Mau Jadi Raja Baterai, Intip ‘Harta Karun’ Terbaru Nikel RI

NIKEL.CO.ID – Indonesia bercita-cita menjadi raja baterai dunia di masa depan. Dengan pembentukan Holding BUMN Industri Baterai atau yang dikenal Indonesia Battery Corporation (IBC), Indonesia akan memenuhi kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di dalam dan luar negeri.

Lalu, seberapa besar ‘harta karun’ nikel RI yang jadi bahan baku baterai?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.

Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.

Sementara untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.

Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.

Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.

Sebelumnya, Ketua Tim Percepatan Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan bahwa pasar luar negeri menginginkan produk baterai kendaraan listrik berkualitas tinggi, sehingga ini akan menjadi perhatian bagi IBC untuk memproduksi baterai.

Untuk itu, menurutnya dibutuhkan penguasaan teknologi yang tinggi dan juga riset dan pengembangan baterai yang berkelanjutan.

Dia mengakui bahwa teknologi dalam negeri belum bisa secara mandiri untuk memproduksi baterai mobil listrik. Oleh karena itu, dibutuhkan mitra strategis yang menjadi anggota konsorsium untuk mengadaptasi teknologinya.

“Teknologi dalam negeri belum bisa, kita harus cari partner. Ada 11 perusahaan yang kita dekati, paling tidak ada dua perusahaan yang intens berbicara dengan kita. Teknologi itu nanti berasal dari partner kita, di mana dalam perjanjian kerja sama ada transfer teknologi yang dilakukan,” kata Agus dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (24/5/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Maju Mundur Kedatangan Tim Tesla ke Indonesia Hingga Rencana Negosiasi Pekan Depan

NIKEL.CO.ID – Angan-angan Indonesia ingin mengembangkan kendaraan bertenaga listrik, perlahan-lahan mulai direalisasikan pada tahun ini.

Pemerintah pun lagi getolnya mencari investor luar negeri agar mau terlibat dalam pengembangan kendaraan berbasis listrik tersebut.

Salah satunya Tesla Inc, yang sejak tahun 2020 kerap jadi incaran Pemerintah Indonesia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut andil meyakinkan CEO SpaceX sekaligus pendiri Tesla, Elon Musk agar mau berinvestasi di Indonesia.

Hal ini diketahui dari perbincangan Jokowi kepada Elon Musk sejak 11 Desember lalu, melalui sambungan telepon.

Dalam perbincangan via telepon, kedua belah pihak saling bertukar pandangan mengenai kendaraan listrik beserta komponen utamanya baterai listrik.

Di akhir perbincangan keduanya, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa Elon Musk akan mengirimkan timnya ke Indonesia untuk mendalami perbincangan dengan Presiden.

Kedatangannya Sempat Tertunda

Awalnya, Menko Luhut mengatakan bahwa tim Tesla akan mengunjungi Indonesia pada Januari 2021.

Bahkan, Luhut memastikan bahwa Tesla mulai tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

“Tesla juga sudah menyampaikan minat yang kuat untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka akan melakukan kunjungan pada nanti tahun depan bulan Januari,” kata Luhut dalam sambutannya secara virtual pada acara Peluncuran Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), Kamis (17/12/2020).

Rupanya, rencana kedatangan tim Tesla yang tadinya dijadwalkan Januari tahun ini, diundur menjadi Februari 2021.

Namun, lagi-lagi rencana tim Tesla ke Tanah Air di awal Februari kembali ditunda.

Hal ini lantaran adanya kebijakan dari pemerintah melarang masuknya warga negara asing (WNA) ke Indonesia.

Tujuan kebijakan tersebut dibuat untuk mencegah peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, yang baru-baru ini terus melonjak hingga mencapai total 1 juta kasus.

Jadwalkan Negosiasi

Kendati tidak hadir secara fisik, Pemerintah RI terus berkomunikasi dengan pihak Tesla melalui saluran video call.

Luhut menyebutkan, sebanyak enam kali dirinya melakukan interaksi virtual hingga berujung perjanjian Non-Disclosure Agreement (NDA).

“Kami sudah enam kali vidcall dan NDA sudah ditandatangani, saya pikir hari ini atau besok, kami akan terima proposal dari mereka,” kata Luhut melalui tayangan virtual, Rabu (3/2/2021).

NDA telah diteken dan proposal pun telah diterima Luhut pada Kamis (4/2/2021) untuk ditelaah sebelum mencapai suatu kesepakatan bersama.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan, pemerintah akan segera bernegosiasi dengan tim Tesla mulai pekan depan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Maju Mundur Kedatangan Tim Tesla ke Indonesia Hingga Rencana Negosiasi Pekan Depan

Read More

Menanti Peta Jalan Pengembangan Baterai Lithium di Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peta jalan pengembangan baterai lithium telah rampung dibahas. Target produksinya pada 2023.

NIKEL.CO.ID – Pemerintah berambisi menjadikan Indonesia sebagai produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia. Hilirisasi bahan bakunya, yaitu nikel, terus digenjot. Begitu pula investasi untuk pembangunan pabriknya.

Peluang ini memang terbuka lebar mengingat saat ini industri otomotif sedang bertransisi ke kendaraan listrik. Cadangan nikel dalam negeri juga melimpah dan merupakan yang terbesar secara global.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total produksi nikel di dunia pada tahun lalu berada di angka 2,6 juta ton. Sementara secara global, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan menghasilkan 800 ribu ton.

Puncak produksi olahan nikel terjadi pada tahun lalu. Kementerian ESDM mencatat produk olahannya mencapai hampir 2 ton. Angka ini melebihi target 860 ribu ton karena ada tambahan produksi dari pabrik pemurnian atau smelter PT Virtue Dragon di Konawe, Sulawesi Tenggara, yang menghasilkan 745 ribu ton.

Jumlah smelter nikel di Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan pabrik pemurnian mineral lainnya. Selain Virtue Dragon dari Tiongkok, pemilik smelter nikel lainnya adalah PT Aneka Tambang Tbk, PT Vale Indonesia, PT Fajar Bhakti, PT Sulawesi Mining Investment, PT Gabe, PT Cahaya Modern, PT Indoferro, PT Century Guang Ching, PT Titan, PT Bintang Timur, dan PT Megah Surya Pertiwi.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peta jalan pengembangan baterai lithium telah rampung dibahas.

“Kami optimistis di 2023 sudah dapat memproduksinya dengan teknologi terkini,” katanya dalam The 9th Indonesia EBTKE Virtual Conference and Exhibition 2020, Rabu (25/11/2020).

Biaya produksi baterai dalam satu dekade terakhir terus menurun. Hal ini membuat harga produknya lebih murah. Dari US$ 1.160 per kilowatt hour (kWh) pada 2010 menjadi US$ 156 per kilowatt hour pada 2019.

Bahan bakunya yang banyak menggunakan bijih nikel, membuat negara ini dapat menjadi pemain global baterai lithium.

“Potensi nikel kita terbesar dan biayanya lebih rendah dari Australia,” ujar Luhut.

Dengan kondisi itu, pemerintah berkomitmen tak lagi membuka keran ekspor bijih nikel. Fokusnya sekarang adalah hilirisas dengan cara membangun pabrik baterai.

Regional Climate and Energy Campaign Coordinator Greenpeace Indonesia Tata Mustasya menilai saat ini baterai lithium merupakan kunci pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan secara masif, terutama untuk pembangkit listrik tenaga matahari atau PLTS.

Baterai juga merupakan kunci untuk desentralisasi energi dalam bentuk pemasangan solar panel di rumah tangga, kantor, dan industri. Proyeksi bisnis baterai ke depan cukup cerah. Kesadaran masyarakat dunia terkait pentingnya transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) pun kian meningkat.

Peranan pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan energi bersih memang masih cukup besar. Namun, pasar dalam negeri akan tercipta dengan sendirinya dalam satu dekade mendatang. Kondisi ini seiring turunnya biaya energi terbarukan dibandingkan fosil, terutama batu bara.

Industri Baterai Perlu Jaminan Akses Lithium

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyampaikan pengembangan industri baterai perlu mendapat jaminan pasokan bahan baku utamanya. Indonesia merupakan penghasil nikel dan kobalt tapi tidak memiliki lithium.

“Negara terdekat yang memproduksinya adalah Australia,” ujarnya.

Pemerintah juga perlu menyiapkan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang akan menyerap produksi baterai lithium. Penyerapannya tak cukup hanya untuk kendaraan berpenumpang roda empat, tapi juga bus dan kendaraan roda dua. Jaminan permintaan pasar ini akan memberi kepastian pada sektor hulu (tambang nikel) hingga hilirnya (pabrik baterai).

Tuntutan dunia internasional saat ini adalah melaksanakan bisnis yang ramah lingkungan. Karena itu, industri hulu dan seluruh rantai pasokan baterai lithium perlu mengedepankan praktik bisnis berkelanjutkan dan mengeluarkan emisi karbon serendah mungkin.

Standar-standar internasional itu harus terpenuhi apabila pemerintah ingin produk baterai dalam negeri masuk ke industri global. Sejalan dengan hal tersebut, angka bauran energi Indonesia juga perlu ditingkatkan untuk menunjukkan komitmen mengurangi emisi.

“Dengan demikian upaya dekarbonisasi energi negara ini dapat terwujud,” ucap Fabby.

Cadangan nikel yang besar dan maraknya pengembangan kendaraan listrik membuat prospek industri baterai lithium cerah. Apalagi saat ini terjadi tren pergeseran ke energi terbarukan di seluruh dunia.

“Ini jelas menjadi peluang yang besar. Tinggal bagaimana kemudahan dan kepastian berinvestasi bisa dijamin oleh pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan.

Holding baterai yang akan mengelola industri baterai kendaraan listrik dalam negeri dari hulu hingga ke hilir melibatkan tiga badan usaha milik negara (BUMN) yang besar.

Ketiganya adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (MIND ID), Pertamina, dan PLN. Rencana pembentukan holding PT Indonesia Baterai secara resmi ditargetkan kelar dalam waktu dekat.

Direktur Utama Indonesia Asahan Aluminum atau MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan prosesnya legalnya hampir selesai.

Dua perusahaan asing telah menyatakan minatnya bergabung dalam bisnis ini, yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea. Keduanya termasuk produsen baterai kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia.

Proyek Kendaraan Listrik Tak Sejalan dengan Transisi Energi

Tak hanya roadmap pengembangan baterai lithium di Indonesia, Kementerian ESDM juga tengah menggodok peta jalan untuk percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik beserta infrastruktur pendukungnya.

Salah satunya melalui skema stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) dan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Berdasarkan peta jalan itu, setidaknya dibutuhkan investasi sebesar Rp 309 miliar di tahun ini untuk pembangunan SPKLU.

Angkanya akan terus meningkat hingga Rp 12 triliun pada 2030 untuk membangun 7 ribu SPKLU. Masyarakat bisa mengisi ulang kendaraan bermotor listriknya di stasiun pengisian listrik ini. untuk penukaran baterai kendaraan bermotor listrik dapat melalui SPBKLU.

Skema bisnisnya telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 yang merupakan aturan pelaksana dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Dalam aturan tersebut, PLN juga ditugaskan untuk menyediakan infrastruktur SPKLU dan SPBKLU. Perusahaan setrum negara ini juga dapat menggandeng berbagai pihak untuk turut serta terjun dalam skema bisnis itu.

Tata Mustasya mengatakan peta jalan kendaraan listrik masih belum sejalan dengan kebijakan transisi energi.

“Ini hanya memindahkan dampak buruk dari sektor transportasi ke sektor kelistrikan karena masih terkunci pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU batu bara,” ujarnya.

Langkah lebih konkret adalah mengubah bauran energi di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 hingga 2030. Di RUPTL terakhir (2019-2028) PLTU batu bara masih berkontribusi sebesar 48% pasokan listrik di Indonesia.

“Ini masih akan mengunci Indonesia dalam 30 hingga 40 tahun ke depan,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Menanti Peta Jalan Pengembangan Baterai Lithium di Indonesia

Read More

Pada 2025, Dibutuhkan Sebanyak 164 Ribu Ton Nikel Untuk Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sedang gencar meningkatkan kapasitas produksi dan diharapkan menjadi penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Sedangkan tren peningkatan permintaan nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik bakal menjadi faktor pendongkrak harga jual komoditas tersebut dalam jangka panjang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, Vale Indonesia sedang melanjutkan ekspansi kapasitas produksi untuk menopang pertumbuhankinerja keuangan ke depan.

Sedangkan di pasar nikel, perseroan mengindikasikan bahwa permintaan nikel kelas satu untuk bahan baku baterai tetap solid ke depan. Begitu juga permintaan nikel kelas dua untuk bahan baku pembuatanbaja nirkarat diperkirakan surplus tahun ini.

“Untuk mendongkrak produksi nikel Vale Indonesia sejalan dengan peningkatan permintaan pasar, perseroan merencanakan peningkatan kapasitas produksi nikel menjadi 90 ribu ton dari perkiraan saat ini sekitar 75-80 ribu ton. Peningkatan kapasitas akan dilakukan dengan pengembangan fasilitas pemrosesan nikel baru di Sorowako, Sulawesi Selatan,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Saat ini, dia menyebutkan, manajemen Vale Indonesia sedang melakukan studi visibilitas untuk penambahan satu jalur produksi rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk memproduksi feronikel dengan kapasitas produksi mencapai 10 ribu ton. Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas produksi terwujud sebelum kontrak kerja berakhir tahun 2025.

Vale Indonesia juga sedang merencanakan dua proyek jangka panjang yang hingga kini masih dalam tahap studi kelayakan dan ditargetkan sudah ada kesimpulan investasinya pada akhir 2021. Proyek pertama adalah fasilitas pemrosesan RKEF di Bahodopi,Sulawesi Tengah, yang bekerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok untuk membangun nickel pig iron (NPI).

Sedangkan proyek kedua yang sedang memasuki studi, ungkap Stefanus, adalah fasilitas pemrosesan smelter HPAL (high pressure acid leach) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Perseroan bermitra dengan Sumitomo Metal Mining untuk menggarap smelter baru tersebut yang diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 2,5 miliar. Smelter tersebut ditargetkan kapasitas produksi 40 ribu ton per tahun. Proyek ini bisa dilanjutkan dengan rata-rata harga pembelian nikel sebesar US$ 16-18 ribu per ton.

Jika investasi ini berjalan lanjar dibutuhkan waktu 4-5 tahun untuk pembangunan fasilitas. Terkait pasar nikel, menurut Stefanus, diperkirakan surplus tahun ini dengan asumsi beberapa produsen nikel beroperasi secara normal, khususnya produksi nikel kelas dua untuk baja nirkarat. Hal berbeda untuk pasar nikel kelas satu yang diprediksi tetap solid dalam jangka panjang.

“Kami memperkirakan permintaan nikel kelas satu untuk kebutuhan baterai mobil listrik akan tetap solid,” sebut dia.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 5.200. Target harga tersebut menggambarkan ekspektasi harga nikel yang solid ke depan dan tren peningkatan kinerja keuangan yang didukung oleh pengembangan proyek di Pomalaa dan Bahodopi. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 30,8 kali.

Target harga tersebut juga mencerminkan perkiraan peningkatan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 92 juta tahun ini dan diharapkan melonjak menjadi US$ 115 juta pada 2021, dibandingkan realisasi tahun lalu US$ 57 juta.

Pendapatan juga diharapkan tumbuh menjadi US$ 797 juta dan menjadi US$ 899 juta pada 2021, dibandingkan perolehan tahun lalu US$ 782 juta.

Sebelumnya, analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, pertumbuhan industri mobil listrik ditambah penurunan pasokan nikel global akan menjadi faktor utama pendongkrak keuntungan bersih Vale Indonesia sepanjang tahun ini.

Kedua faktor tersebut akan menaikkan harga jual komoditas tersebut yang berdampak pada peningkatan margin keuntungan perseroan.

Sejak pelarangan ekspor bijih nikel diterapkan oleh Pemerintah Indonesia, harga jual komoditas ini berangsurangsur membaik terhitung sejak Maret 2020. Bahkan, kenaikan juga didukung oleh percepatan pemulihan ekonomi Tiongkok dan rendahnya pasokan nikel global dari Indonesia. Pelarangan ekspor nikel berimbas terhadap turunnya suplai bijih nikel di Tiongkok hingga 70% yang diimpor dari Indonesia.

Sedangkan produksi baja nirkarat Tiongkok meningkat sekitar 8,5% pada semester I-2020, seiring dengan ekonomi Tiongkok yang mulai rebound.

Selain faktor pelarangan ekspor bijih nikel dan lonjakan permintaan dari Tiongkok, peningkatan permintaan bijih nikel bakal didukung oleh lonjakan industri kendaraan listrik dengan target pangsa pasar mencapai 10% pada 2025 dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 2,5%.

Pangsa pasar mobil listrik diprediksi kembali bertumbuh sebesar 28% pada 2030 dan mencapai 58% pada 2040.

Target pangsa pasar mobil listrik tersebut setara dengan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan kendaraan listrik mencapai 26,2% dari tahun 2019 hingga 2025. Sedangkan berdasarkan data tahun 2019, sebesar 7% dari konsumsi nikel dunia terpakai untuk baterai mobil listrik.

Jika diasumsikan penjualan kendaraan listrik mencapai 8,5 juta per tahun pada 2025, maka dibutuhkan sebanyak 164 ribu ton nikel per tahun untuk mendukung kendaraan listrik tersebut. Angka tersebut setara dengan 6,9% dari total konsumsi nikel global tahun 2019.

“Peningkatan penjualan mobil listrik tentu juga harus didukung oleh penguatan infrastruktur dan harga jual yang sesuai dengan permintaan pasar.

Saat ini, harga baterai mencapai US$ 160 per kwh dan diharapkan turun di bawah US$ 100 per kwh pada 2024,” tulis Hasbie dan Willinoy dalam risetnya.

Trimegah Sekuritas memproyeksikan kenaikan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 93 juta tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai US$ 57 juta.

Lonjakan laba bersih akan didukung oleh peningkatan margin keuntunganbersih (net margin) perseroan dari 7,3% menjadi 12,3%. Sedangkan pendapatan perseroan diperkirakan turun dari US$ 782 juta menjadi US$ 758 juta sepanjang 2020.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Ekspansi Vale Indonesia Berlanjut

Read More

Luhut: Peta Jalan Hilirisasi Enam Sumber Daya Alam Akan Selesai Pada 30 November 2020

Pada 2023, Indonesia akan memiliki smelter yang menghasilkan asam sulfat yang digunakan untuk produksi baterai lithium.

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia bisa memiliki industri lithium baterai pada 2023. Hal ini bisa terealisasi jika penandatanganan kerja sama pembangunan industri baterai dengan investor dapat dilakukan Maret 2021, maka dalam 18-24 bulan kemudian Indonesia bisa memiliki smelter tembaga.

Smelter tersebut dapat menghasilkan asam sulfat yang digunakan untuk produksi baterai lithium, sehingga pada 2023 Indonesia bisa memproduksi baterai. Hilirisasi menurutnya memberikan nilai tambah dari segala hal termasuk membuka lapangan pekerjaan dan pendapatan negara.

“Semua orang apresiasi dengan hilirisasi karena semua ada, nilai tambah ada misalnya nikel, nilai ekspor besi baja akan masuk US$ 10 miliar, itu mengalahkan kendaraan roda empat, ini belum sampai lithium baterai,” kata Luhut, Rabu (25/11/2020).

Dia mengharapkan ke depannya investasi yang masuk dengan teknologi tinggi yang bisa mengolah nikel dan hasil bumi RI. Pihaknya pun tengah menyusun peta jalan hilirisasi enam sumber daya alam, seperti bauksit, nikel, tembaga, bersama dengan perguruan tinggi UI, ITB, dan UGM. Hasil kajian ini akan selesai pada 30 November dan akan dilaporkan ke Presiden Joko Widodo.

“Indonesia memiliki cadangan metal yang cukup menjadi pemain itu, kita punya semua 80%, kita harus menjadi bagian global supply chain. Kalau Indonesia jadi bagian global supply chain kita juga akan memberikan pengaruh pada dunia,” katanya.

Saat ini Sulawesi menjadi episentrum nikel di Indonesia. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Freeport Gandeng Tsingshan Bangun Smelter Copper-Nickel

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Freeport Indonesia akan bekerja sama dengan perusahaan baja asal Tiongkok, yaitu Tsingshan Steel Indonesia untuk membuat smelter copper-nickel.

“Tadi malam kami membahas soal kerja sama pembuatan smelter copper-nickel dengan Freeport dan Tsingshan, perusahaan dari Tiongkok,” ujarnya dalam acara diskusi virtual, Rabu (25/11/2020).

Menurutnya, pembuatan smelter tersebut akan segera dimulai dengan target penyelesaian pada 2023. Smelter ini akan memproduksi sulfida yang menjadi bahan baku baterai lithium.

“Mereka juga akan memproduksi sulfida yang bisa jadi bahan baku lithium battery,” ucapnya.

Luhut yakin, keberadaan smelter ini dapat membuat Indonesia menjadi pemain global di industri baterai listrik.

“Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok baterai listrik global,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemerintah sendiri berencana membangun pabrik baterai lithium di Weda Bay, Halmahera. Menurutnya, di sana sudah ada kawasan industri nikel yang besar.

“Karena bijih nikel dan tembaga juga akan ada di sana. Saya pikir di sana ukurannya 10 ribu hektare, itu akan menjadi industri yang mega-integrated,” tuturnya.

Sumber: JawaPos.com

Read More

Bisakah Indonesia Jadi Penghasil Baterai Mobil Listrik No. 1 di Dunia?

 

 

NIKEL.CO.ID – Era mobil berbahan bakar listrik semakin nyata di depan mata.

Produsen-produsen otomotif berlomba memperkenalkan produksi mobil listrik mereka, tak hanya di pasar dunia tapi juga di Indonesia, seperti Tesla, Toyota, Nissan, Hyundai, hingga KIA.

Seberapa besar dampaknya jika mobil listrik ini bisa meluncur di jalanan Indonesia?

Penggunaan mobil yang diklaim lebih ramah lingkungan ini terus didorong di Indonesia, memangnya infrastrukturnya sudah siap?

Berikut ulasan tim Kompas Bisnis.

Soal mobil listrik ini semacam ayam dan telur, mana duluan yang harus didahulukan.

Sebenarnya pemerintah menargetkan produksi mobil listrik di 2025 bisa mencapai 20 persen dari total produksi otomotif.

Nah, Kementerian ESDM dan PLN yang tugasnya membangun stasiun pengisian listrik pun sudah dapat penugasan untuk membangun stasiun pengisian listrik.

Tapi jangan sampai mobil listrik yang digadang-gadang ramah lingkungan, listriknya masih tidak ramah lingkungan karena menggunakan tenaga batu bara.

Kendala lain, mobil listrik di Indonesia cenderung mahal. Sementara pasar otomotif di Indonesia terbanyak adalah pembeli mobil di bawah Rp 250 juta.

Dampak terbesar dari penggunaan mobil listrik ini sudah pasti bahan bakar minyak konsumsinya akan makin berkurang.

Data dari AFP Industrial menyebut, akan ada penghematan hingga 250 miliar dollar seluruh negara di dunia ketika permintaan minyak turun hingga 70 persen dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Contoh salah satu negara yang jor-joran dengan mobil listrik yaitu Tiongkok.

Studi yang dilakukan carbon tracker, lembaga pengawas industri menyebut nanti di 2030 Tiongkok bisa menghemat 80 miliar dollar atau sekitar Rp 1.100 triliun karena mobil listrik.

Sebagai perbandingan pendapatan negara dari pajak di APBN 2021 mencapai 1.400 triliun.

Tahun lalu Tiongkok sudah menjual kendaraan listrik.

Di Indonesia penggunaan Pertalite saat ini paling besar konsumsinya.

Pertamina lagi gencar mendorong masyarakat supaya beralih ke bahan bakar yang dianggap lebih ramah lingkungan yaitu Pertalite.

Sekarang pertamina bahkan mendiskon Pertalite yang bisa dinikmati pengendara roda 2, roda tiga, angkot dan taksi plat kuning.

Sebenarnya pemerintah punya aturan penggunaan BBM beroktan di bawah 91 harusnya sudah tidak boleh.

Di dunia saja cuma ada 7 negara yang pake BBM beroktan di bawah 91, termasuk Indonesia.

Selain BBM konsumsinya berkurang, pamor nikel bakal naik sebagai bahan baku baterai mobil listrik.

Jika nikel ini jadi primadona, harganya sudah pasti bakal meroket.

Beberapa investor asing dari Tiongkok dan Korea Selatan pun sudah melirik untuk berinvestasi di Indonesia.

Program hilirisasi nikel pun dikebut, jadi kalau perencanaannya tepat.

Bukan tidak mungkin Indonesia nanti bisa jadi penghasil baterai mobil listrik nomor 1 di dunia.

Program diskon ini supaya masyarakat berpindah ke penggunaan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.

Simak Videonya berikut ini:

Sumber: Kompas TV

Read More

CATL Akan Jadikan Indonesia Sebagai Pusat Pengembangan dan Produksi Baterai Lithium

NIKEL.CO.ID – Produsen baterai kendaraan listrik asal China, Contemporary Amperex Technology Limited (CATL) tengah menyiapkan pembangunan pabrik sebesar 5,1 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 7,2 triliun di Indonesia.

Komitmen tersebut menyusul ketertarikan pabrikan terhadap perkembangan hilirisasi industri nikel di Tanah Air untuk mempersiapkan era elektrifikasi beberapa waktu lalu.

Melansir Paultan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadahlia menyebut CATL sudah tanda tangan dan sepakat kerja sama dengan PT Inalum dengan target pembangunan pabrik pada tahun depan.

“Kami menandatangani perjanjian ketika kami berada di China baru-baru ini. Peletakan batu pertama, dimulai pada 2021,” ujarnya, Jumat (20/11/2020).
CATL yang merupakan perusahaan baterai lithium terbesar di dunia akan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan dan produksi baterai lithium ketiganya, setelah Tiongkok dan Jerman.

Di Indonesia CATL berencana mengembangkan pertambangan nikel, pabrik pengolahan nikel, pabrik material baterai litium sampai dengan pabrik mobil listrik.

Pabrikan juga akan mengajak mitra-mitra yang terkait untuk menginvestasi dan membangun perindustrian terkait juga di Indonesia. CATL sendiri sekarang bermitra dengan Tesla, Daimler, Hyundai, Honda, Toyota, Volkswagen, dan beberapa nama besar lainnya.

“Kalau minggu ini tidak ada perubahan, LG Chem dari Korea juga akan tandatangan,” ujar keterangan tertulis dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada kesempatan terpisah.

Selain CATL, mitra dalam proyek ini adalah perusahaan baterai China GEM, pembuat baja tahan karat Tsingshan, perusahaan perdagangan Jepang Henwa, dan perusahaan kompleks industri lokal Indonesia Morowali Industrial Park.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Produsen Baterai Kendaraan Asal China Akan Bangun Pabrik di Indonesia

Read More

Luhut Gagal Bertemu Boss Tesla Di Amerika

NIKEL.CO.ID – Juru Bicara (Jubir) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi mengatakan bahwa pimpinannya Luhut Binsar Pandjaitan saat ini telah berada di Amerika Serikat (AS).

Dirinya beserta Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar turut mendampingi Luhut.

“Pak Luhut dan saya sama Pak Wamenlu sudah berada di AS sejak kemarin (Minggu) sore,” kata Jodi dihubungi Kompas.com, Senin (16/11/2020).

Luhut sebelumnya diutus Presiden Jokowi untuk bertemu dengan CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk terkait mobil listrik yang tengah digarap Indonesia.

Namun, rencana pertemuan itu dipastikan batal. Sebab, bos Tesla dinyatakan positif terkena virus corona (Covid-19).

“Enggak jadi, kan dia (Elon Musk) lagi kena Covid-19. Kita belum ada agendakan ketemu Tesla lagi,” ujar Jodi.

Di AS, Luhut dan tim akan melakukan pertemuan dengan beberapa investor terbesar.

Jodi menyebutkan salah satu investor yang akan ditemui Luhut adalah Blackrock Group Inc. Tak menutup kemungkinan ada sekitar 6-7 investor besar yang bakal ditemui Luhut.

“Yang pasti Pak Luhut akan menemui sekitar enam sampai tujuh funding (investor) nanti,” ucap dia.

Selama di AS, selain membahas terkait investasi, Luhut juga menjelaskan mengenai Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja kepada para investor.

“Nanti beliau akan bahas soal Cipta Kerja sama kelanjutan Sovereign Wealth Fund (SWF),” ujar Jodi.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters yang dipublikasikan pada Jumat (13/11/2020), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, akan mengirim tim khusus ke AS dan Jepang untuk mempromosikan Omnibus Law UU Cipta Kerja pekan ini.

Tim khusus ini dipimpin langsung oleh Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Rupanya, Jokowi kepada Luhut beserta timnya diperintahkan juga untuk bertemu dengan eksekutif dari produsen mobil listrik asal AS, Tesla Inc.

Pertemuan ini berkaitan dengan tujuan Indonesia untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik besar di dunia sekaligus melanjuti perbincangan atas minat Tesla untuk berinvestasi di Tanah Air.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Batal Bertemu Bos Tesla, Luhut akan Temui Beberapa Investor Besar di AS

Read More

Pulang Dari China, Bahlil: CATL Akan Bangun Pabrik Baterai Di RI Senilai Rp71,9 Triliun

NIKEL.CO.ID – Produsen baterai kendaraan listrik asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) bakal berinvestasi di Indonesia senilai US$ 5,1 miliar. Angka tersebut setara Rp 71,9 triliun mengacu kurs hari ini Rp 14.116/US$.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penandatanganan kerja sama sudah dilakukan.

“Itu investasinya kurang lebih sekitar US$ 5,1 miliar,” kata dia dalam sebuah webinar, Senin (16/11/2020).

Menindaklanjuti kerja sama yang sudah disepakati, Bahlil menjelaskan bahwa peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan pabrik akan dimulai pada tahun depan.

“Kemarin kita dari China sudah tanda tangan perjanjian kerja sama sudah, 2021 sudah mulai ground breaking CATL,” sebutnya.

Selain CATL, rencananya produsen baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan (Korsel) juga akan berinvestasi di Indonesia. Bahlil mengatakan, perusahaan Negeri Ginseng itu sudah hampir deal.

“Kemarin kita juga kemarin dengan perusahaan dari Korea. Ini juga sudah hampir deal,” paparnya.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Septian Hario Seto sebelumnya mengatakan ada dua produsen raksasa yang akan mengembangkan industri baterai kendaraan listrik di RI. Selain CATL yakni LG Chem asal Korsel.

“Ini adalah perlombaan teknologi. LG Chem dan CATL adalah dua pelopor dalam teknologi baterai lithium,” katanya dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/10/2020).

Sumber: detik.com

Read More