Luhut Ungkap Teknologi Pengolahan Nikel Kadar Rendah Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan adanya pengembangan teknologi pengolahan nikel kadar rendah yang mampu bersaing dan bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi nikel ini disebut Step Temperature Acid Leaching (STAL) yakni memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer (atmospheric pressure). Teknologi ini disebut mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90%.

Dia mengatakan, teknologi STAL yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini juga menghasilkan limbah yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, limbahnya bisa dikelola kembali menjadi produk yang bernilai, dibandingkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Menurutnya, limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi bijih besi atau iron ore dan produk lainnya.

“Selain itu, STAL juga dinilai akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Kamis (29/04/2021).

Oleh karena itu, Luhut pun mendorong adanya penerapan dari teknologi karya anak bangsa ini.

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” pintanya.

Selain itu, Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar, teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

Dengan teknologi modular ini, maka diperkirakan bisa dijangkau oleh industri pertambangan skala kecil yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per hari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1.800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Apresiasi dan Dukung Inovasi Teknologi STAL Yang Dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Monko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi inovasi pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metal and Minerals Tbk.

Hal tersebut disampaikan Luhut saat menggelar rapat koordinasi bersama Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, BPPT, Prof. Zaki Mubarok dari ITB, dan PT Trinitan Metal and Minerals, Tbk di Jakarta pada Kamis, (29/4/2021)

Pengembangan teknologi STAL pada nickel ore yang diproses dengan tekanan atmosfir (atmospheric pressure) dan mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90 persen. Dengan Teknologi STAL , limbah yang dihasilkan juga lebih ramah lingkungan dan dapat dikelola kembali menjadi produk yang bernilai dibandingkan dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi Iron Ore dan produk lainnya. Selain itu, STAL juga dinilai akan  menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Luhut mendorong penerapan teknologi hasil karya anak bangsa,

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” ungkap Menko Luhut sebagaimana siaran pers yang diterima nikel.co.id.

Menko Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut juga berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tandas Luhut.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran (modal) yang dibutuhkan akan bisa dijangkau oleh industri pertambangan pada skala yang lebih kecil dan yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel pertahun-nya atau 600 ton perhari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah Nickel Ore dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini, yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak. (Admin)

Read More

Luhut Pastikan Kerja Sama Freeport dan Tsingshan Rampung Minggu Depan

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan perusahaan asal China, Tsingshan Steel tengah menjajaki kerja sama pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kedua perusahaan ini akan melakukan penandatanganan secara resmi minggu depan.

“Minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Wedabe, Freeport dengan Tsingshan,” katanya dalam live streaming CNBC TV Prospek Industri Minerba 2021, Rabu (24/3/2021).

Luhut menerangkan, kerja sama kedua perusahaan ini menunjukkan adanya nilai tambah tembaga yang selama 52 tahun lebih tidak ada hilirisasi.

“Freeport itu 52 tahun Indonesia mana ada nilai tambah yang kita dapat. Mereka hanya ekspor raw material,” ungkapnya.

Menurut catatan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Freeport hanya akan mendanai 7,5 persen dari total kebutuhan investasi smelter tembaga tersebut senilai USD 2,5 miliar. Sementara itu, kapasitas smelter tembaga itu diperkirakan mencapai 2,4 juta ton konsentrat tembaga (input).

Nantinya Tsingshan Steel tak hanya membangun smelter tembaga saja, melainkan memiliki kewajiban membangun hilirisasi. Proyek smelter tembaga ini akan menjadi bagian produksi lithium battery Indonesia pada tahun 2023.

“Kita tahun 2023 akan memproduksi litium baterai dengan teknologi mutakhir NMC811,” tegas Luhut.

Luhut menjelaskan lebih rinci mengenai pembangunan smelter yang berada di Halmahera Tengah yaitu smelter nikel dan smelter tembaga. Secara keseluruhan terdapat lahan seluas 12.000 hektare (ha). Luhut berharap untuk smelter tambang mulai produksi tahun 2023, sementara untuk smelter nikel, “sekarang sudah produksi,” tutupnya.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Kata Luhut ke Tesla: Hey, You Need Us

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali angkat bicara terkait kelanjutan investasi Tesla Inc di Indonesia.

Luhut menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi dengan perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Luhut juga memastikan Tesla saat ini masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita ini bukan negara jelek. Beberapa malam yang lalu, Tesla masih mengejar kita, masih diskusi, semua masih berjalan dan berlanjut,” kata Luhut dikutip Kompas.com dari Kontan, Rabu (10/3/2021).

Luhut mengeklaim, Pemerintah Indonesia tidak akan bersikap meminta-minta ke pihak Tesla agar membangun pabrik di Indonesia.

Lebih lanjut Luhut mengatakan justru pihak Tesla yang lebih membutuhkan Indonesia.

“Itulah kenapa saya pikir mereka jangan begging-begging (memohon). Hey, you need us (Hai, kalian butuh kita). Kita juga butuh mereka. Jadi harus seimbang, jangan sampai kita ditempatkan posisi untuk meminta-minta,” ucap Luhut.

Luhut juga menyatakan publik tak perlu khawatir karena selama ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Tesla.

Meski, Luhut juga mengatakan tidak bisa menyampaikan secara mendetail bagaimana rencana investasti Tesla di Indonesia.

Hal ini terkait Indonesia yang masih memiliki non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla.

NDA merupakan perjanjian antar paihak untuk saling menjaga kerahasiaan informasi atau material tertentu yang tak boleh diketahui pihak lain.

Namun satu yang pasti, Luhut mengatakan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melihat potensi yang ada di Tanah Air.

Menurutnya, berbagai bahan baku mobil yang dibutuhkan Tesla seperti bauksit, nikel dan tembaga, semuanya dimiliki Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah terus mendorong untuk pengembangan industri pada industri hulu dan turunan dari mobil listrik yang salah satunya adalah baterai.

Diketahui pula, Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS).

Sederhananya, ESS ini seperti “power bank” dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan megawatt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Sumber: Kompas.TV

Read More

Luhut Ungkap Alasan RI Mau Bikin Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan alasan kenapa Indonesia bersikeras mau membangun industri mobil listrik di dalam negeri. Hal ini ternyata kaitannya dengan upaya meredam negara maju seperti Uni Eropa yang ‘jail’ dengan upaya Indonesia untuk menjadi negara maju.

Ia menyatakan Indonesia siap menghadapi gugatan melawan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait larangan ekspor bijih nikel. Saat ini, Indonesia sedang menghadapi dua gugatan melawan Uni Eropa.

Selain bijih nikel, Indonesia menggugat Uni Eropa karena larangan ekspor kelapa sawit. UE menganggap kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Dua gugatan menghadapi lawan yang sama ini membuat Indonesia harus bersiap.

“Sekarang hilirisasi di beberapa tempat semua harus kita dorong. Kita harus lawan nanti kalau orang bicara lingkungan, kami makanya turunan seperti EV (electric vehicle) harus dibuat di sini,” sebut Luhut dalam Rakernas BPPT, Selasa (9/3/21).

Dengan adanya mobil listrik yang sedang dalam proses penggarapan, maka polusi udara bisa ditekan. Lebih dari itu, jika pengerjaan turunannya juga ada di Indonesia, maka semakin banyak nilai tambah yang diperoleh, termasuk makin besarnya lapangan kerja.

“Kalau barang harus diekspor lagi ke Eropa yang (dapat) lapangan kerja Eropa aja. Sekarang kita bawa mereka ke WTO, kita harus lawan, kita nggak mau negara berkembang ini dilecehkan,” sebutnya.

Luhut juga berpesan agar Indonesia siap menghadapi perselisihan itu. Apalagi, yang dihadapi bukan negara berkembang, melainkan deretan negara maju di benua biru.

“Saya ingin pesan ke Anda yang lebih muda, pengalaman saya, negara maju nggak ada satu pun yang ingin negara berkembang jadi negara maju. Keep ini your mind. Nggak akan. Di ecret-ecret aja kamu. Saya bilang nggak mau, kita harus bisa keluar dari keperkungkungan tadi dan kita bisa. Saya minta kita kompak karena kita kerja tim. Banyak orang pintar kita disini,” tegas Luhut.

Sebelumnya Uni Eropa secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592 – Measures Relating to Raw Materials pada pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body – WTO) pada 22 Februari 2021.

Uni Eropa telah menyoroti langkah dan kebijakan Indonesia di sektor minerba dan pada akhirnya mengajukan secara resmi permintaan konsultasi kepada Indonesia di bawah mekanisme penyelesaian sengketa pada WTO di akhir November 2019.

Selanjutnya, proses konsultasi sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan antara Indonesia dan Uni Eropa, telah dilaksanakan pada Januari 2021 di Sekretariat WTO di Jenewa.

Dalam proses konsultasi ini, pemerintah Indonesia telah menjelaskan atas pokok-pokok persoalan yang diangkat Uni Eropa seperti pelarangan ekspor,
persyaratan pemrosesan di dalam negeri, kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation), mekanisme dan persyaratan persetujuan ekspor dan pembebasan bea masuk bagi industri.

Indonesia telah menolak permintaan tersebut pada pertemuan DSB WTO di Januari 2021 karena yakin bahwa kebijakannya telah sesuai dengan ketentuan WTO dan amanat konstitusi.

Namun demikian, dalam pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body – WTO) pada 22 Februari 2021, UE secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592 – Measures Relating to Raw Materials.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Tegaskan Tak Negosiasi dengan Tesla Soal Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengaku tak pernah secara spesifik membicarakan pabrik mobil listrik dengan produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc.

Luhut menjelaskan, alasan Tesla melirik Indonesia adalah karena sebagai penghasil nikel ore terbesar di dunia. Dimana nikel ini dapat digunakan dalam pengembangan mobil listrik Tesla.

“Jadi yang benar gini, ada enam di tempat mereka itu, salah satunya mobil. Ada lagi mengenai Starlink launching pad, hypersonic, ada baterai lithium pack, dan stabilizer energy. Itu yang kita bicarakan,” kata Luhut dalam Indonesia Economic Outlook Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021, Kamis (25/2/2021).

Untuk diketahui, perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat itu dikabarkan semakin positif memilih India sebagai basis produksi keduanya di Asia. Padahal di saat yang sama Indonesia juga sedang melakukan pendekatan. Namun Luhut masih optimis dengan kelanjutan dari negosiasi dengan Tesla, menimbang sumber daya yang dimiliki Indonesia.

“Jadi, mereka (Tesla), melihat potensi kita. Dan sampai hari ini kita masih bicara,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan adanya perjanjian di mana isu negosiasi tidak boleh diungkapkan kepada publik (Non-Disclosure Agreement/ NDA). Oleh sebab itu, pihaknya tidak bisa merinci apa saja yang saat ini tengah dibicarakan.

Kepala BKPM: Negosiasi dengan Tesla Masih Jalan

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengatakan belum ada keputusan mengenai batalnya investasi Tesla di Indonesia. Proses negosiasi masih berjalan.

“Kalau Tesla itu masih dalam negosiasi, gagal itu kalau sudah ada keputusan. Ini kan masih negosiasi,” kata Bahlil dalam webinar PT Krakatau Bandar Samudera pada Rabu (24/3/2021).

Bahlil menekankan bahwa peluang untuk bekerja sama harus selalu terbuka.

“Pengusaha itu kalau tidak ada peluang harus menciptakan peluang. Tidak boleh pesimis, selalu harus terbuka,” ungkapnya.

Tesla dikabarkan akan memilih India untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV battery). Pemerintah Indonesia saat ini tengah fokus merealisasikan rencana menjadikan Indonesia sebagai pasar besar untuk baterai kendaraan listrik, dan Tesla disebut sebagai salah satu perusahaan yang tertarik berinvestasi.

Bahlil mengatakan, di masa depan adopsi mobil listrik berbasis baterai akan semakin besar. Pada 2028 – 2030, 60 hingga 70 persen mobil di Eropa sudah harus bergeser ke mobil listrik.

“80 persen dari total bahan baku baterai mobil itu ada di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia ke depan akan menjadi negara penghasil baterai terbesar,” tuturnya.

Sumber: Liputan6.com

Read More

Luhut: NDA Sudah Ditandatangani, Tinggal Menunggu Proposal Tesla

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia telah menandatangani NDA (non-disclosure agreement) dengan perusahaan otomotif dari Amerika Serikat, Tesla Inc. NDA merupakan perjanjian kerahasiaan yang mengikat para pihak yang menandatanganinya.

“Kami sudah 6 kali bervideo call dan NDA sudah selesai ditandatangani,” kata Luhut dalam Dialog Special: Tantangan dan Optimisme Investasi 2021, Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Luhut menyebut, dalam waktu dekat, pemerintah akan menerima proposal yang diajukan Tesla dalam proyek baterai kendaraan listrik.

“Saya pikir hari ini atau besok kita akan menerima proposal dari mereka,” sambungnya.

Meski begitu, Luhut mengaku belum mengetahui berapa besar investasi yang akan diberikan Tesla dalam proyek tersebut. Sebab, dia belum bisa membuka informasi detil dalam rencana kerjasama dengan perusahaan asal negara Paman Sam itu.

“Kita belum bisa men-disclose (membuka) terlalu detil ke publik,” kata dia.

Sebagai informasi, utusan dari Tesla dikabarkan batal datang ke Indonesia untuk membahas perencanaan pembangunan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Tesla merupakan satu dari 7 perusahaan asing yang akan bermitra dengan PT Indonesia Battery Holding (IBH) dalam membangun industri kendaraan listrik berbasis baterai.

Sumber: merdeka.com

Read More

Freeport – Thingshan Pastikan Bakal Bangun Pabrik Smelter Senilai USD1,8 Miliar di Halmahera Maret 2021

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara memasuki babak baru.

Freeport dan investor asal China, Tshingshan Steel tampaknya telah menemui kesepakatan baru untuk membangun smelter di Teluk Weda, Halmahera senilai USD 1,8 miliar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaiatan dalam sebuah wawancara bersama Asia Times, beberapa waktu lalu.
Luhut memproyeksikan kesepakatan tersebut dapat ditandatangani sebelum Maret 2021.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut. Tapi kedua pihak (Freeport dan Tshingshan) masih dalam tahap pembahasan rinci,” kata Luhut seperti dikutip Asia Times, Senin (14/12/2020).

Menurut laporan Asia Times, Luhut dan sumber lainnya yang mengetahui kesepakatan tersebut menyatakan, Tshingshan telah sepakat untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan.

Saat ini, tersedia beberapa opsi untuk lokasi smelter tembaga PT Freeport Indonesia. Pertama, memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi Material Corporation yang ada di Gresik, Jawa Timur.

Pilihan lainnya yakni membangun smelter tembaga yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau memindahkan seluruh proyek ke Halmahera.

Sumber: industry.co.id

Read More

Untung atau Buntung? Luhut Senang dengan Kesepakatan, China Akan Bangun Smelter Freeport

NIKEL.CO.ID – Tsingshan Steel China telah setuju untuk membangun smelter tembaga yang dimandatkan pemerintah Indonesia. Raksasa pertambangan Freeport Indonesia (PTFI) mengusulkan smelter tembaga baru, namun berlarut-larut hingga kini

Kabar terbaru China Tsingshan Steel setuju untuk membangun fasilitas senilai US $ 1,8 miliar di kompleks pengolahan nikel Teluk Weda di Halmahera, Indonesia timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal Luhut Panjaitan dalam wawancara dengan Asia Times mengungkapkan bahwa kesepakatan itu diharapkan bisa ditandatangani sebelum Maret Mendatang Sebagaimana dilansir dari Asia Times 29 November 2020.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut,” katanya,

Namun, kedua belah pihak masih dalam pembahasan rinci. Hingga saat ini, pilihannya adalah memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi yang ada di Gresik, Jawa Timur, membangun peleburan baru yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau mengalihkan seluruh proyek ke Halmahera sebagai bagian dari pusat peleburan terintegrasi.

Luhut Panjaitan dan sumber lain yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan bahwa Tsingshan telah setuju untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan

Meninggalkan Freeport untuk membangun perpanjangan $ 250 juta untuk pabrik Mitsubishi dalam apa yang dapat dilihat sebagai isyarat komitmennya untuk pemrosesan di dalam negeri. dari semua bijinya.

Mitsubishi dan Freeport menandatangani perjanjian pada 13 November untuk menambah 300.000 ton ke kapasitas satu juta ton fasilitas saat ini. Freeport masih siap, walaupun masih enggan untuk membangun smelter baru jika kesepakatan Tsingshan gagal.

Perusahaan juga berkomitmen untuk pembangunan kilang logam mulia di lokasi yang sama sekarang setelah izin ekspornya telah berakhir untuk lendir anoda, sedimen yang kaya akan emas, perak, selenium dan telurium yang tersisa dari proses peleburan.

Kebingungan masalah smelter selama dua tahun terakhir adalah  dengan birokrat senior dan politisi tampaknya berbeda di mana seharusnya lokasinya. Setelah kesepakatan Tsingshan disepakati, masih membutuhkan persetujuan pemerintah.

Hingga akhir pekan lalu, Menteri Pertambangan dan Energi Arifin Tasrif masih terus membahas masalah ini.

“Yang penting bagi pemerintah, pengolahan konsentrat tembaga itu berlangsung di dalam negeri,” ujarnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Luhut Panjaitan telah menjadi pendukung utama perpindahan ke Halmahera yang kaya nikel, membuat Freeport dan komunitas pertambangan Indonesia sama sekali tidak sadar pada Juni lalu dengan mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah menyetujui rencana tersebut.

Dia juga penggerak utama di balik industri kendaraan listrik yang direncanakan, dengan produsen mobil Korea Selatan Hyundai sebagai investor awal $ 1,5 miliar dan LG Chemical tertarik untuk membangun pabrik baterai lithium di lokasi yang sama di dekat Jakarta.

Dengan Tsingshan juga berencana untuk menyelesaikan pabrik baterai lithium di Weda Bay pada tahun 2023, pabrik peleburan tembaga baru akan menyediakan asam sulfat yang dibutuhkan untuk memproduksi feronikel kualitas rendah untuk pasar baja tahan karat dan juga untuk memulihkan kobalt dari baterai lithium bekas.

Indonesia memiliki 80% elemen yang dibutuhkan untuk produksi baterai litium, termasuk kobalt, mangan, aluminium, bahkan elemen tanah jarang. Tapi di cakrawala juga adalah pabrik daur ulang di Halmahera yang pada akhirnya dapat menghilangkan kebutuhan mineral baru dalam proses produksi.

Tembaga Freeport akan menjadi sumber kabel dan suku cadang lainnya untuk industri mobil listrik rumahan yang dibayangkan oleh Luhut Panjaitan.

Menurut salah satu perkiraan ahli, kendaraan listrik baterai menggunakan tembaga sebanyak 83 kilogram, dibandingkan dengan 23 kilogram untuk mesin pembakaran internal.

Layanan investasi Seeking Alpha mengatakan baru-baru ini bahwa perusahaan induk anak perusahaan Indonesia, Freeport McMoRan Copper & Gold (FCX), memiliki peluang unik di dunia dengan harga tembaga yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai kendaraan listrik yang terus meningkat.

Jika hal itu terus berjalan,, kesepakatan dengan Tsingshan akan menyelamatkan pemerintah Indonesia dan FCX ​​sekitar $ 3 miliar, perkiraan biaya pembangunan smelter mereka sendiri di Kawasan Industri Gresik, sebelah utara kota pelabuhan Surabaya.

Sebagai pemilik mayoritas baru PTFI, pemerintah sudah harus membayar setengah dari biaya ekspansi bawah tanah besar-besaran di tambang Grasberg di Dataran Tinggi Tengah Papua, cadangan emas terbesar dunia dan tambang tembaga terbesar kedua.

Dianggap sebagai salah satu operasi penambangan paling menguntungkan di dunia, berkat simpanan emasnya yang kaya, cadangan terbukti di dataran tinggi Grasberg berkontribusi sekitar sepertiga dari total portofolio FCX, yang juga mencakup tambang tembaga di Amerika Serikat dan Chili.

Tidak seperti nikel, pemurnian tembaga adalah bisnis yang terkenal marjinal ketika proses akhir pengubahan konsentrat menjadi katoda tembaga hanya menambahkan 5% dari nilai keseluruhan. Diperkirakan, setiap smelter Gresik baru akan kehilangan $ 10 miliar selama 20 tahun ke depan.

Asia Times memahami bahwa Freeport telah melakukan pembayaran biaya perawatan dan pemurnian (TCs / RCs) kepada Tsingshan yang lebih tinggi dari harga pasar dengan jumlah yang sama dengan pajak ekspor 5% yang saat ini dibayarkan oleh perusahaan untuk setengah dari konsentrasinya saat ini. ekspor ke Jepang dan Spanyol.

Meskipun hal itu akan menjadi subsidi untuk biaya operasi Tsingshan dan keseluruhan sinergi tampak menarik, para ahli keuangan masih mempertanyakan kelayakan ekonomi pembangunan peleburan tembaga di tempat terpencil seperti Halmahera, sebuah proposisi yang tidak akan pernah dipertimbangkan Freeport.

Mereka mengatakan bahwa menggantungkan pajak ekspor sebagai subsidi mungkin merupakan ide yang cerdas, tetapi bahkan hal itu mungkin tidak menghasilkan arus kas yang positif di lingkungan saat ini.

Seperti yang dikatakan salah satu sumber: “Secara realistis, satu-satunya cara untuk meningkatkan ekonomi adalah dengan memotong biaya modal, yang berarti tidak ada kontrol lingkungan.”

Pengangkutan konsentrat Freeport tidak dianggap sebagai faktor utama, namun jarak antara pelabuhan Freeport di Timika di pantai selatan Papua ke situs Halmahera hanya 2.660 kilometer, dibandingkan dengan jalur 4.000 kilometer ke Gresik.

Tsingshan dan perusahaan pertambangan Prancis Eramet memulai operasi peleburan nikel di Weda Bay Processing Park senilai $ 2,2 miliar pada bulan April tahun lalu, menambah kompleks perintis multi-miliar dolar yang dioperasikan oleh grup Cina di Morawali di pantai timur Sulawesi Tengah.

Meskipun smelter Gresik belum menarik industri pendukung selama 20 tahun terakhir beroperasi, Panjaitan masih yakin menarik investor luar negeri ke Halmahera, terutama perusahaan manufaktur China yang ingin pindah ke lepas pantai.

China sudah mencengkeram industri nikel Indonesia, memicu kontroversi dengan mendatangkan ribuan pekerjanya untuk membangun dua pusat pengolahan di Sulawesi Tengah dan sekarang Halmahera.

Di kompleks Morowali senilai $ 7,8 miliar di Sulawesi, Tsingshan dan mitra Indonesia PT Bintang Delepan mengoperasikan pabrik peleburan nikel pig iron tiga juta ton per tahun, fasilitas baja karbon 500.000 ton dan pabrik ferrokrom karbon tinggi 600.000 ton.

Lebih jauh ke pesisir, di Sulawesi Tenggara, Industri Nikel Naga Kebajikan China tahun lalu menyelesaikan tahap pertama senilai $ 1,4 miliar dari kompleks Konawe tiga fase, yang pada akhirnya akan memiliki kapasitas produksi tiga juta ton feronikel setahun.

Penasihat terdekat Presiden Widodo dalam berbagai topik, Luhut Panjaitan selalu memperlakukan pabrik peleburan Freeport sebagai ujian terakhir dari tekad pemerintah untuk menambah nilai pada mineralnya dan melindungi negara dalam rantai pasokan global.

FCX yang berbasis di Phoenix enggan membangun smelter baru karena biaya modal yang tinggi dan kenyataan, yang selalu diabaikan oleh pemerintah, bahwa peleburan tidak pernah menjadi bisnis yang menguntungkan.

Tetapi keadaan mungkin telah berubah dengan akuisisi 51% saham PTFI oleh pemerintah pada tahun 2018, sebagai imbalan atas perpanjangan kontrak FCX, dan merebaknya pandemi virus corona yang telah membebani keuangan negara.

Sumber: Jurnal Presisi

Read More

Luhut: Peta Jalan Hilirisasi Enam Sumber Daya Alam Akan Selesai Pada 30 November 2020

Pada 2023, Indonesia akan memiliki smelter yang menghasilkan asam sulfat yang digunakan untuk produksi baterai lithium.

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia bisa memiliki industri lithium baterai pada 2023. Hal ini bisa terealisasi jika penandatanganan kerja sama pembangunan industri baterai dengan investor dapat dilakukan Maret 2021, maka dalam 18-24 bulan kemudian Indonesia bisa memiliki smelter tembaga.

Smelter tersebut dapat menghasilkan asam sulfat yang digunakan untuk produksi baterai lithium, sehingga pada 2023 Indonesia bisa memproduksi baterai. Hilirisasi menurutnya memberikan nilai tambah dari segala hal termasuk membuka lapangan pekerjaan dan pendapatan negara.

“Semua orang apresiasi dengan hilirisasi karena semua ada, nilai tambah ada misalnya nikel, nilai ekspor besi baja akan masuk US$ 10 miliar, itu mengalahkan kendaraan roda empat, ini belum sampai lithium baterai,” kata Luhut, Rabu (25/11/2020).

Dia mengharapkan ke depannya investasi yang masuk dengan teknologi tinggi yang bisa mengolah nikel dan hasil bumi RI. Pihaknya pun tengah menyusun peta jalan hilirisasi enam sumber daya alam, seperti bauksit, nikel, tembaga, bersama dengan perguruan tinggi UI, ITB, dan UGM. Hasil kajian ini akan selesai pada 30 November dan akan dilaporkan ke Presiden Joko Widodo.

“Indonesia memiliki cadangan metal yang cukup menjadi pemain itu, kita punya semua 80%, kita harus menjadi bagian global supply chain. Kalau Indonesia jadi bagian global supply chain kita juga akan memberikan pengaruh pada dunia,” katanya.

Saat ini Sulawesi menjadi episentrum nikel di Indonesia. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More