Pengembangan Industri Baterai Mobil Listrik akan Angkat Rupiah Hingga 4%

NIKEL.CO.ID – Upaya Indonesia untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik diperkirakan akan meningkatkan nilai tukar rupiah hingga empat persen.

Kepala investasi Modular Asset Management, Singapura, yang mengelola hampir USD1 miliar aset, Jimmy Lim memperkirakan rupiah mungkin akan terapresiasi sebanyak 4% tahun ini, didukung oleh upaya pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub kendaraan listrik regional. Ia juga memperkirakan dolar Singapura akan menguat karena peluncuran vaksin yang lebih cepat, sementara baht Thailand dan peso Filipina cenderung akan melemah.

Lim berpendapat Indonesia akan menyaksikan ledakan produksi nikel  battery-grade , logam untuk baterai lithium-ion, meskipun kemungkinan besar akan menghadapi kendala pasokan selama lima tahun pertama. Indonesia adalah penambang nikel terbesar di dunia dengan hampir seperempat dari cadangan global. BloombergNEF memperkirakan kapasitas produksi nikel kualitas tinggi Indonesia bisa meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2025.

Antara September 2018 dan akhir Januari tahun ini, Indonesia menarik USD22 miliar investasi asing langsung dalam pembuatan kendaraan listrik dan baterai, 86% di antaranya dalam proses penyelesaian.

Untuk mengakses nikel, pembuat baterai Contemporary Amperex Technology Co dan LG Chem Ltd. telah menjanjikan untuk membangun pabrik di Indonesia, dan Tesla Inc. sedang menjajaki rencana untuk memulai proyek baterai kendaraan listrik.

Menurut Lim, investasi semacam itu pada awalnya akan meningkatkan permintaan untuk mata uang domestik dan memperbaiki neraca transaksi berjalan. Hal tersbeut akan membalik situasi di tahun 2020, dimana rupiah terdepresiasi sekitar 1,3% terhadap  greenback .

Ia meyakini, taruhan  bullish  pada rupiah dapat memberikan hasil investasi ( return ) hampir 10%. Hasil tersebut akan diperoleh dari apresiasi mata uang itu sendiri, dan hasil tambahan dari meminjam dana dengan suku bunga yang lebih rendah dalam dolar untuk membeli rupiah.

Menurut data yang dihimpun Bloomberg, rupiah sudah menjadi salah satu mata uang Asia terkuat tahun ini.

“Ketika pabrik mulai mempekerjakan orang dan menghasilkan pendapatan, aktivitas tersebut akan meningkatkan pendapatan pajak dan mengurangi beban fiskal pemerintah Indonesia,” kata Lim, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (17/2/2021).

Dengan asumsi permintaan tetap stabil, Loim menambahkan, pasokan utang baru yang lebih kecil pada gilirannya dapat meningkatkan nilai obligasi negara, yang kemungkinan akan menglami reli hingga 75 basis poin.

Sumber: IPOTNEWS

Read More