Teknologi STAL Disebut Sebagai Solusi Atas Permintaan Tesla

NIKEL.CO.ID – KONSULTAN ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini. Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas. Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi dalam keterangannya, Jumat (16/4/2021).

Karena itu, Aldi meyakini jika bangsa Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, ungkap dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, misalnya mereka mau datang dan berinvestasi di Indonesia.

“STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia. Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini jika STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Menurut Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Lebih lanjut, Petrus mengatakan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG. Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL. Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya. Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Sumber: mediaindonesia.com

 

Read More

Sudah Teruji, ESDM Sebut Teknologi STAL Terobosan Strategis Olah Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM, Iman Sinulingga memaparkan finalisasi pengujian atau validasi teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), pada Selasa (6/4/2021) di Bogor.

Berdasarkan paparan hasil akhir uji validasi tersebut, teknologi STAL terbukti mampu meningkatkan recovery Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) hingga mencapai 94% Ni dan 95% Co.

“Kami menyambut baik hasil pengujian validasi teknologi yang sudah dilakukan tim PSDMBP, tim ITB Prof. Zaki (Prof. Zaki Mubarok), dan tim PT TMM (PT Trinitan Metals & Minerals Tbk), dengan hasil recovery nikel dan kobalt yang bisa mencapai 94% nikel dan 95% kobalt. Merupakan hasil yang membanggakan, sehingga teknologi STAL ini dapat dikatakan sudah teruji,” ujar Iman Sinulingga.

Adapun, teknologi STAL merupakan teknologi pengolahan mineral secara hidrometalurgi, yang dikembangkan oleh TMM dan dimiliki oleh PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI). Teknologi karya anak bangsa ini disebut mampu mengkonversi bijih nikel laterit berkadar rendah menjadi Pregnant Leach Solution (PLS) dalam waktu 4 jam, serta dapat diolah ke produk lanjutannya seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Menurut Iman Sinulingga, pengembangan teknologi STAL yang mampu mengolah bijih nikel laterit berkadar rendah merupakan terobosan teknologi yang sangat strategis. Lebih lanjut, Iman juga menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung agar penerapan teknologi STAL dapat segera diwujudkan dalam skala industri, sehingga bahan baku nikel berkadar rendah dapat termanfaatkan.

“Kami juga mengetahui bahwa tim ahli TMM telah melakukan kajian komersialisasi, dimana teknologi STAL pada skala industri sudah dinilai layak secara ekonomi. Sehingga, kami berharap agar TMM dapat segera mewujudkan suatu industri baterai listrik dengan memanfaatkan Ni-Co laterit berkadar rendah,” kata Iman Sinulingga.

Pada kesempatan yang sama, ahli hidrometalurgi dari ITB, Prof. Zaki Mubarok mengatakan bahwa teknologi STAL terbukti mampu mengolah bijih nikel kadar rendah secara efektif. Secara teknis, kata dia, teknologi STAL sudah bisa mengekstraksi nikel dengan recovery yang baik, kemudian konsumsi asam juga bisa diturunkan dibandingkan dengan direct leaching.

“Untuk nikel bervariasi pada rentang 87-94%, sementara untuk kobalt pada rentang 90-95%. Tergantung pada variabel prosesnya. Menurut saya itu sudah positif ya. Jadi, teknologi STAL justru lebih cocok untuk bijih nikel laterit yang kadar rendah,” tutur Prof. Zaki.

Sementara itu, Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Bapak Iman Sinulingga dan tim PSDMBP Badan Geologi Kementerian ESDM, maupun Prof. Zaki Mubarok dan tim Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi ITB Bandung atas dukungan dan pendampingan yang diberikan dalam melakukan pengujian terhadap teknologi hidrometalurgi STAL.

“Kami berharap agar teknologi STAL yang kami kembangkan ini dapat berkontribusi secara penuh dalam mendukung cita-cita hilirisasi nikel di Indonesia.” pungkas Petrus Tjandra.  (Admin)

Read More

Petrus Tjandra: Sangat Disayangkan Hilirisasi Nikel RI Hanya Sampai Tahap MHP Saja

NIKEL.CO.ID Direktur Utama PT Trinitan Metals and Minerals (TMM), Petrus Tjandra mengapresiasi positif rencana pemerintah untuk melakukan hilirisasi nikel.

Untuk itu, Petrus mengingatkan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh pemangku kepentingan, guna mendukung cita-cita hilirisasi nikel.

Hal pertama, soal kemampuan industri Smelter lokal dalam melakukan pengolahan nikel hingga menghasilkan nikel murni. Kedua, soal limbah olahan dan komitmen pelaku industri dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Pertama, hilirisasi nikel perlu didukung oleh kemampuan smelter lokal untuk menghasilkan nikel murni. Sangat disayangkan jika sebagian besar smelter nikel hanya melakukan pengolahan sampai tahap MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) saja. Kalau begitu namanya hilirisasi tanggung dong,” ujar Petrus Tjandra, dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/02/2021).

Petrus berharap bahwa setiap pemangku kepentingan yang terkait dalam industri hilirisasi nikel, memiliki sudut pandang yang sama dalam melihat persoalan ini.

Kemampuan smelter lokal untuk mengolah bijih nikel laterit sampai menjadi nikel murni, menurut Petrus, menjadi tantangan tersendiri bagi smelter lokal untuk benar-benar menghilirkan pengolahan nikel dalam beberapa tahun mendatang.

“Jika smelter lokal hanya melakukan pengolahan sampai tahap MHP saja, lalu siapa yang akan melakukan pengolahan selanjutnya, hingga menghasilkan nikel murni? Masa langsung diekspor ke luar negeri?,” kata Petrus.

Sebaliknya, menurut Petrus, TMM mampu dan sudah memiliki fasilitas berskala industri, untuk mengolah MHP menjadi nikel murni 99,96% dengan kapasitas produksi sekitar 1.200 ton per tahun, serta untuk mengolah MHP menjadi NCM precursor (bahan baku baterai lihitum) dengan kapasitas 5.000 ton per tahun.

Walaupun demikian, lanjutnya, TMM terus berupaya melakukan penambahan kapasitas produksi melalui pembangunan smelter Hidrometalurgi STAL (Step Temperature Acid Leach) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu.

Selanjutnya, Petrus juga menekankan hal kedua yang perlu diperhatikan, yakni pentingnya komitmen industri untuk menjaga lingkungan dan memperhatikan persoalan limbah olahan.

Menurut Petrus, salah satu metode proses pengolahan hidrometalurgi yang banyak digunakan saat ini justru menghasilkan limbah olahan berbentuk lumpur (tailing) yang kerap kali dibuang ke laut dalam.

“Kemampuan mengolah saja tidak cukup. Perhatikan teknologi pengolahannya seperti apa, pengelolaan limbahnya bagaimana, jangan sampai jadi ancaman untuk lingkungan perairan,” ucapnya.

“Melakukan rehabilitasi lingkungan apa tidak? Program untuk mengkomodasi aspek lingkungan juga perlu dibuat, bila perlu dijadikan standar operation, karena hilirisasi nikel butuh tata kelola yang ramah terhadap lingkungan,” terang Petrus.

Soal limbah olahan, Petrus menegaskan bahwa teknologi STAL yang dikembangkan oleh TMM tidak menghasilkan limbah olahan berbentuk lumpur (tailing).

Residu yang dihasilkan oleh STAL memiliki kandungan Besi (Fe) sekitar 80%, dan bahkan dapat diolah menjadi iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun diolah menjadi bentuk batu bata (brick), yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Selain itu, TMM melalui entitas anak perusahaannya, yaitu PT Hydrotech Metal Indonesia juga tengah menginisiasi program yang berfokus pada aspek environmental, social and governance (ESG), untuk mewujudkan praktik bisnis yang tidak mencederai lingkungan hidup.

Sumber: jurnalnews.id

Read More