Proses Pendirian Holding Baterai Masih Menanti Izin Kemenkumham

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tengah mengajukan permohonan pendirian holding BUMN baterai yakni Indonesia Battery Corporation (IBC) kepada Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Holding ini ditargetkan terbentuk pada Juli mendatang.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahjana Wirakusumah mengatakan bahwa proses pendirian holding baterai masih terus berlanjut. Saat ini pihaknya juga tengah menyusun perencanaan sumber daya manusia (SDM).

“Menyelesaikan masalah izin Kemenkumham, staffing, mencari kesempatan untuk bisnis agar bisa tumbuh,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (19/4/2021).

Meski demikian, Agus tak membeberkan secara rinci mengenai target penyelesaian izin pendirian holding baterai. Seperti diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya mengumumkan terbentuknya holding baterai pada Maret lalu.

“Menyelesaikan masalah izin Kemenkumham, staffing, mencari kesempatan untuk bisnis agar bisa tumbuh,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (19/4/2021).

Meski demikian, Agus tak membeberkan secara rinci mengenai target penyelesaian izin pendirian holding baterai. Seperti diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya mengumumkan terbentuknya holding baterai pada Maret lalu.

Menurut dia untuk mengkonsolidasikan potensi bisnis baterai, maka memerlukan upaya jangka panjang.

“Karena ini baru di kertas, bagaimana implementasinya tentu baru akan terbukti pada tahun depan,” ujarnya dalam konferensi pers.

Dalam Indonesia Battery Corporation, MIND ID bersama Antam berperan untuk menyediakan bijih nikel. Pertamina menjalankan bisnis manufaktur produk hilir meliputi pembuatan baterai cell, baterai pack, dan ESS.

Sedangkan PLN akan berperan untuk pembuatan sel baterai, penyediaan infrastruktur SPKLU, dan pengintegrasian sistem manajemen energi (energy management system/EMS). Porsi kepemilikan saham masing-masing BUMN ini adalah 25%.

Selanjutnya, holding bisnis baterai itu akan membangun fasilitas daur ulang baterai. Pelaksananya adalah anak usaha MIND ID, yaitu PT Nasional Hijau Lestari (NHL). Apabila industri baterai ini terbangun, Indonesia memiliki potensi untuk membangun ekosistem industri EV terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Di samping itu, ada dua perusahaan asing yang bakal menggelontorkan dana dalam proyek tersebut. Pertama, produsen baterai asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd atau CATL sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 72 triliun.

Kemudian, LG Chem Ltd asal Korea Selatan sebesar US$ 13 miliar hingga US$ 17 miliar (Rp 187,5 triliun sampai Rp 245 triliun).

Dalam kesepakatan kerja sama tersebut, nantinya produk baterai yang dihasilkan tidak hanya fokus untuk mobil listrik saja. Kendaraan roda dua juga bakal menjadi konsumennya.

Targetnya, Indonesia menjadi pemimpin untuk pembuatan baterai kendaraan roda dua dan baterai stabilisator pembangkit listrik energi terbarukan.

“Jadi ini perjanjian yang win-win. Mobil kami ngalah. Tapi motor listrik dan stabilisator yang jadi leading sector” ujar Erick.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Erick Thohir Resmikan Holding Baterai Hari Ini, Saham Antam (ANTM) Terbang

NIKEL.CO.ID – Saham emiten tambang BUMN PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) melonjak pada perdagangan sesi I, Jumat (26/3/2021). Kenaikan tersebut terjadi menjelang pengumuman holding perusahaan baterai kendaraan listrik (Indonesia Battery Corporation) hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham Antam bergerak naik 8,26 persen atau 180 poin ke level 2.360 dengan kapitalisasi pasar Rp56,95 triliun. Sahamnya dibuka di level 2.230.

Naiknya saham emiten bersandi ANTM tersebut berbarengan dengan rencana Menteri BUMN Erick Thohir mengumumkan perusahaan holding baterai di Indonesia pada hari ini.

Kementerian BUMN bersama MIND ID, PT Pertamina, PT PLN, dan ANTM akan menggelar acara Konferensi Pers Pendirian Indonesia Battery Corporation secara virtual. Rencananya agenda akan dilaksanakan pada pukul 15.30 WIB hari ini.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan hingga saat ini proses pembentukan holding tersebut masih terus berlangsung. Namun, menurutnya proses itu sudah mendekati tahapan final.

“Dalam prosesnya saat ini mungkin tidak akan lama lagi EV baterai, holding ini akan jadi tidak lama, hampir sebulan, dua bulan selesai. Ini akan menjadi sebuah perusahaan yang menghasilkan EV baterai dan mengusai dari hulu ke hilir,” ujarnya, Kamis (4/3/2021).

Arya mengungkapkan, nantinya setelah holding ini terbentuk, akan ada banyak perusahaan-perusahaan joint venture (JV) yang akan dibentuk dari segala lini bisnis.

“Ini JV holding baterai dengan Antam, precussor dan katoda ini JV holding dengan Pertamina misalnya, kemudian nanti juga battery cell dan battery pack ini JV holding baterai dengan Pertamina dan PLN. kemudian ESS assembling itu adalah JV antara holding baterai dengan PLN misalnya, kemudian untuk recycling itu JV holding baterai dengan Pertamina,” ungkapnya.

Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery Agus Tjahjana menjelaskan tim ini telah dibentuk sejak Februari 2020. Keempat perusahaan itu diberi mandat langsung oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir.

“Namanya IBI ini adalah holding 4 perusahaan, kira-kira kita akan share seperempat-seperempat, Industry Battery Indonesia,” katanya.

Agus mengatakan, investasi yang akan dikeluarkan nantinya sangat tergantung dengan kapasitas baterai yang akan dibuat.

Untuk di hulu, pihaknya akan membuat sekitar 195 gigawatt/hour dengan sekitar 150.000 nikel per tahun dalam dua tahap. Pada tahap awal perusahaan akan membuat baterai dengan kapasitas 30 GW per hour yang akan direalisasikan pada 2026-2030.

Setelah itu, kapasitas akan ditingkatkan menjadi 140 GW/hour atau sekitar 70 persen dari 195 GW/hour.

“Berarti nanti sisanya di ekspor dalam belum cell, investasinya US$13 miliar, nah kalau bisa sampai 140 GW/hour atau 70 persen dari 195 GW/hour itu hampir mencapai US$17 miliar, tentu investasi bersama,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Erick Thohir Resmikan Holding Baterai Hari Ini, Saham Antam (ANTM) Terbang

Read More

Pabrik Baterai Mobil Listrik RI Bakal Mulai Produksi Tahun 2023

NIKEL.CO.ID – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkap perusahaan baterai kendaraan listrik nasional akan mulai produksi pada 2023. Perusahaan baterai kendaraan listrik ini akan melibatkan PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

“Kami buat konsorsium besar, PLN, Pertamina, Inalum untuk buat perusahaan baterai (kendaraan listrik) nasional di mana kami berpartner dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) dan LG. Kami mulai produksi baterai untuk kalangan dalam dan luar negeri 2023,” katanya dalam acara CNBC Economic Outlook 2021, Kamis (25/2/2021).

Erick mengatakan upaya ini merupakan realisasi dari salah satu arahan Presiden Joko Widodo yang meminta agar komoditas milik Indonesia yang saat ini sedang tinggi tidak diekspor secara mentah. Ia mengatakan Jokowi ingin Indonesia dapat keuntungan lebih.

Untuk itu, menurut Erick, pemerintah berusaha memaksimalkan hilirisasi komoditas dalam negeri sembari terus mendorong ekspor. Erick mengatakan negara tak ingin terus mengekspor nikel mentah-mentah seperti yang selama ini dilakukan.

“Balance ekspor dan hilirisasi dalam negeri. Agar ketika komoditas suatu saat tidak berpihak ke kita, kita bisa rasakan value added yang berdampak di Indonesia,” lanjut dia.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan optimis harga komoditas akan terus melejit dengan strategi seperti ini. Bukan hanya nikel, menurutnya pemerintah juga berencana menghentikan ekspor mentah bauksit.

“Untuk generasi ke depan, ini langkah strategis dan Presiden konsisten terhadap ini. Jadi jangan ekspor raw material. Bauksit juga kami tunggu momen yang pas untuk berhenti. Kami undang investor masuk,” tuturnya.

Luhut mengatakan langkah ini tidak dikerjakan selama puluhan tahun ke belakang karena tidak ada integrasi antar kementerian dan lembaga. Dia menilai upaya ini tak akan tuntas jika tidak digarap secara bersama-sama.

Sementara itu, Luhut juga sempat menyinggung rencana investasi Indonesia bersama perusahaan kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla. Ia mengatakan salah satu industri yang sudah dibahas dalam rencana investasi adalah produksi baterai lithium.

“Kita selama ini segmented. Sekarang terintegrasi. Jadi nikel ada smelternya, turunannya. Copper ada smelter, turunannya. Salah satu turunan asam sulfat ini dibutuhkan lithium battery. Jadi nanti akan diproduksi asam sulfat 2023 dan lithium battery 2023,” kata Luhut.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Erick Thohir Tak Rela Nikel Cs Langsung Dieskpor

NIKEL.CO.ID – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan adanya konsistensi pemerintah untuk merumuskan regulasi ihwal mempertahankan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Keinginan pemerintah adalah produksi SDA akan dilakukan oleh produsen dalam negeri.

Pemerintah berupaya bahan baku dalam negeri tidak melulu diekspor ke luar negeri. Namun, porsi produksi juga secara optimal dilakukan oleh perusahaan di Tanah Air.

“Gimana kebijakan pemerintah bisa konsisten salah satunya di nikel. Kita enggak mau hanya kirim di dalam negeri, tapi bisa diproses dalam negeri,” ujar dia Kamis (25/2/2021).

Komoditas Indonesia tercatat meningkat. Baik batu bara, nikel, sawit dan komoditas fundamental lainnya. Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), komoditas Indonesia harus menjadi nilai tambah (value added) bagi bangsanya sendiri.

“Makanya Presiden berpesan jangan dilepas biasa, harus ada value edit dan lainnya. Itu saja, jadi kita fokus tiga program ini (Indonesia sehat, kerja, dan bangkit). Tentu dengan penjelasan saya. Kita fokus big issue nya. Kita harap 2021 ekonomi Indonesia pulih, 2022 tumbuh, dan 2023 kembali normal sesuai harapan,” kata dia.

Dalam paparannya di gelaran Economic Outlook 2021 ‘Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021’, Mantan Bos Inter Milan itu membeberkan bahwa tujuan pembentukan ekosistem industri baterai kendaraan listrik adalah mempertahankan sumber daya Indonesia.

“Kita buat perusahaan baterai nasional partner Catl dan LH chem. Ini untuk tahun 2023. Lainnya Indonesia tumbuh, itu Allah baik sama Indonesia,” tutur dia.

Industri Baterai alias Electric Vehicle (EV) bakal menarik investasi berskala besar yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir ini memiliki nilai investasi besar mencapai 13-17 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Sumber: OkeZone.com

Read More

Investasi Raksasa Konsorsium LG, Menjadikan Indonesia Sebagai Negara Pertama Di Dunia Yang Mengintegrasikan Industri Baterai Listrik Dari Pertambangan Hingga Baterai Lithium Mobil Listrik

NIKEL.CO.IDIndonesia akan segera memiliki pusat industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia. Pengembangan industri ini akan dilakukan perusahaan electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan LG Energy Solution Ltd yang bekerja sama dengan konsorsium BUMN. Sebelumnya, LG Energy Solution merupakan bagian dari LG Chem, anak perusahaan dari konglomerasi LG Group. Proyek kerja sama investasi ini merupakan hasil tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae In di Busan pada bulan November 2019 lalu.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian/Lembaga terkait lainnya melakukan berbagai pertemuan tindak lanjut dengan pihak LG. Serangkaian proses negosiasi yang panjang telah dilakukan dengan berpedoman pada prinsip saling percaya dan bertujuan untuk saling menguntungkan.

Hasilnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan LG Energy Solution di Seoul, Korea Selatan pada tanggal 18 Desember 2020. Penandatanganan ini disaksikan oleh Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Korea Selatan Sung Yun-mo. MoU berisi tentang kerjasama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri prekursor dan katoda dengan nilai rencana investasi mencapai USD9,8 miliar.

“MoU menjadi sinyal keseriusan yang sangat tinggi dari pihak LG dan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri baterai terintegrasi. Pada masa pandemi yang begitu penuh tantangan, keberhasilan ini merupakan kepercayaan luar biasa terhadap Indonesia. Nilai investasinya fantastis untuk satu korporasi, yaitu mencapai USD9,8 miliar,” kata Bahlil dalam keterangan persnya pagi ini (30/12/2020).

Kementerian BUMN telah menyiapkan konsorsium MIND ID yang terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara. MIND ID akan berkolaborasi dengan LG. Menteri BUMN Erick Thohir memastikan investasi ini berjalan dari sisi produksi dan juga memiliki pasar di dalam dan luar negeri.

“Investasi LG akan bermitra dengan konsorsium baterai BUMN di seluruh rantai pasok produksi. Pada pelaksanaannya akan ditindaklanjuti dengan studi bersama (joint study) untuk mengukur secara detail kerja sama yang akan dilakukan kedua pihak dari sektor hulu sampai hilirnya,” ujar Erick Thohir.

Sebagian proyek nantinya akan berlokasi di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah yang sudah ditinjau oleh Presiden Jokowi pada akhir Juni lalu. Kawasan industri seluas 4.300 ha ini merupakan percontohan kerja sama pemerintah dan BUMN dalam menyediakan lahan yang kompetitif dari sisi harga, konektivitas, dan tenaga kerja. Rencananya, sebagian baterai yang dihasilkan dari proyek ini akan disuplai ke pabrik mobil listrik pertama di Indonesia yang sudah lebih dahulu ada dan dalam waktu dekat akan segera memulai tahap produksi.

Pengembangan industri baterai listrik terintegrasi merupakan langkah konkret yang sesuai dengan target Presiden Jokowi untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju 2045. Hilirisasi pertambangan adalah salah satu wujud transformasi tersebut.

“Indonesia akan naik kelas dari produsen dan eksportir bahan mentah menjadi pemain penting pada rantai pasok dunia untuk industri baterai kendaraan listrik, dimana baterai memegang peranan kunci, bisa mencapai 40% dari total biaya untuk membuat sebuah kendaraan listrik,” ujar Bahlil menambahkan.

Dalam realisasi investasi proyek, perusahaan patungan ini akan memprioritaskan bekerjasama dengan pengusaha nasional, pengusaha nasional yang ada di daerah dan UKM (Usaha Kecil dan Mikro) lokal yang memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam setiap rantai pasok. Dengan demikian diharapkan dapat menggerakkan perekonomian nasional yang berdampak positif bagi daerah.

“Jadi, investasi ini akan menjadi model kolaborasi komplet yang melibatkan perusahaan asing dengan reputasi global, BUMN yang mumpuni, dan pelaku ekonomi swasta nasional/daerah yang kuat,” tegas Bahlil.

Hal lain yang juga menjadi bagian dari nota kesepahaman adalah memprioritaskan produk lokal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas industri nasional. Pemerintah Indonesia juga memastikan bahwa proyek investasi raksasa ini akan menyerap sebesar-besarnya Tenaga Kerja Indonesia.

Saat ini negara-negara di dunia telah mencanangkan pengurangan konsumsi bahan bakar dan pengurangan emisi karbondioksida (CO2) dan pencanangan penerapan kendaraan listrik sebanyak 15-100% dari total kendaraan yang beredar. Diperkirakan pada tahun 2040 terdapat 49 juta unit kendaraan listrik (electric vehicle) atau sekitar 50% dari total permintaan otomotif dunia. Selain itu, beberapa pabrikan mulai mengalihkan lini produksi kendaraan konvensionalnya menjadi kendaraan listrik, yaitu antara 20-50% dari total produksinya.

Adapun target penerapan kendaraan listrik di dunia akan terus meningkat secara bertahap. Dalam rentang tahun 2020-2030, negara-negara Asia akan mulai menerapkannya, antara lain Republik Rakyat Tiongkok (RRT) (8,75 juta unit kendaraan), Thailand (250 ribu unit kendaraan), Vietnam (100 ribu unit kendaraan), Malaysia (100 ribu unit kendaraan), serta India (55 ribu unit mobil listrik dan 1 juta unit motor listrik). Sementara itu, target penerapan kendaraan listrik Indonesia pada tahun 2035 adalah 4 juta unit mobil listrik dan 10 juta unit motor listrik.

Berdasarkan data BKPM, investasi asal Korea Selatan tahun 2015–triwulan 3 tahun 2020 tercatat sebesar USD8,12 miliar dengan 17 ribu proyek, 3.162 perusahaan dan menyerap tenaga kerja langsung 660.555 orang. Meski tahun 2020 dunia mengalami perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19, investasi Korea Selatan terus bergerak positif. (admin)

Read More

CATL China dan LG Chem Korea Selatan Rencana Investasi Proyek NIkel Senilai Rp 294 Triliun

NIKEL.CO.ID – Sebanyak dua produsen electric vehicle ( EV) battery untuk kendaraan listrik berminat berinvestasi di Indonesia. Dua produsen tersebut, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan.

Kedua perusahaan tersebut mengisyaratkan akan bergabung dengan proyek investasi senilai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 294 triliun (kurs Rp 14.700 per dollar AS) dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Tanah Air.

“Ini sebuah angin segar. Usaha Indonesia yang memiliki kekayaan tambang berlimpah untuk melakukan hilirisasi industri minerba langsung mendapat respons bagus dari investor asing,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/10/2020).

Erick mengatakan, Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel.

Kementerian BUMN saat ini tengah meningkatkan value chain nikel Nusantara yang berlimpah untuk memanfaatkan keuntungan sekaligus membangun industri baterai lithium di dalam negeri.

“Dengan kehadiran investasi luar negeri untuk menunjang program nasional di industri ini, maka saya yakin aspek keberlanjutan akan terus berkembang dan kita semakin kuat dalam daya saing untuk mendukung ketahanan energi bagi Indonesia,” kata Erick.

MIND ID sendiri sebagai Holding BUMN industri mineral dan batubara telah merampungkan proses divestasi 20 persen saham PT Vale Indonesia Tbk (PT VI) yang merupakan perusahan yang memiliki aset nikel terbaik dan terbesar di dunia.

Dengan menjadi pemegang saham terbesar kedua di PT VI, maka MIND ID akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk industri hilir nikel Indonesia. Baik untuk hilirisasi industri nikel menjadi stainless steel, maupun menjadi baterai kendaraan listrik.

“Ketertarikan dua produsen raksasa EV Battery itu untuk terlibat dalam rantai pasok nikel menunjukkan kerjasama MIND ID dan PT VI merupakan sinergi yang strategis, saling menguntungkan, dan saling melengkapi untuk memajukan industri pertambangan. Saya optimistis, hal ini akan semakin menumbuhkan kepercayaan banyak perusahaan kelas dunia kepada MIND ID dalam mengembangkan industri minerba lainnya di Tanah Air,” kata Dirut MIND ID, Orias Petrus Moedak.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati. Menurut dia, Pertamina siap membangun pabrik EV Battery bersama dua perusahaan BUMN energi lainnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Pertamina akan masuk ke bisnis, membangun pabrik baterai EV dalam kerjasama strategis. Nantinya, Inalum bakal fokus di sektor hulu sebagai pemasok bahan baku. Sementara itu, PLN fokus di sektor hilir sebagai distributor, dan Pertamina di tengah-tengah menyiapkan prosesnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini menyatakan ketertarikan CATL dan LG Chem utuk berinvestasi dalam hilirisasi industri menerba akan mempercepat perluasan penggunaan kendaraan listrik sesuai Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) berbasis baterai untuk transportasi jalan.

“Selain bekerjasama dengan perusahaan BUMN, seperti Pertamina dan Inalum, untuk menyiapkan segera industri hingga produk EV Battery, kami juga sudah berkolaborasi dengan lembaga terkait, dan produsen otomotif yang masuk pasar Indonesia, terutama dalam menyiapkan infrastrukturnya berupa stasiun pengisian listrik,” jelas Zulkifli.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Erick Thohir: 2 Investor dari China dan Korsel Minati Proyek NIkel Senilai Rp 294 Triliun

Read More

Menteri BUMN Minta Kepala BKPM Dorong Pengusaha Gunakan Listrik PLN Yang Oversupply

NIKEL.CO.ID – Menteri BUMN Erick Thohir diketahui tak hanya mengirim surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif yang berisi permintaan dukungan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Surat yang juga tertanggal 18 September 2020 dengan isi serupa juga dikirimkan ke Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM Bahlil Lahadalia. Surat berkop Menteri BUMN RI bernomor S-757/MBU/09/2020 itu ditembuskan kepada Menteri ESDM, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Dewan Komisaris PLN dan Direksi PLN.

“Memperhatikan kondisi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PT PLN baik kinerja operasional maupun keuangan yang terdampak pandemi Covid-19, kami harapkan dukungan Saudara untuk membantu kinerja PT PLN,” kata Erick Thohir ke Bahlil Lahadalia seperti yang dikutip dari suratnya, Kamis, 1 Oktober 2020.

Permintaan dukungan ke PLN ini didasari pada kondisi saat ini terjadi kelebihan pasokan pembangkit listrik terutama di sistem Jawa-Bali.

Agar bisa meningkatkan permintaan, Erick Thohir meminta Kepala BKPM untuk mendorong para pelaku usaha menggunakan listrik yang disediakan PLN. “Antara lain dengan membatasi pemberian izin usaha penyediaan listrik dan captiva power,” ujar Erick dalam suratnya tersebut.

PLN, kata Erick, berkomitmen untuk menyediakan kebutuhan tenaga listrik yang handal dengan tarif kompetitif bagi pelaku usaha.

Sebelumnya, surat senada dari Erick ditujukan kepada Menteri ESDM Arifin Tasrif. “Itu memang benar surat pak menteri,” kata staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga kepada awak media ketika dikonfirmasi, Kamis malam, 1 Oktober 2020.

Menurut Arya, surat tersebut intinya bukan menyoroti kondisi keuangan PLN. “Yang dilihat pak menteri adalah karena PLN sudah over supply. Ngapain kalau tidak dimanfaatkan?” ucapnya.

Ketimbang membangun pembangkit baru, menurut Erick Thohir, lebih baik memanfaatkan yang sudah ada. “Jadi tidak ada pemborosan energi. Kan sayang nih kalau misalnya kita bikin pembangkit yang baru, ada lagi nanti industri  bikin pembangkit yang baru. Sementara PLN sendiri mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ucap Arya.

Adapun kondisi oversupply ini sudah muncul sejak awal September 2020. Saat itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif meminta PLN proaktif mencari pelanggan. Agar, kelebihan pasokan saat ini dapat terserap oleh pelanggan. “PLN harus proaktif untuk memaksimalkan penyerapan listrik oleh industri karena ini business to business,” kata Arifin dalam keterangan resmi, dikutip dari Antara saat itu.

Arifin mengatakan bahwa dahulu, pemerintah membangun pembangkit dengan asumsi pertumbuhan listrik 6,5 persen per tahun. Tapi kenyataannya, hanya tumbuh 4 persen saja. “Karena itu pasokan listrik yang berlebih harus disalurkan agar tidak ada pembangkit yang idle,” kata Arifin.

Sumber: TEMPO

Read More

Bahas Investasi Pabrik Baterai, Erick dan Bahlil Hari Ini Terbang Ke Korsel

NIKEL.co.id – Hai ini, Rabu (23/9/2020) Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN Erick Thohir terbang ke Korea Selatan (Korsel). Kunjungan mereka bertujuan untuk menyelesaikan perjanjian investasi pabrik baterai di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah.

“Dalam konteks itu kita memanfaatkan sumber daya alam, saya besok (hari ini, red) dengan Pak Erick, Menteri BUMN ke Korea untuk menyelesaikan persoalan hilirisasi baterai,” ungkap Bahlil dalam rapat kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Pabrik baterai ini merupakan upaya hilirisasi industri yang terus dikejar pemerintah, terutama dalam mewujudkan nilai tambah pada ekspor komoditas nikel.

“Nikel kita ini yang ada sekarang sudah bagus juga, tapi kita sempurnakan. Sekarang ambil nikel, kemudian bangun smelter, barang setengah jadi 50%, ekspor, ini sebenarnya sudah bagus juga. Tapi belum maksimal untuk negara. Jadi kita ke depan, sekarang kita membangun baterai itu bukan dari hulu, bukan dari smelter. Tapi kita dorong untuk membangun pabrik baterai cell-nya. Hilirnya dulu kita kunci, baru katoda, baru prekursor, baru masuk di smelter,” terang Bahlil.

Bahlil mengatakan, calon investor dari Korsel itu akan membangun pabrik baterai listrik di atas lahan seluas 100 hektare (Ha) di KIT Batang. “Itu di Batang, dan itu areanya 100 hektare (Ha),” ujar Bahlil.

Dengan perjanjian ini, Bahlil meyakini tujuan utama pemerintah adalah meningkatkan ekspor bernilai tambah, dan tak hanya berpihak pada satu negara.

“Dalam beberapa perjalanan yang saya temui, ada kesan seolah-olah pemerintah ini hanya berpihak pada satu kelompok. Saya berpikir tidak seperti itu. Saya konsisten untuk menjalankan ini, tetapi dalam aturan main yang jelas. Dalam konteks itulah besok, kami akan bersama-sama dengan Menteri BUMN untuk clear,” tegas dia.

Namun, Bahlil enggan membeberkan nama perusahaannya tersebut. Ia mengatakan, nama perusahaannya akan diumumkan setelah kedua pihak menyepakati perjanjian kerja sama.

“Ini investasinya besar, ini terbesar di dunia. Itu lokasinya di Batang. Mohon maaf jangan tanya perusahaannya apa. Karena BKPM tidak boleh menjanji, biarlah hasil tahu, proses biar kami lakukan,” tutup dia.

Sumber: DETIK.COM

Read More

Jemput Investasi Baterai, Erick Thohir Bakal Terbang ke Korea

NIKEL.co.id – Di masa pandemi Covid-19, pemerintah masih terus berupaya untuk memperbaiki perekonomian, salah satunya dengan menggaet investor asing.

Seperti diketahui, pemerintah akan mendorong produksi baterai lithium melalui proyek hilirisasi nikel. Untuk melakukan penjajakan pembangunan pabrik baterai tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana terbang ke Korea Selatan.

“Kita terus create value added hasil pertambangan, terutama untuk produksi baterai. Dengan beberapa negara sedang melakukan penjajakan. Kita usahakan bisnis dari hulu sampai hilir ada di Indonesia karena market Indonesia sangat besar,” kata Erick dalam sebuah webinar, Rabu (16/09/2020).

Dalam upaya penjajakan dengan investor untuk pembangunan pabrik baterai tersebut, menurutnya Indonesia juga akan bermitra dengan China. Dan dalam waktu dekat ini, dirinya akan melakukan pertemuan di Korea Selatan.

“Penjajakan ini Alhamdulillah sudah mendapatkan hasil. Salah satunya berpartner dengan China dan beberapa minggu ini kami akan terbang ke Korea, untuk memastikan partnership berjalan,” kata Erick melanjutkan.

Seperti diketahui, pada tahun lalu produsen material baterai terbesar di China untuk kendaraan listrik, yakni Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd tengah penjajakan untuk investasi di Indonesia. Kini ada lagi investor asal China yang tertarik untuk investasi baterai lithium.

Hal tersebut tahun lalu sempat disampaikan Direktur Utama PT Antam Tbk (ANTM) yang saat itu dijabat oleh Arie Prabowo Ariotedjo.

“Yang Huayou masih belum final, tapi kalau tadi beda lagi dengan investor lain lagi dari China. Iya (ada yang tertarik lagi) kita harus lihat yang terbaik,” ungkapnya selepas Rakor Pengembangan Lithium Battery di Indonesia di Kantor Maritim, Senin, (9/12/2019) silam.

Huayou saat itu dikabarkan siap berinvestasi hingga US$ 1,83 miliar atau setara Rp 25,6 triliun dan sedang mencari rekan lokal. Budi menyampaikan, memang sejak pertengahan tahun lalu, Huayou berencana untuk membangun smelter nikel di Indonesia.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More