaman obat aromatik dan rempah, kopi, dan buah-buahan.

Namun, secara tahunan ekspor komoditas itu tetap naik 18,98%. Penyebabnya, terdapat kenaikan ekspor tanaman obat aromatik dan rempah-rempah, lada hitam, serta cengkeh.

Selanjutnya, ekspor di sektor industri pengolahan senilai US$ 14,92 miliar, naik 0,56% dibanding Maret 2021 dan melesat 52,65% dibanding April 2020.

“Ini menunjukan sektor manufaktur mulai bergeliat,” kata dia.

Secara bulanan, ekspor industri pengolahan ditopang oleh pengiriman besi baja, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik dari pertanian, serta televisi dan perlengkapannya.

Kemudian, ekspor di sektor pertambangan sebesar US$ 2,27 miliar, naik 2,33% secara bulanan dan 47,02% secara tahunan. Kenaikan secara bulanan terjadi lantaran tingginya ekspor bijih tembaga dan bahan mineral lainnya.

Berdasarkan barang HS 2 digit, komoditas dengan nilai ekspor yang naik paling tinggi yakni besi dan baja US$ 246,2 juta, logam mulia perhiasan/permata US$ 177,2 juta, bijih terak dan abu logam US$ 108,2 juta, timah dan barang dari timah US$ 47,5 juta, serta mesin dan perlengkapan elektrik US$ 31,2 juta.

Untuk penurunan nilai ekspor paling besar terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati US$ 398,3 juta, pakaian dan aksesorisnya dari rajutan US$ 73,4 juta, pakaian dan aksesoris bukan rajutan US$ 66,4 juta, bahan bakar mineral US$ 44,1 juta, serta mesin dan peralatan mekanis US$ 38,5 juta.

Tiongkok Tujuan Utama Ekspor RI

Suhariyanto menyebutkan, Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia.

“Kemudian disusul Amerika Serikat dan Jepang,” ujar dia.

Ekspor ke Tiongkok meningkat paling besar pada April 2021 jika dibanding bulan sebelumnya. Kenaikannya mencapai US$ 201,2 juta. Negara tujuan ekspor yang nilainya cukup besar lainnya adalah Swiss, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia.

Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi ke India. Realisasinya di US$ 123,8 juta. Kondisi ini terjadi karena Negeri Bollywood yang sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19. Penurunan ekspor terbesar selanjutnya terjadi ke Italia, Bangladesh, Jepang, dan Belanda.

Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2021, Suhariyanto menyampaikan total ekspor RI mencapai US$ 67,38 miliar, naik 24,96% dari US$ 53,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

“Ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi berjalan sesuai yang kita harapkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis lonjakan harga komoditas akan membantu percepatan pemulihan ekonomi domestik.

“Lonjakan harga ini membantu kita pulih lebih cepat,” kata Airlangga pada Rabu pekan lalu.

Komoditas yang mengalami lonjakan harga adalah nikel, minyak sawit mentah, karet, tembaga, dan emas. Kenaikan tersebut juga seiring meningkatnya permintaan global. Karena itu, Airlangga berharap Indonesia dapat mengoptimalkan tingginya harga komoditas dengan hilirisasi.

“Sehingga dapat membantu pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Nilai Ekspor Indonesia April 2021 Cetak Rekor Tertinggi dalam 10 Tahun“.

Read More

Hilirisasi Nikel Beri Sumbangan Besar Terhadap Neraca Perdagangan

NIKEL.CO.ID – Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal menyebutkan bahwa harga komoditas masih cukup berperan dalam surplus perdagangan Indonesia di Januari 2021. Tren paruh semester 2020 mendongkrak ekspor , tapi di sisi lain buah dari hilirisasi nikel dan beberapa produk tambang mulai terlihat.

“Paling signifikan itu nikel, soalnya ekspor besi nirkaratnya meningkat. Itu turunan keempat dari nikel. Kita sudah menjadi pengekspor stainless terbesar kedua setelah China,” ungkap Faisal dalam IDX Channel Market Review Live di Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Indonesia sempat di-push oleh Eropa akibat melakukan moratorium sepanjang 2020. Pasalnya, membuat mereka tidak mendapatkan nickel ore secara murah.

“Tapi tuduhan ini masih lemah, dan strategi hilirisasi kita semakin kelihatan,” tambahnya.

Bahkan, ekspor di beberapa negara tujuan ekspor secara umum seperti Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang meningkat. Terlebih untuk ekspor tekstil, elektronik, dan agrikultur.

Faktornya karena China tumbuh dan tidak resesi, tapi kondisi industri mereka belum optimal. Jadi mereka butuh bahan baku dari Asia Tenggara seperti besi baja dan batu bara.

“AS juga, mereka memikirkan untuk memindahkan basis produksinya dari China ke tempat lain seperti ASEAN. Ini merupakan perlebaran portofolio,” terang Faisal.

Dari pandemi, AS belajar bahwa pemfokusan produksi yang terlalu terpusat rentan terkena shock, dan juga dipicu oleh perang dagang AS-China beberapa tahun belakangan.

“Maka dari itu AS melakukan pelebaran portofolio, dan mereka mencari alternatif karena pasca-pandemi mereka tidak lagi mengejar efisiensi, tapi resiliensi,” pungkas Faisal.

Sumber: SindoNews.com

Read More