Dirut MIND ID Bilang Bangun Smelter Rugi

NIKEL.CO.ID – Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak buka-bukaan bahwa membangun smelter rugi. Sementara biaya yang sudah dikeluarkan oleh holding BUMN tambang untuk membangun smelter di Gresik mencapai US$ 300 juta, setara Rp 4,2 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Mulanya, Anggota Komisi VII DPR RI Adian Napitupulu menanyakan apakah membangun smelter menguntungkan bagi MIND ID? Pertanyaan itu muncul lantaran perkembangan pembangunan smelter untuk tembaga hasil tambang Freeport Indonesia sangat lambat.

“Sebenarnya nguntungin nggak sih bangun smelter itu buat mereka? Kalau memang tidak menguntungkan lalu kita paksa jangan-jangan kita sedang berusaha membunuh MIND ID-nya gitu lho,” kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP), Rabu (31/3/2021).

“Nah, jangan-jangan betul bahwa kita tidak membangun negara ini secara utuh dan komprehensif, smelternya dibangun, industri turunannya tidak. Mereka bangun smelter, ada produknya, kita bingung jualnya kemana. Jual keluar untungnya sedikit dan sebagainya,” lanjut Adian.

Menanggapi itu, Orias buka-bukaan bahwa membangun smelter memang bakal merugikan bila industri hilirnya tidak dibangun.

“Apakah rugi? dari kita ya iya jelas rugi. Tapi kan ini wajib bangun, kita bangun. Jadi posisi dari kami karena memang diwajibkan membangun ya kami akan bangun. Tapi memang bahwa ini menyebabkan kerugian ya rugi,” sebutnya.

Jika industri hilirnya dibangun maka keberadaan smelter tidak akan merugikan. Sebab, bahan mentah yang diolah di smelter akan diolah lagi di sektor hilir.

“Jadi kalau secara negara itu menguntungkan kalau hilirnya jalan. Kalau hilirnya tidak jalan sangat disayangkan kita bangun, ada hasilnya toh diekspor juga, ya kan. Itu kenapa (sama saja) kita yang mensubsidi buyer, bahasa terangnya begitu. Jadi kalau mau seluruh sampai hilir, ya kita untung kalau hasil dari smelter itu industrinya jalan juga,” jelas Orias.

Adian kembali menanggapi dan mencontohkan smelter tembaga yang dibangun MIND ID dengan smelter nikel. Smelter nikel menguntungkan karena industri hilirnya ada.

“Nikel itu dia menguntungkan kalau ada industri garpunya, industri baterainya dan sebagainya. Nah bagaimana kemudian negara tidak cuma memerintahkan membuat smelter tetapi tidak membuka ruang industri turunan itu gitu lho,” tambah Adian.

Sumber: detik.com

Read More

Harga Nikel Naik, Saham Antam Cs Ikut Terbang

NIKEL.CO.ID – Harga nikel pada perdagangan hari kamis (11/3/2021) kemarin mengalami kenaikan 2,41% setelah sempat mengalami pelemahan dua pekan terakhir, tren pelemahan tersebut terjadi sejak akhir Februari hingga awal Maret.

Harga nikel kontrak 3 bulan di London Metal Exchange (LME) ditutup dengan harga US$ 16.467/ton pada perdagangan kamis, naik 2,41% dari harga US$ 16.080/ton pada perdagangan hari Rabu (10/03/2021).

Senada dengan penguatan harga logam lainnya, pengutan harga nikel dunia adalah respon positif pasar atas disahkannya RUU stimulus jumbo untuk bantuan dan pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19 oleh parlemen Amerika serikat.

Harga nikel 2 hari terakhir naik dari harga terendah nikel selama tahun 2021 di bursa LME yang tercatat di harga US$ 15.951/ton pada selasa (9/3).
Kenaikan juga terjadi untuk nikel pembelian langsung, yang naik dari US$ 16.040/ton menjadi US$ 16.434/ton.

Pada awal tahun lalu harga nikel sempat turun tajam, merosot hingga US$ 11.142/ton pada perdangan bulan Maret 2020. Akan tetapi memasuki bulan selanjutnya harga nikel perlahan naik terus hingga mencapai puncaknya di angka US$ 19.722/ton pada perdagangan tanggal 22 Februari lalu, tertinggi sejak 2014, yang sempat dihargai US$ 21.150/ton pada bulan Mei tahun tersebut.

 

Harga Nikel
Foto: Ferry Sandria/CNBC Indonesia
Harga Nikel

Data Harga NIkel Kontrak 3 Bulan Sepanjang Tahun 2021 (sumber: LME)

Akan tetapi, harga nikel malah mengalami penurunan 0,45% di bursa Shanghai (kode: SNIcv1) dari US$ 18.768/ton pada selasa turun menjadi US$ 18.684/ton pada Rabu (10/3/2021), berdasarkan data refinitiv.

Dikutip dari Reuters, produksi nikel murni hasil olahan China bulan Februari naik 5,33% atau mengalami penambahan sebesar 692 mt dari produksi bulan Januari.

Dilansir dari The Sydney Morning Herald yang dikutip oleh Reuters. Credit Suisse, bank dan penyedia jasa keuangan asal Swiss memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan nikel setelah Tsingshan mengumumkan untuk meningkatkan produksi sebesar 700 kilo ton (kt) menjadi 1,1 juta ton per tahun (Mtpa) per 2023. Ini akan mengakibatkan surplus produksi hingga 2025.

Menurut analis Credit Suisse, Matthew Hope. “Walaupun sebagian (nikel) akan dipasok ke pasar baterai melalui jalur nikel matte, feronikel untuk baja tahan karat masih tetap dominan sampai pasar baterai menjadi konsumen yang signifikan pada paruh kedua dekade ini,” tulisnya dalam catatan kepada klien.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Pabrik Baterai Mobil Listrik RI Bakal Mulai Produksi Tahun 2023

NIKEL.CO.ID – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkap perusahaan baterai kendaraan listrik nasional akan mulai produksi pada 2023. Perusahaan baterai kendaraan listrik ini akan melibatkan PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

“Kami buat konsorsium besar, PLN, Pertamina, Inalum untuk buat perusahaan baterai (kendaraan listrik) nasional di mana kami berpartner dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) dan LG. Kami mulai produksi baterai untuk kalangan dalam dan luar negeri 2023,” katanya dalam acara CNBC Economic Outlook 2021, Kamis (25/2/2021).

Erick mengatakan upaya ini merupakan realisasi dari salah satu arahan Presiden Joko Widodo yang meminta agar komoditas milik Indonesia yang saat ini sedang tinggi tidak diekspor secara mentah. Ia mengatakan Jokowi ingin Indonesia dapat keuntungan lebih.

Untuk itu, menurut Erick, pemerintah berusaha memaksimalkan hilirisasi komoditas dalam negeri sembari terus mendorong ekspor. Erick mengatakan negara tak ingin terus mengekspor nikel mentah-mentah seperti yang selama ini dilakukan.

“Balance ekspor dan hilirisasi dalam negeri. Agar ketika komoditas suatu saat tidak berpihak ke kita, kita bisa rasakan value added yang berdampak di Indonesia,” lanjut dia.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan optimis harga komoditas akan terus melejit dengan strategi seperti ini. Bukan hanya nikel, menurutnya pemerintah juga berencana menghentikan ekspor mentah bauksit.

“Untuk generasi ke depan, ini langkah strategis dan Presiden konsisten terhadap ini. Jadi jangan ekspor raw material. Bauksit juga kami tunggu momen yang pas untuk berhenti. Kami undang investor masuk,” tuturnya.

Luhut mengatakan langkah ini tidak dikerjakan selama puluhan tahun ke belakang karena tidak ada integrasi antar kementerian dan lembaga. Dia menilai upaya ini tak akan tuntas jika tidak digarap secara bersama-sama.

Sementara itu, Luhut juga sempat menyinggung rencana investasi Indonesia bersama perusahaan kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla. Ia mengatakan salah satu industri yang sudah dibahas dalam rencana investasi adalah produksi baterai lithium.

“Kita selama ini segmented. Sekarang terintegrasi. Jadi nikel ada smelternya, turunannya. Copper ada smelter, turunannya. Salah satu turunan asam sulfat ini dibutuhkan lithium battery. Jadi nanti akan diproduksi asam sulfat 2023 dan lithium battery 2023,” kata Luhut.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Bos Inalum Minta Royalti Nikel untuk Baterai EV Bisa 0%

NIKEL.CO.ID – Pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja. Beberapa perusahaan tambang batu bara akan memanfaatkan batu bara kalori rendah untuk proyek gasifikasi batu bara yakni mengubah batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME).

Tak mau kalah dengan batu bara, Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara, yakni mendapatkan royalti 0%.

Dia mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

“Kalau untuk batubara kita sudah ada pajak iuran (royalti) 0%, karena sudah ada apakah ini akan berlaku pada nikel kadar rendah?” kata Orias dalam Webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, secara teknis pertambangan nikel kadar rendah ini mulanya dianggap ikutan, namun karena ada produk baterai yang bisa dihasilkan dari nikel kadar rendah dan kini juga tengah didorong pemerintah, maka komoditas ini menurutnya menjadi istimewa.

“Sekarang kita manfaatkan nikel kadar rendah. Ini ada iuran produksi dan lain-lain, yang terkait itu perlu disesuaikan, saya rasa kebijakan ini (royalti 0%) perlu dimasukkan ke dalam kebijakan minerba,” pintanya.

Seperti diketahui, kini empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), antara lain PT Inalum (Persero), PT Aneka Tambang Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah dalam proses pembentukan Indonesia Battery Holding untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury pun sempat menuturkan pembentukan holding perusahaan baterai ini terbentuk pada Semester I 2021 ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan di dalam bisnis baterai kendaraan listrik ini, akan terdapat tujuh tahap atau rantai bisnis, yakni mulai dari penambangan, pemurnian atau smelter, precursor plant, pabrik katoda, pabrik sel baterai, battery pack, hingga daur ulang (recycling).

“Kita masuk di empat yang tengah seperti precursor, katoda, sel baterai, battery pack, dan juga recycling dengan PLN. Di hulu oleh Antam dan MIND ID,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Nicke mengatakan pada tahun ini holding company BUMN ini terbentuk, lalu bisa bermitra dengan perusahaan global. Kini ada tiga perusahaan global yang berpotensi menjadi mitra BUMN yakni perusahaan asal China (CATL), Korea Selatan (LG), dan Amerika Serikat (Tesla).

“Sudah tanda tangan dengan China company. Lalu kita sedang dalam program, insya Allah minggu ini atau depan dengan Korean company,” ujarnya.

Tidak hanya untuk bisnis baterai kendaraan listrik, potensi kerja sama dengan calon mitra perusahaan global lainnya yaitu sistem penyimpanan energi (energy storage system/ ESS) atau ‘powerbank’ raksasa.

Nicke menyebut Tesla cenderung tertarik pada ESS karena pasar ESS ini besar dan bisa menjaga keandalan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“ESS potensi besar di Indonesia. Tesla minat di energy storage. Melihat potensi tadi untuk menjaga keandalan suplai dari PLTS. ESS ini pasar besar. Pertamina akan masuk ke sana,” paparnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Seperti di Batubara, Orias Moedak Minta Insentif Khusus Bijih Nikel Kadar Rendah

NIKEL.CO.ID – CEO Mining and Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak menilai perlu ada insentif khusus untuk komoditas nikel kadar rendah yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

Menurutnya, pemberian insentif bisa dilakukan seperti halnya insentif pada komoditas batu bara yang dimanfaatkan untuk program hilirisasi. Guna mendorong hilirisasi batu bara, melalui Undang-Undang tentang Cipta Kerja pemerintah memberikan insentif berupa pengenaan royalti hingga 0 persen terhadap batu bara yang digunakan untuk program hilirisasi.

“Ada baterai EV, mobil listrik, dan sebagainya, ini kan pemanfaatan nikel kadar rendah. Kalau batu bara kan sudah ada itu iuran produksi 0 persen, tapi apakah ini akan berlaku untuk nikel kadar rendah?,” ujar Orias dalam webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Orias menuturkan bahwa dengan adanya program pengembangan baterai kendaraan listrik yang gencar didorong oleh pemerintah, komoditas nikel kadar rendah kini menjadi istimewa. Sebelumnya, nikel kadar rendah hanya dianggap sebagai ikutan dan tidak banyak dimanfaatkan.

Dengan semakin meningkatnya pemanfaatan nikel kadar rendah ke depan, Orias menilai kebijakan terkait royalti nikel dan pajak lain terkait perlu dikaji pemerintah.

“Sekarang kita manfaatkan itu. Apakah perlu ada iuran produksi, pajak, dan lain-lain terkait yang perlu disesuaikan? Saya rasa kebijakan menyangkut ini harus diperhatikan juga, harus masuk ke kebijakan minerba,” katanya.

Adapun, MIND ID bersama PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk., akan membentuk Indonesia Battery Holding atau Indonesia Battery Corporation untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (baterai EV) secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Pembentukan holding tersebut ditargetkan dapat selesai pada semester I/2021.

Sumber: bisnis.com

Read More

Investasi Raksasa Konsorsium LG, Menjadikan Indonesia Sebagai Negara Pertama Di Dunia Yang Mengintegrasikan Industri Baterai Listrik Dari Pertambangan Hingga Baterai Lithium Mobil Listrik

NIKEL.CO.IDIndonesia akan segera memiliki pusat industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia. Pengembangan industri ini akan dilakukan perusahaan electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan LG Energy Solution Ltd yang bekerja sama dengan konsorsium BUMN. Sebelumnya, LG Energy Solution merupakan bagian dari LG Chem, anak perusahaan dari konglomerasi LG Group. Proyek kerja sama investasi ini merupakan hasil tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae In di Busan pada bulan November 2019 lalu.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian/Lembaga terkait lainnya melakukan berbagai pertemuan tindak lanjut dengan pihak LG. Serangkaian proses negosiasi yang panjang telah dilakukan dengan berpedoman pada prinsip saling percaya dan bertujuan untuk saling menguntungkan.

Hasilnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan LG Energy Solution di Seoul, Korea Selatan pada tanggal 18 Desember 2020. Penandatanganan ini disaksikan oleh Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Korea Selatan Sung Yun-mo. MoU berisi tentang kerjasama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri prekursor dan katoda dengan nilai rencana investasi mencapai USD9,8 miliar.

“MoU menjadi sinyal keseriusan yang sangat tinggi dari pihak LG dan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri baterai terintegrasi. Pada masa pandemi yang begitu penuh tantangan, keberhasilan ini merupakan kepercayaan luar biasa terhadap Indonesia. Nilai investasinya fantastis untuk satu korporasi, yaitu mencapai USD9,8 miliar,” kata Bahlil dalam keterangan persnya pagi ini (30/12/2020).

Kementerian BUMN telah menyiapkan konsorsium MIND ID yang terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara. MIND ID akan berkolaborasi dengan LG. Menteri BUMN Erick Thohir memastikan investasi ini berjalan dari sisi produksi dan juga memiliki pasar di dalam dan luar negeri.

“Investasi LG akan bermitra dengan konsorsium baterai BUMN di seluruh rantai pasok produksi. Pada pelaksanaannya akan ditindaklanjuti dengan studi bersama (joint study) untuk mengukur secara detail kerja sama yang akan dilakukan kedua pihak dari sektor hulu sampai hilirnya,” ujar Erick Thohir.

Sebagian proyek nantinya akan berlokasi di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah yang sudah ditinjau oleh Presiden Jokowi pada akhir Juni lalu. Kawasan industri seluas 4.300 ha ini merupakan percontohan kerja sama pemerintah dan BUMN dalam menyediakan lahan yang kompetitif dari sisi harga, konektivitas, dan tenaga kerja. Rencananya, sebagian baterai yang dihasilkan dari proyek ini akan disuplai ke pabrik mobil listrik pertama di Indonesia yang sudah lebih dahulu ada dan dalam waktu dekat akan segera memulai tahap produksi.

Pengembangan industri baterai listrik terintegrasi merupakan langkah konkret yang sesuai dengan target Presiden Jokowi untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju 2045. Hilirisasi pertambangan adalah salah satu wujud transformasi tersebut.

“Indonesia akan naik kelas dari produsen dan eksportir bahan mentah menjadi pemain penting pada rantai pasok dunia untuk industri baterai kendaraan listrik, dimana baterai memegang peranan kunci, bisa mencapai 40% dari total biaya untuk membuat sebuah kendaraan listrik,” ujar Bahlil menambahkan.

Dalam realisasi investasi proyek, perusahaan patungan ini akan memprioritaskan bekerjasama dengan pengusaha nasional, pengusaha nasional yang ada di daerah dan UKM (Usaha Kecil dan Mikro) lokal yang memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam setiap rantai pasok. Dengan demikian diharapkan dapat menggerakkan perekonomian nasional yang berdampak positif bagi daerah.

“Jadi, investasi ini akan menjadi model kolaborasi komplet yang melibatkan perusahaan asing dengan reputasi global, BUMN yang mumpuni, dan pelaku ekonomi swasta nasional/daerah yang kuat,” tegas Bahlil.

Hal lain yang juga menjadi bagian dari nota kesepahaman adalah memprioritaskan produk lokal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas industri nasional. Pemerintah Indonesia juga memastikan bahwa proyek investasi raksasa ini akan menyerap sebesar-besarnya Tenaga Kerja Indonesia.

Saat ini negara-negara di dunia telah mencanangkan pengurangan konsumsi bahan bakar dan pengurangan emisi karbondioksida (CO2) dan pencanangan penerapan kendaraan listrik sebanyak 15-100% dari total kendaraan yang beredar. Diperkirakan pada tahun 2040 terdapat 49 juta unit kendaraan listrik (electric vehicle) atau sekitar 50% dari total permintaan otomotif dunia. Selain itu, beberapa pabrikan mulai mengalihkan lini produksi kendaraan konvensionalnya menjadi kendaraan listrik, yaitu antara 20-50% dari total produksinya.

Adapun target penerapan kendaraan listrik di dunia akan terus meningkat secara bertahap. Dalam rentang tahun 2020-2030, negara-negara Asia akan mulai menerapkannya, antara lain Republik Rakyat Tiongkok (RRT) (8,75 juta unit kendaraan), Thailand (250 ribu unit kendaraan), Vietnam (100 ribu unit kendaraan), Malaysia (100 ribu unit kendaraan), serta India (55 ribu unit mobil listrik dan 1 juta unit motor listrik). Sementara itu, target penerapan kendaraan listrik Indonesia pada tahun 2035 adalah 4 juta unit mobil listrik dan 10 juta unit motor listrik.

Berdasarkan data BKPM, investasi asal Korea Selatan tahun 2015–triwulan 3 tahun 2020 tercatat sebesar USD8,12 miliar dengan 17 ribu proyek, 3.162 perusahaan dan menyerap tenaga kerja langsung 660.555 orang. Meski tahun 2020 dunia mengalami perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19, investasi Korea Selatan terus bergerak positif. (admin)

Read More

MoU Ditandatangani, LG Chem Masuk ke Bisnis Baterai RI

Nota kesepahaman itu berisi paket investasi pabrik baterai di Indonesia, dari mulai penambangan bahan baku hingga pembuatan sel baterai untuk mobil listrik.

NIKEL.CO.ID – LG Energy Solution, spin off usaha dari LG Chem asal Korea Selatan, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah Indonesia pada Jumat lalu (19/12/2020). Kerja sama ini dalam rangka membangun pabrik baterai mobil listrik di Tanah Air.

Melansir dari Korea Times, acara penandatanganannya dilakukan secara tertutup di Lotte Hotel, Seoul. Hadir di sana Presiden LG Energy Solution Kim Jong-hyun, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dan Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Sung Yun-mo.

LG Energy mengonfirmasi adanya tanda tangan MoU tersebut tapi menolak mengungkapkan rinciannya.

“MoU itu tidak mengikat dan spesifikasinya belum terkonfirmasi,” tulis perusahaan.

Menurut pejabat pemerintah yang mengetahui rencana tersebut, nota kesepahaman itu berisi paket bisnis baterai di Indonesia. Dari mulai penambangan bahan baku hingga pembuatan sel baterai. LG Energy Solution akan memimpin konsorsium yang terdiri dari perusahaan Korea dan Indonesia.

Nilai proyeknya bakal mencapai triliunan won (triliunan rupiah). Selain LG International, perusahaan baja asal Korea, POSCO,  juga disebut akan menjadi pemangku kepentingan dalam proyek tersebut.

“MoU itu menunjukkan bahwa perusahaan dan negara telah mencapai titik temu dari perspektif luas, tapi masih mempersempit perbedaan mereka dalam hal detail,” kata sumber Korea Times.

LG Energy Solution dan Hyundai Motor pun disebut-sebut akan membuat usaha patungan. Saat ini Hyundai Motor sedang membangun pabrik yang mampu memproduksi 250 ribu kendaraa, termasuk mobil listrik (EV), setiap tahun di Indonesia.

Untuk pasokan baterai yang stabil, kedua belah pihak dilaporkan setuju mendirikan usaha patungan. Keduanya sekarang sedang menyempurnakan detail proyeknya.

LG Chem Ingin Kepemilikan Tambang Nikel Antam?

Proses diskusi pemerintah dan LG Chem masih berlangsung. Diskusinya terbilang alot lantaran perusahaan dikabarkan meminta kepemilikan saham tambang nikel PT Aneka Tambang (Persero) Tbk alias Antam.

Saat diminta tanggapan mengenai hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Indonesia Asahan Aluminium atau MIND ID Rendi A Witular pun memilih enggan berkomentar.

“Mohon maaf saya belum bisa kasih tanggapan ya,” kata Rendi, Selasa (22/12/2020).

MIND ID merupakan induk usaha Antam. Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko pun tak menjelaskan secara jelas mengenai kabar tersebut.

Kunto mengatakan inisiasi pengembangan rantai industri baterai lithium-ion di Indonesia merupakan inisiasi yang dibangun oleh pemerintah.

“Untuk meningkatkan nilai tambah produk nikel nasional dan industrialisasi produk tambang hingga pembangunan ke sektor hilir,” kata dia.

Hal ini merupakan langkah strategis yang saat ini dipersiapkan perusahaan untuk mewujudkan aspirasi pemerintah tersebut. Antam akan berupaya mendukung upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas mineral yang lebih strategis.

Di sisi lain, Kunto menyatakan Antam juga memiliki portofolio nikel yang solid, serta kompetensi teknis dalam pengembangan hilirisasi produk olahan nikel. Saat ini Antam bersama MIND ID sedang melaksanakan tahap penjajakan dengan mitra-mitra strategis yang memiliki komitmen finansial yang solid, penguasaan teknologi dan proses pengolahan ekstraktif nikel baterai, serta memiliki basis pasar untuk produk baterai listrik.

Ia menyebut Antam bersama MIND ID memiliki komitmen dalam mendukung aspirasi pemerintah sejalan dengan upaya perusahaan untuk meningkatkan skala bisnisnya. Pengembangan baterai nasional bersifat strategis. Permintaannya diperkirakan akan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Kesempatan ini akan menjadi prosspek baik bagi Antam untuk memperkuat portofolionya.

Pada 2021, Antam akan fokus pada ekspansi pengolahan mineral bersifat hilir. Termasuk di dalamnya, perluasan basis cadangan dan sumber daya, menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada. Kemudian menurunkan lebih lanjut cash cost dan meningkatkan daya saing biaya, serta peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Sebagai informasi, MIND ID, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) berencana akan membangun pabrik baterai. Komponen utama pembuatan baterai ini salah satunya adalah nikel. Indonesia merupakan pemilik cadangan komoditas tambang itu yang terbesar di dunia.

Dalam konsorsium tersebut. Ada dua perusahaan asing yang telah menyatakan minatnya bergabung dalam bisnis ini, yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea. Keduanya termasuk produsen baterai kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia.

Namun, dari kedua perusahaan asing tersebut. Baru CATL yang bakal menggelontorkan investasi senilai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 71 triliun ke Indonesia.

CATL pun telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Antam. Perusahaan pelat merah ini akan memasok bahan baku pembuatan baterainya. Sebagai gantinya, CATL memastikan 60% proses pemurnian nikelnya, bahan baku baterai, dikerjakan di Indonesia.

“Kami tidak mau mereka dapat nikel tapi prosesnya di luar negeri,” kata Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “MoU Ditandatangani, LG Chem Masuk ke Bisnis Baterai RI

Read More

CATL Siapkan Rp 70,6 Triliun untuk Bangun Pabrik Baterai di RI

NIKEL.CO.ID – Produsen baterai bernama China’s Contemporary Amperex Technology ( CATL) berencana menginvestasikan 5 miliar dolar AS atau setara Rp 70,6 triliun, untuk pembangunan pabrik baterai lithium ion di Indonesia.

Indonesia belakangan ini memang gencar memproses nikel untuk digunakan dalam baterai lithium, sebagai bagian dari upaya untuk memproduksi dan mengekspor baterai kendaraan listrik. Upaya ini dilakukan agar Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok global industri otomotif dunia.

Luhut Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan, CATL telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan tambang negara PT Aneka Tambang ( Antam).

Dalam perjanjian tersebut, CATL disebutkan wajib memastikan 60 persen nikel dari dalam negeri diolah menjadi baterai di Indonesia.

“Kami tidak ingin mereka membawa nikel keluar dan mengolahnya di luar negeri,” ucap Luhut, dikutip dari laman Hindustan.

Untuk diketahui, CATL akan berinvestasi 5 miliar dolar AS dan memulai produksi baterai pada 2024.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal mengatakan bahwa LG Chem sedang mempertimbangkan hal yang sama.

Perusahaan baterai asal Korea Selatan itu rencananya akan menyuntikkan dana hingga 9,8 miliar dolar AS atau setara Rp 138 triliun, dalam pembuatan pabrik baterai yang terintegrasi dengan smelter.

Adapun bersama dengan Tesla, pemerintah RI memastikan akan menggelar pertemuan pada Januari 2021 untuk membahas potensi investasi dalam rantai pasokan kendaraan listrik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Produsen CATL Siapkan Rp 70,6 Triliun untuk Pabrik Baterai di RI

Read More

Proyek Pabrik Baterai Rp130 T Rencana Diteken Pekan Ini

NIKEL.CO.ID – LG Energy Solution, anak usaha LG Chem Ltd di bidang electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik, dikabarkan akan meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Indonesia Battery Holding (IBH) pada Jumat, 18 Desember pekan ini, di Seoul, Korea Selatan (Korsel).

LG Chem asal Korsel adalah satu dari dua produsen EV battery dunia yang siap bekerjasama dengan BUMN Indonesia. Satu lagi yakni Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) dari China.

Dikutip dari Business Korea, LG Energy Solution, akan membentuk konsorsium dengan empat perusahaan BUMN yakni MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Keempat perusahaan pelat merah ini tergabung dalam IBH.

Proyek pabrik baterai dengan periode proyek 5 tahun tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 10 triliun won atau setara dengan Rp 130 triliun (kurs Rp 12,97/won Korea).

Selain itu, LG International juga akan mengambil bagian dalam proyek ini. Investasi kedua anak perusahaan LG Group dalam proyek tersebut diperkirakan mencapai 2 triliun won atau lebih, setara dengan Rp 26 triliun.

“Nota kesepahaman untuk inisiasi proyek dijadwalkan akan ditandatangani pada 18 Desember,” tulis informasi dari Business Korea, dikutip Senin (14/12/2020).

Dalam proyek ini, serangkaian fasilitas bersama akan dibangun untuk menangani proses penambangan nikel, peleburan, pemurnian, dan prekursor (senyawa yang berpartisipasi dalam reaksi kimia yang menghasilkan senyawa lain), bahan elektroda positif, dan produksi sel.

Fasilitas penambangan, peleburan dan pemurnian kemungkinan besar akan dibangun di Maluku Utara dan fasilitas produksi diharapkan akan didirikan di Jawa Barat. LG Energy Solutions akan bertanggung jawab penuh atas produksi sel baterai.

Proyek ini terpisah dari proyek bersama LG Energy Solutions dengan Hyundai Motor Indonesia. Proyek yang pertama itu adalah untuk membangun pabrik pembuatan baterai luar negeri LG Energy Solution terbesar dan yang kedua adalah untuk memproduksi sel baterai dan kemasan untuk digunakan dalam kendaraan listrik yang akan diproduksi di Indonesia.

Proyek yang terakhir ini juga diharapkan segera diluncurkan. LG dan Hyundai kemungkinan akan menandatangani MOU terakhir untuk inisiasi proyek pada bulan depan, Januari 2021.

Pabriknya diperkirakan akan dibangun di Karawang, Jawa Barat, dengan biaya konstruksi 1,5 triliun won atau setara dengan Rp 19,45 triliun.

Pada 1 Desember 2020, LG Chem juga secara resmi meluncurkan anak usaha LG Energy Solution. LG Energy Solution mengadakan rapat dewan dan majelis perdana pada tanggal 1 Desember dan mengumumkan bahwa mereka menunjuk Kim Jong Hyun sebagai presiden pertamanya.

“Kami sekarang telah berhasil memisahkan perusahaan untuk meraih impian yang lebih tinggi dan sekarang telah memulai perjalanan yang hebat,” kata Kim, dikutip LGcorp.

LG Energy Solution mempekerjakan sekitar 22.000 orang (sekitar 7.000 di Korea dan 15.000 di luar negeri) secara global dan memiliki sistem bisnis global yang terdiri dari basis produksi di Ochang di Korea, Michigan di AS, Xingang/Binjiang di China, dan Wroclaw di Polandia, dan Pusat teknologi R&D di Daejeon di Korea, Troy di AS, Nanjing di China, dan Frankfurt di Jerman.

Tahun ini, pendapatan diperkirakan mencapai 13 triliun won Korea atau Rp 169 triliun, dan rencananya akan mencapai penjualan sebesar 30 triliun won Korea pada tahun 2024 untuk menjadi ‘perusahaan solusi energi terbaik dunia’.

Sebelumnya, pada 14 November lalu, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan nilai proyek kerja sama pabrik baterai listrik di Indonesia dengan dua perusahaan, LG Chem dan CATL, yakni menembus US$ 20 miliar atau setara Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000).

Erick Thohir mengatakan, kehadiran investor ini menunjukkan kebijakan Indonesia sudah tepat. Dia mengatakan, kehadiran investor luar negeri ini akan mendukung ketahanan energi nasional.

Pada 17 November, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahkan membeberkan LG Chem akan segera meneken MoU proyek pabrik baterai pada pekan itu, antara 17-21 November 2020. Tapi belum kejadian.

Hal itu diungkapkan Luhut dalam sebuah seminar Universitas Gadjah Mada yang disiarkan melalui kanal YouTube, Selasa (17/11/2020).

“Minggu ini kalau tidak ada perubahan LG dari Korea akan segera tanda tangan,” kata Luhut.

“Dan sekarang kita approach yang lain, saya kira masih on going,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Pekan Depan, LG Chem & Indonesia Battery Holding Dikabarkan Teken Kerja Sama

Kedua pihak akan meluncurkan proyek platform baterai kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia dengan total nilai investasi hingga 10 triliun won dan berjalan selama 5 tahun.

NIKEL.CO.ID – LG Energy Solution, entitas usaha LG Chem dibidang baterai, dikabarkan akan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Indonesia Battery Holding pada 18 Desember mendatang, di Seoul, Korea Selatan.

Melansir pemberitaan Herald Business Newspaper yang dikutip Bloomberg, LG Energy Solutions, akan membentuk konsorsium dengan empat perusahaan negara Indonesia, MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang tergabung dalam Indonesia Battery Holding (IBH).

Konsorsium itu akan meluncurkan proyek platform baterai kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia dengan total nilai investasi hingga 10 triliun won dan berjalan selama 5 tahun.

Adapun, menurut sumber Herald Business Newspaper yang tidak ingin disebutkan, LG Chem dikabarkan akan melakukan penandatanganan dengan pihak Indonesia pada 18 Desember 2020 mendatang di Seoul, Korea Selatan.

Di sisi lain, Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan sampai dengan saat ini, belum dibentuk perusahaan khusus sebagai IBH. Namun demikian, masing-masing anggota IBH sudah melakukan penjajakan kerja sama.

“Sesuai arahan Menteri BUMN Erick Thohir, keempat perusahaan ini nantinya akan menjadi pemegang saham untuk membentuk Indonesia Battery Holding (IBH),” paparnya dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (7/12/2020).

Dia menuturkan bahwa tim pembentukan IBH diketuai oleh Komisaris Utama MIND ID Agus Tjahajana. Diharapkan skema kerja sama dengan calon mitra dapat rampung pada awal 2021.

Orias pun menjelaskan dalam joint venture (JV) pembentukan IBH, pihaknya terbuka dengan mitra asing maupun domestik. JV dapat dibentuk dengan mitra pada tiap nilai rantai industri baterai listrik JV pun dapat dilakukan secara langsung oleh BUMN, maupun anak perusahaan oleh BUMN dengan IBH.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengklaim dua produsen electric vehicle (EV) Battery untuk kendaraan listrik terbesar dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd dari Korea Selatan, memberikan isyarat akan bergabung dalam proyek investasi bernilai US$20 miliar dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Indonesia.

Menurut Orias, CATL sudah melakukan penandatanganan kerja sama awal dengan Antam. Adapun, LG Chem nantinya akan melakukan kerja sama dengan Pertamina.

“Jadi masing-masing anggota tim membentuk kerja sama dengan calon mitra, sehingga bisnis [IBH] bisa terintegrasi dari tambang hingga produksi baterai, dan daur ulangnya,” imbuhnya.

Sumber: bisnis.com

Read More