Menuju Produsen Baterai Kendaraan Listrik Terkuat di Dunia

  1. Oleh: Budiawan Sidik A

Indonesia berpotensi besar menjadi produsen baterai kendaraan listrik terkuat di dunia.  Sejumlah bahan baku utama untuk memproduksi baterai mobil terdapat di negeri ini.

Sebut saja nikel, kobalt, alumunium, mangan, tembaga, dan sejumlah unsur mineral penting lain untuk memproduksi baterai berlimpah di perut bumi Indonesia. Terbuka peluang sangat besar bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban moderen masa depan dunia.

Menurut “The International Renewable Energy Agency” (IRENA), dunia di masa mendatang akan mengalami banyak perubahan menuju energi terbarukan. IRENA memiliki skenario perencanaan pada tahun 2030 nanti sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 38 persen.

Besaran sumber pembangkitan listrik EBT ini diperkirakan kian meningkat lagi pada tahun 2050 menjadi sekitar 55 persen. Hal ini merupakan lonjakan yang sangat signifikan karena pada tahun 2018 jumlah pembangkit listrik EBT secara global masih berkisar 26 persen.

Meningkatnya jumlah pembangkit listrik EBT tersebut direncanakan akan disertai dengan bertambahnya konsumsi energi final yang berwujud listrik. Konsumsi energi yang berasal dari sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara akan kian mengecil. Konsumsi energi final berupa listrik pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 24 persen dan pada tahun 2050 bertambah menjadi 30 persen.

Bertambahnya konsumsi listrik di masa depan, salah satunya karena adanya pergeseran sejumlah teknologi secara masif. Salah satu yang paling revolusioner adalah penggunaan mobil bertenaga listrik yang perlahan-lahan menggeser penggunaan mobil berbahan bakar energi fosil.

Pada tahun 2030 nanti direncanakan akan ada sekitar 269 juta unit kendaraan berbasis tenaga listrik di seluruh dunia. Jumlahnya akan terus berlipat-lipat pada dasawarsa berikutnya. Pada tahun 2050, diperkirakan jumlah mobil listrik akan mencapai lebih dari 600 juta unit kendaraan.

Proyeksi jumlah kendaraan bebas emisi karbon di masa depan tersebut sangatlah fantastis karena hingga 2019 lalu, jumlah mobil listrik diperkirakan tidak lebih dari 8 juta unit kendaraan.

Terkait dengan mobil listrik tersebut, Indonesia berpeluang sangat besar untuk turut serta menciptakan komponen terpentingnya, yakni baterai sebagai sumber penampungan energi. Berlimpahnya bahan tambang mineral nikel di Indonesia menyebabkan negeri ini berpeluang untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik terkuat di dunia.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia mencapai kisaran 800 ribu ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400 ribu ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

Bila dibandingkan oleh produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya karena negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270 ribu ton setahun.

Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit sekitar 72 juta ton. Menurut data USGS dan Badan Geologi, Kementerian ESDM, cadangan ini menempati posisi pertama di dunia dengan porsi hingga 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang berkisar 139 juta ton.

Posisi selanjutnya, ditempati Australia dengan besaran 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari seluruh cadangan dunia. Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki ijin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter.

Selain deposit cadangan tersebut, diperkirakan Indonesia masih memiliki potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya mencapai kisaran 4,5 miliar ton.

Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini. Dengan jumlah cadangan sebesar itu maka produksi nikel di Indonesia baru akan habis dalam beberapa dekade mendatang. Dengan kata lain Indonesia memiliki komoditas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh banyak negara.

Sebagai produsen terbesar dan sekaligus pemilik cadangan nikel terbanyak di dunia membuat Indonesia sangat menarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di industri baterai kendaraan listrik.

Nikel yang dahulu kala hanya diekspor sebagai komoditas bahan mentah, kini berubah menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik kelas dunia. Hampir dapat dipastikan semua investor terkait energi baterai skala gobal akan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Untuk terus pengembangkan sumber daya nikel menjadi bernilai ekonomi tinggi guna memperkuat perekonomian bangsa maka sejak tahun 2018, pemerintah mulai membangun ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.

Ada sejumlah agenda kegiatan yang menunjukkan Indonesia bersiap menuju transisi transportasi berbasis listrik. Dimulai dengan meresmikan electric vehicle charging station (EVCS) oleh BPPT; menghadirkan e-taksi jenis mobil listrik dengan bekerja sama dengan Blue Bird; pameran Indonesia Electrik Motor Show (IEMS 2019); serta peresmian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) oleh PLN di sejumlah lokasi.

Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 100-an SPKLU yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia. Di antaranya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makasar, dan Sumba, NTT.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.

Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia.

Berpijak pada aturan tersebut, pemerintah selanjutnya membuat roadmap terkait pengembangan industri KBLBB berikut manufakturing baterai listriknya. Dalam pengembangan  KBLBB pemerintah melibatkan segenap stakeholder agar program ini dapat terealisasi secara akseleratif.

Mulai dari institusi yang merancang rekayasa teknologi seperti BPPT; LIPI; perguruan tinggi; kemenristekdikti; PLN; hingga institusi lainnya yang bersifat mendukung. Terdiri dari Kemenkeu, Kemendag, Kemenperin, KLHK, Kemenhub, Polri, Kementerian ESDM, hingga Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Demikian juga dalam pengembangan industri baterai listrik, pemerintah juga melibatkan sejumlah stakeholder penting. Mulai dari Batan; BPPT; LIPI; Pertamina; Antam; PLN; hingga industri otomotif seperti Toyota.

Dalam penguatan struktur industri KBLBB itu pemerintah merancangnya dalam beberapa tahapan. Pada tahun 2020, investor KBLBB diperkenankan melaksanakan impor unit kendaraan dalam bentuk completely built up (CBU) dengan jumlah unit dan tempo tertentu.

Pada tahun 2021, investor melakukan perakitan KLB BB secara completely knokn down (CKD) di Indonesia. Investor yang terlibat program KBLBB ini diwajibkan mengikuti komitmen realisasi investasi dengan melakukan perakitan mobil listrik yang di dalam negeri.

Selanjutnya, pada tahun 2022, para investor diperkenankan mendatang investasi baru dengan menggandeng partner lokal perakitan kendaraan listrik. Beberapa komponen KBLBB wajib menggunakan kandungan lokal dalam negeri.

Pada kurun 2023-2025, investor wajib melakukan penguatan dan pendalaman struktur industri komponen kendaraan listrik. Pada fase ini merupakan tahapan penting untuk pembuatan komponen utama dan pendukung untuk memperkuat struktur industri KBLBB dalam negeri.

Industri komponen utama itu terdiri dari baterai listrik (sel, modul, dan pack); serta power train berupa traksi motor dan transmisi. Untuk industri pendukungnya berupa perusahaan platform seperti chasis kendaraan, struktur body eksterior dan interior kendaraan. Selain itu, juga didukung oleh industri produk controller kendaraan.

Terkait baterai kendaraan listrik, pemerintah Indonesia sudah melakukan perancanaan yang relatif baik agar komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi negara.

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat produksi dan juga sumber cadangan nikel terbesar di dunia. Jadi, keunggulan absolut ini harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin agar dapat mendorong Indonesia tampil sebagai negara penting bagi kemajuan teknologi kendaraan listrik secara global di masa mendatang.

Menurut Kementerian BUMN, roadmap industri baterai diproyeksikan akan berkembang secara bertahap mulai tahun 2020 hingga 2027. Pada tahun 2020, pemerintah akan memilih partner bisnis dalam konsorsium baterai nasional.

Tahun 2021, membangun energy storage system (ESS) atau penyimpanan energi berskala besar di sejumlah daerah yang diprioritaskan. Tahun 2022, produsen peralatan asli (OEM) diharapkan sudah memulai produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Tahun 2023, pilot project memproduksi cell baterai 200 MWh dalam bentuk pack. Selanjutnya, tahun 2024, pemurnian high pressure acid leaching (HPAL) untuk prekursor dan katoda mulai beroperasi.

Tahun 2025, direncanakan akan menjadi fase pertama produksi cell baterai 8-10 GWh dalam bentuk pack. Tahun berikutnya, 2026, ibu kota negara yang baru ditargetkan menggunakan 100 persen transportasi kendaraan listrik. Terakhir pada tahun 2027, industri daur ulang baterai listrik sudah dioperasikan.

Realisasi Roadmap

Pada tahun 2021 ini, roadmap pengembangan industri KBLBB dan manufakturing baterai listrik tersebut tampaknya menunjukkan realisasi perkembangan yang positif. Terutama yang terkait dengan industrialisasi baterai kendaraan berbasis listrik.

Pada April lalu, Indonesia membentuk perusahaan holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC). IBC ini merupakan perusahaan kerjasama antar-BUMN energi seperti MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Masing-masing institusi ini memiliki besaran saham yang sama, yakni 25 persen.

Keempat BUMN ini memiliki tugas yang beragam. PT Antam bertugas membangun smelter HPAL; PT Pertamina dan MIND ID memproduksi prekursor dan katoda mulai tahun 2024; dan pabrik cell to pack oleh PT Pertamina dan PT PLN yang mulai beroperasi pada tahun 2025.

Keempat BUMN yang tergabung dalam IBC tersebut akan menjadi mitra kerjasama dengan sejumlah perusahan yang berinvestasi di bidang baterai kendaraan berbasis listrik di Indonesia. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada dua investor yang berkomitmen membangun industri baterai di Indonesia mulai dari hulu hingga hilir.

Perusahaan itu adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai kisaran lebih dari Rp 200 triliun. Terdiri dari Rp 142 triliun yang berasal dari LG Energy Solution dan kisaran Rp 65 triliun dari CATL.

LG Energi Solution merupakan salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Investor Korea ini menggandeng investor lainnya seperti LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding membentuk konsorsium untuk berinvestasi di Indonesia terkait industrailisasi baterai kendaraan listrik.

Ada kemungkinan jumlah investor yang tertarik bekerjasama di bidang baterai listrik akan bertambah lagi. Pada Maret lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa perusahaan asal Jerman, “Badische Anilin-und Soda-Fabrik” (BASF) juga dilaporkan sudah siap menanamkan modalnya di Indonesia.

Pun demikian dengan produsen mobil listrik dari Amerika, Tesla, kemungkinan besar akan tetap melangsungkan investasinya di Indonesia pada sektor ESS untuk mendukung penyimpanan energi skala besar.

Para investor tersebut secara tidak langsung akan membuat jalinan utuh yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir industri baterai berbasis listrik. Akan terjalin integrasi seluruh rantai pasok baterai mulai dari pertambangan, smelter, prekursor, katoda, mobil, hingga fasilitas daur ulang yang semuanya dibangun di Indonesia.

Tentu saja, konsorsium LG merupakan investor yang paling lengkap sistem supply chain-nya mulai dari hulu hingga hilir karena investasi yang digelontorkan relatif sangat besar yakni sekitar 9,8 miliar dollar AS atau kisaran Rp 142 triliun. Kabarnya investasi ini merupakan yang terbesar di Indonesia pasca era reformasi.

Tentu saja langkah bisnis kerja sama tersebut juga disertai dengan MoU yang juga mengedepankan kepentingan nasional Indonesia. Di antaranya, investor tersebut diwajibkan untuk mengolah setidaknya 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik harus diproses di Indonesia. Pemerintah tidak ingin para investor itu membawa nikel keluar wilayah Indonesia dan mengolahnya di luar negeri.

Apabila rencana tersebut terwujud maka Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang mengintegrasikan industri baterai listrik mulai dari pertambangan hingga memproduksi baterai kendaraan listrik. Bahkan, berlanjut hingga perakitan unit kendaraan listrik berikut proses daur ulang baterainya sehingga tidak mencemari lingkungan.

Proses Industrialisasi

Terbentuknya BUMN holding baterai, IBC dan sudah hadirnya investor dari luar negeri membuat rencana program industrialisasi komponen baterai listrik segera terealisasi dalam waktu dekat.

PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan konsorsium LG akan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Bekasi, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan akan menempati lahan seluas 33 hektar dan menyerap sekitar seribu tenaga kerja Indonesia.

Pada pembangunan tahap pertama nanti diperkirakan memiliki kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWH) untuk memenuhi suplai kendaraan listrik Hyundai.

Dengan terbangunnya industri kendaraan listrik tersebut tentu saja akan memberikan konstribusi yang relatif signifikan bagi perekonomian nasional. Bila dibandingkan saat menjual nikel dalam bentuk mentah dengan sudah menjadi battery pack nilainya sangat jauh berbeda.

Berdasarkan laporan kementerian BUMN menunjukkan terjadi pertambahan nilai hingga kisaran 90-160 kali dari harga bahan mentah. Ketika suadah menjadi battery pack diperkirakan harganya berkisar antara 130 ribu-220 ribu dolar AS per ton.

Sangat timpang dengan harga nikel mentah yang hanya berkisar 1.100-1.700 dollar AS per ton. Nilai akan jauh lebih timpang lagi ketika berubah menjadi kendaraan listrik. Diperkirakan nilai tambahnya melonjak menjadi kisaran 470-780 kalinya dari harga nikel mentah.

Dari ilustrasi tersebut dapat dibayangkan betapa besarnya nilai tambah produksi dari perakitan battery pack yang tengah dilakukan IBC dan partner kerjasamanya.

Diperkirakan sekitar 30-40 persen biaya pembuatan mobil listrik diperuntukkan hanya untuk penyediaan baterainya saja. Jadi, dapat dibayangkan betapa besarnya nilai manfaat ekonomi yang diterima holding BUMN baterai dan juga para investornya.

Bila diasumsikan harga keseluruhan mobil listrik senilai Rp 300 juta, maka harga baterainya saja berkisar Rp 100-an juta. Nilai perkiraan ini tentu saja akan berdampak sangat signifikan bagi perekonomian nasional.  Tentu saja, nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan semakin meroket.

Bila diasumsikan Indonesia pada tahun 2030 mampu menyuplai sekitar 10 persen kebutuhan baterai kendaraan listrik secara global maka kontribusi bagi perekonomian nasional sangatlah besar.

Mengacu pada proyeksi IRENA yang memperkirakan jumlah kendaraan listrik pada tahun 2030 berkisar 260 juta unit maka ada kemungkinan Indonesia mampu menyuplai sekitar 10 persen atau  26 juta unit baterai kendaraan. Jumlah ini akan menghasilkan kontribusi bagi PDB Indonesia kisaran Rp 2.600 triliun. Nilai ini hampir setara dengan nilai APBN tahun ini yang berkisaran Rp 2.700-an triliun. Luar biasa.

Oleh sebab itu, roadmap yang sudah dibuat oleh pemerintah semaksimal mungkin diupayakan untuk dapat terealisasi. Apabila berhasil melewati sejumlah tahapan rencana itu maka harapannya akan tercipta alih teknologi dari sejumlah investor yang menguasai teknologi kepada SDM dalam negeri. Selain itu, ada peluang terciptanya inovasi teknologi karya anak bangsa dalam proses transisi alih teknologi tersebut.

Riset yang mengarah pada hilirisasi industri baterai kendaraan listrik harus terus diperkuat guna menunjang akselerasi penguasaan teknologi baterai kendaraan listrik itu. Akan lebih maksimal lagi hasilnya apabila juga mengembahkan teknologi penyimpanan energi untuk keperluan energi baru terbarukan (EBT) sehingga manfaatnya lebih luas lagi di masyarakat.

Jadi, riset dan pengembangan dari dalam negeri sangat penting peranannya dalam masa awal kolaborasi industrialisasi baterai kendaraan listrik ini. Semakin cepat menguasai alih teknologi maka akan semakin cepat pula tercipta inovasi karya anak bangsa. Semakin besar inovasi yang dihasilkan maka nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian nasional akan semakin lebih besar.

Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang akan tercipta baterai kendaraan listrik yang 100 persen adalah buatan Indonesia. Demikian juga dengan unit kendaraan listriknya, Indonesia berpeluang besar memiliki mobil atau kendaraan nasional bertenaga listrik yang membanggakan.

Sangat besar peluangnya, suatu saat nanti mobil bermerek nama-nama khas Indonesia akan berseliweran di seluruh dunia. Jadi, roadmap yang sudah dibuat sebisa mungkin harus terealisasi dan sekaligus menerapkan dengan tegas ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh pemerintah.

Jangan sampai, potensi sumber daya nikel yang besar ini justru hanya menguntungkan bagi para investor besar yang menguasai teknologi. Sudah saatnya, Indonesia harus bertransisi dan menguasai teknologi peradaban moderen ini. Mimpi menjadi negara besar yang menguasai teknologi bukan angan-angan belaka, tetapi kenyataan yang bakal terwujud beberapa saat lagi. Semoga. (LITBANG KOMPAS)

Sumber: Kompas.id

Read More

Apple Mulai Cari Pemasok Baterai Untuk Mobil Listrik Buatannya

NIKEL.CO.ID – Proyek Apple untuk membuat mobil listrik akan segera terlaksana. Saat ini, Apple kabarnya sedang dalam pembicaraan tahap awal dengan CATL dan BYD agar bersedia memasok komponen baterai.

CATL dikenal karena memasok baterai untuk mobil listrik buatan Tesla. Sayangnya, perusahaan asal China itu enggan membangun pabrik di Amerika Serikat (AS) karena ketegangan politik antara Washington dan Beijing.

Reuters yang mengutip sumber anonim mengungkapkan, proses diskusi bisa berubah dengan cepat, sehingga kesepakatan Apple dengan CATL atau BYD juga belum bisa dipastikan akan tercapai.

Apple juga kabarnya lebih memilih menggunakan baterai lithium besi fosfat yang lebih murah untuk diproduksi, karena menggunakan besi dibanding nikel dan kobalt yang lebih mahal.

Teknologi self-driving untuk produk mobil otonom sudah lama dikerjakan oleh Apple, dan diproyeksikan masuk tahap produksi pada 2024.

Beberapa sumber yang dekat dengan kabar ini sebelumnya mengatakan, mobil listrik besutan Apple nantinya akan menggunakan baterai produksi sendiri. Diskusi dengan CATL dan BYD bisa saja mamasukkan teknologi atau desain dari Apple.

Proyek mobil listrik Apple mulai bergerak bersamaan dengan rencana Pemerintahan Joe Biden untuk meningkatkan pasar mobil listrik domestik. Biden mengusulkan anggaran sebesar US$ 1,7 triliun, mencakup US$ 174 miliar untuk keperluan kendaraan listrik.

Pemanfaatan mobil listrik juga semakin marak di tengah agenda nol emisi karbon yang disuarakan banyak negara, termasuk AS. Produsen baterai kini mulai meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan yang melonjak di seluruh dunia.

Laporan SNE Research yang rilis Juni memprediksikan, produsen baterai asal China akan jadi yang tersibuk dan tumbuh lebih cepat dibanding pesaingnya, kerena telah lebih dulu berekspansi ke pasar kendaraan listrik.

Bahkan, CATL yang kini sedang didekati Apple, dikabarkan sedang merencanakan pembangunan pabrik baterai otomotif baru yang besar di Shanghai, memperkuat posisinya sebagai pemasok baterai kendaraan listrik nomor satu di dunia.

Sumber: KONTAN

Read More

Tahun 2030, RI Butuh 750 Ton Lithium Untuk Mobil Listrik

Pemerintah menargetkan mobil listrik di dalam negeri dapat mencapai 2 juta unit pada 2030 dan sepeda motor listrik  sebanyak 13 juta unit pada  2030.

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kebutuhan baterai litium ion dalam negeri untuk kendaraan listrik mencapai 758.693 ton pada 2030.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan bahwa dalam Grand Strategi Energi Nasional (GSEN), pemerintah menargetkan mobil listrik di dalam negeri dapat mencapai 2 juta unit pada 2030 dan sepeda motor listrik sebanyak 13 juta unit pada  2030.

Untuk setiap mobil listrik diasumsikan kebutuhan kapasitas baterainya mencapai 40 kWh dan setiap sepeda motor listrik sebesar 2 kWh. Dengan target GSEN tersebut, maka kapasitas baterai yang diperlukan diperkirakan mencapai 113, 8 juta kilowatt hour (kWh).

“Jadi dibutuhkan 113 juta kWh kapasitas baterainya, kebutuhan baterai litium ion mencapai 758.693 ton,” ujar Dadan dalam sebuah diskusi secara daring, Kamis (20/5/2021).

Selain kendaraan listrik, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam mewujudkan transisi energi. Pemanfaatan PLTS, khususnya di daerah terpencil, juga membutuhkan baterai dalam pengoperasiannya.

Dadan menyebutkan bahwa kebutuhan baterai litium ion untuk PLTS diperkirakan mencapai 26.255 ton dan kapasitasnya mencapai 3,9 juta kWh pada 2030. Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan  program konversi pembangkit listrik tenaga diesel ke PLTS 2.019.375 kWh dan program PLTS untuk listrik desa PLN sebesar 1.914.368  kWh.

Dia menambahkan, Kementerian ESDM juga telah memberikan dukungan untuk bahan baku baterai dalam bentuk regulasi.  Regulasi tersebut antara lain, UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) yang di dalamnya mengatur peningkatan nilai tambah untuk mineral logam.Kemudian, Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 11 Tahun 2020 mengenai harga patokan penjualan mineral logam, Permen ESDM No. 11 tahun 2019 mengenai pengendalian ekspor nikel, dan Permen ESDM No. 25 Tahun 2018 mengenai batasan minimum pengolahan dan pemurnian nikel.

“Ini untuk mendorong percepatan pembangunan pabrik baterai agar lebih kompetitif dan menarik,” kata Dadan.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “RI Butuh 750.000 Litium buat Mobil Listrik Pada 2030“.

Read More

Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik

Oleh: Ahmad Yani *)

Indonesia Battery Corp seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat.

NIKEL.CO.ID – Ditandatanganinya shareholder agreement oleh empat BUMN energi dan tambang pada 16 Maret 2021 menandai terbentuknya Indonesia Battery Corporation (IBC). Keempat BUMN tersebut adalah PT Pertamina, PT PLN, PT MIND ID, dan PT ANTAM.

Korporasi ini akan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kepemilikannya sama rata, masing-masing 25%.

Dengan semakin menuanya bumi, keberadaan IBC ini sangat mendesak dan menjadi solusi bagi isu pemanasan global dan efek rumah kaca. Bahan bakar fosil kelak akan habis. Lahirnya mobil listrik menjadi tumpuan harapan jutaan umat manusia dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baterai electric vehicle (EV) akan menjadi penentu kualitas kehidupan manusia ke depan. Kabar baiknya, Indonesia adalah negara terbesar penghasil bahan bakunya, yaitu nikel. Porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.

Indonesia juga unggul dari sisi demand. Potensi kendaraan roda dua mencapai 8,8 juta unit dan 2 juta unit untuk roda empat pada 2025. Competitive advantage dari supply chain yang ada, setidaknya 35% komponen EV dapat bersumber dari dalam negeri.

Tumpah ruahnya nikel sebagai potensi bisnis dunia tidak luput dari pantauan big fish company di bidang EV. Siapa yang tidak mengenal Tesla. Pemerintah dan Tesla berencana bekerjasama dalam produksi baterai EV.

Perusahaan baterai EV lainnya juga tidak mau kalah agresif mengambil kesempatan ini. Ada LG dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dari China. Tawaran menggiurkan membanjiri pasar EV Indonesia. Indonesia bebas mau kerja sama seperti apa.

Keberadaan IBC selaras dengan aturan main yang sebenarnya sudah ada. Industri ini merupakan bagian percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2019. Perpres ini juga mengamanatkan bahwa pabrik harus dibangun di Indonesia.

Cadangan nikel sebagai penggerak utama bisnis juga melimpah sejak bijih nikel dilarang untuk diekspor oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian.

Sebagai perusahaan yang mengemban amanah dan tugas yang strategis, IBC perlu mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki. Dukungan empat BUMN besar dan warisan sumber daya yang melimpah perlu dilaksanakan secara efektif.

Penulis menawarkan lima faktor yang perlu diperhatikan, yakni operating company, demand-based product, kontrak penjualan, kerja sama teknologi, dan gap funding.

Pertama, operating company. Industri ini akan diorkestrasi dan dimobilisasi oleh IBC dari hulu sampai hilir. Mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Ada baiknya IBC menjalin kerja sama dengan perusahaan penguasa pangsa pasar di setiap lini bisnis. Misalnya perusahaan pengolahan nikel, scope ini dikuasai salah satu swasta dengan market share terbesar. Ini selaras dengan Pasal 6 Ayat (3) Perpres 55/2019 yang mengamanatkan gotong royong pemerintah dan swasta.

Kedua, produk harus sesuai demand. IBC perlu memilih baterai apa yang akan dibuat sekarang dan nanti. Saat ini produk yang paling laku hybrid electric vehicle (HEV). Maklum, harganya yang murah sesuai kocek masyarakat Indonesia.

Kalau mau dijual keluar, baterai full listrik atau battery electric vehicle (BEV) dapat menjadi pilihan. Secara global, Tesla adalah market leader mobil listrik yang menjadikan produk ini laku di pasar dunia.

Ketiga, kontrak penjualan. IBC perlu mengadakan kontrak dimaksud dengan pemilik market share mobil listrik terbesar di dunia. Misalnya Tesla Model 3 yang mencetak sales terbesar 2019. Kepastian penjualan ini mendukung keberlangsungan bisnis.

Keempat, kerja sama teknologi. Hal ini krusial karena membuat baterai EV tidak mudah. Produk ini menghadapi permasalahan seperti degradasi baterai dan perlu standarisasi kualitas.

Kebetulan, dua perusahaan baterai EV top dunia (LG dan CATL) sudah menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Momen ini dapat digunakan IBC untuk menggandeng keduanya dalam peningkatan teknologi.

Kelima, gap funding. Investasi baterai EV membutuhkan dana yang tidak ‘kaleng-kaleng’. Bayangkan saja, membuat baterai di lumbung nikel terbesar di dunia. Momennya pas sekali. Indonesia baru saja melahirkan Sovereign Wealth Fund bernama Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Investment vehicle bermahzab equity financing ini sangat jauh dari isu utang. Nantinya investor besutan LPI akan patungan dengan IBC dan mitra lain di anak perusahaan yang butuh suntikan.

Sebagai operating company yang futuristik dengan mitra teknologi yang mumpuni, IBC seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat. Korporasi ini diharapkan dapat mewujudkan baterai EV yang kompetitif dan berkualitas.

*) Ahmad Yani adalah Tenaga Pengkaji Restrukturisasi, Privatisasi, dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan, Kementerian Keuangan

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik“.

Read More

BYD Akan Gantikan Nikel dengan Lithium Untuk Baterai

NIKEL.CO.ID – BYD akan meninggalkan teknologi nikel, kobalt, dan mangan (NCM) sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Produsen mobil listrik terbesar asal China tersebut lebih memilih lithium, baja, dan fosfat (LFP).

Dikutip dari Mining.com, Senin (12/4/2021), BYD merupakan perusahaan mobil listrik yang dibekingi oleh Warren Bufett. Investor legendaris asal AS itu memiliki 21 persen saham di perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla itu.

Chairman BYD, Wang Chuanfu mengatakan, teknologi FLP bukan hanya lebih murah bila dibandingkan NCM, melainkan juga lebih aman. Dia menilai, kombinasi nikel dan kobalt rawan memicu kebakaran pada mesin.

“Beberapa pelaku industri bertindak tak rasional mengejar baterai NCM untuk menjangkau jarak tempuh lebih tinggi namun mengorbankan stabilitas dan keamanan,” katanya.

Baterai mobil listrik berbasis lithium yang digunakan BYD memiliki kepadatan yang cukup tinggi. Sistem ini untuk mengatasi kelemahan lithium yang memiliki jarak tempuh lebih rendah dan pengisian lebih lama dibandingkan nikel.

Saat ini, mobil SUV Tang terbaru buatan BYD mengklaim mampu menempuh jarak 505 kilometer untuk satu kali pengisian dalam kondisi penuh (full charging). Selain itu, proses pengisian dari 30 persen menjadi 80 persen membutuhkan waktu 30 menit.

Laporan BMO Capital Markets menunjukkan pergeseran baterai dari nikel menjadi lithium tak mengejutkan. Namun, teknologi ini masih perlu penyempurnaan agar bisa digunakan industri mobil listrik dalam tahun-tahun mendatang. Jika sukses, maka ini menjadi kabar buruk bagi nikel yang selama ini menjadi komoditas utama yang diburu pabrikan.

Sumber: Inews.id

Read More

Isu Tesla dan Baterai Kendaraan Listrik

Oleh: Arief S. Tiammar *)

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

NIKEL.CO.ID – “Nikel menjadi perhatian terbesar untuk meningkatkan kapasitas produksi baterai ion litium. Karena itulah kami akan mengubah mobil listrik dengan jelajah standar ke katode besi. Besi itu sangat berlimpah [demikian juga litium]”.

Itulah terjemahan bebas dari cuitan Elon Musk pada twitter resminya. Cuitan yang banyak memengaruhi harga komoditas nikel sekaligus harga beberapa emiten saham nasional dan dunia. Tentu saja ada faktor lain yang akhir-akhir ini ikut memengaruhi bisnis nikel nasional dan global.

Katode besi yang dimaksud Musk adalah lithium ferro phosphate (LFP). Pada katode ini sama sekali tidak terkandung unsur nikel dan kobalt yang jauh lebih mahal. Katode adalah salah satu material penyusun baterai ion litium (LiB) di antara 11 material lainnya.

Material katode menempati porsi paling besar, 35% —45% dari total biaya produksi LiB. Jadi, biaya produksi LiB secara keseluruhan bisa ditekan ketika LFP yang berbasis besi digunakan walau di sisi lain kerapatan energi dan kecepatan pengisian katode LFP lebih rendah ketimbang katode yang berbasis nikel.

Selain itu, ketersediaan besi yang jauh berlimpah ketimbang nikel membuat posisi besi patut diperhatikan untuk jaminan pasokan jangka panjang. Pada operasi sebuah LiB, katode merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium sekaligus sebagai bagian kutub positif baterai.

Ketika LiB diisi (charging), litium terionisasi melepaskan elektron bergerak menuju material anode melewati elektrolit dan separator. Anode dalam hal ini merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium di sisi bagian kutub negatif baterai.

Demikian juga ketika sedang dipakai, atom-atom litium kembali ke katode setelah melepaskan elektron di sisi kutub negatif. Pelepasan elektron inilah yang menciptakan arus listrik saat digunakan untuk berbagai keperluan.

Material katode merupakan salah satu bagian terpenting dari LiB. Saat ini ada beberapa jenis katode yang dipakai pada LiB khususnya untuk penggunaan kendaraan listrik. Namun yang dominan adalah katode berbasis besi, nikel dan nikel yang diperkaya.

Jenis katode berbasis besi adalah LFP, katode berbasis nikel antara lain NMC (lithium nickel manganese cobalt oxide), dan NCA (lithium nickel cobalt aluminium oxide). Jenis katode dengan nikel diperkaya adalah NCMA (lithium nickel cobalt manganese aluminium oxide). NCMA merupakan jenis katode terkini yang akan diproduksi pada pertengahan 2021.

Dari keempat jenis katode tersebut, NCMA memiliki kerapatan energi paling tinggi serta laju pengisian tercepat. LFP memberikan tingkat keamanan tertinggi serta umur baterai terlama walau dengan kerapatan energi lebih rendah. NCA dan NMC berada di antara keduanya.

Segmen energi baru dan terbarukan (EBT) yang juga berkembang pesat tidak bisa dilepaskan dari LiB. LiB pada EBT diperlukan sebagai media sistem penyimpan energi (ESS) di mana dalam operasinya tidak terpengaruh oleh kerapatan energi dari material katode tapi lebih kepada daya tahan dan keselamatan operasi.

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

Jumlah energi ini cukup untuk digunakan pada 30 juta mobil listrik berkapasitas 100 KWh. Pada 2021, total kapasitas pabrik LiB Tesla diperkirakan 375 GWh.

Jika material katode yang digunakan adalah NCMA, kapasitas baterai sebesar 3 TWh/tahun tersebut memerlukan 2 juta ton nikel/tahun dalam 8,8 juta ton Nikel Sulfat Heksahidrat. Bila yang digunakan adalah katode LFP, kapasitas tersebut memerlukan 1,75 juta ton besi dalam 2,75 juta ton besi oksida. Jumlah 2 juta ton nikel tersebut jelas tidak kecil.

Pengadaannya jauh lebih sulit dibanding pengadaan untuk 2,75 juta ton besi. Belum lagi Tesla harus bersaing dengan kompetitor lain. Besi sebagai bahan dasar LFP memang lebih mudah didapatkan tetapi tidak semua kebutuhan kendaraan listrik dengan performa tertentu bisa dipenuhi oleh LFP.

Jadi, perhatian sekaligus kerisauan Elon Musk atas nama Tesla bukan hal yang dibuat-buat, apalagi disebarkan hanya untuk membuat spekulasi seperti diduga beberapa kalangan. Kerisauannya lebih ke arah mitigasi risiko akan jaminan suplai nikel untuk mencapai target rencana strategis Tesla, yakni menghasilkan LiB dengan kapasitas 3 TWh/tahun pada 2030.

Untuk mengantisipasinya, sangat wajar jika Tesla melakukan diversifikasi dalam pemakaian katode material antara yang berbasis besi dan nikel. LFP diperuntukkan bagi kendaraan listrik dengan daya jelajah standar, motor listrik, sepeda listrik dan ESS untuk mendukung EBT.

NMC dan NCA dikhususkan bagi kendaraan listrik premium berdaya jelajah tinggi serta media penyimpan power wall. Adapun untuk kendaraan berbobot berat dan memerlukan performa super, NCMA merupakan pilihan terbaik.

Alhasil, masa depan nikel untuk LiB khususnya untuk mendukung kendaraan listrik masih tatap memiliki tempat. Belum lagi LiB untuk keperluan lain seperti perangkat komunikasi, elektronika, pesawat tanpa awak dan lainnya.

*) Arief S. Tiammar adalah Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia

Sumber: bisnis.com

Read More

Baterai Sumber Tenaga Mobil Listrik Telah Ditemukan Sejak 120 Tahun Lalu

Pada awal abad ke-20, Thomas Edison menemukan sebuah baterai dengan kemampuan unik: menghasilkan hidrogen. Sekarang, 120 tahun kemudian, baterai itu baru menjadi populer.

NIKEL.CO.ID – Para pejalan kaki di jalanan West Orange, New Jersey, terkaget-kaget saat sebuah mobil listrik melesat melewati mereka.

Mobil itu menderu di atas jalanan berkerikil. Dari luar, tampak ruang interiornya lapang, yang cukup mengejutkan bagi sebagian orang.

Ia melaju dua kali lebih cepat dari mobil-mobil konvensional yang disalipnya, meninggalkan debu-debu beterbangan di permukaan jalan.

Kuda-kuda yang menarik kereta di jalanan itu mungkin merasa terganggu dengan kepulan debu tadi.

Adegan ini terjadi di awal tahun 1900-an, dan sang pengendara mobil adalah Thomas Edison. Mobil listrik bukan hal baru di wilayah itu, tapi sebagian besar masih mengandalkan baterai timbal-asam yang berat dan tidak praktis.

Edison melengkapi mobilnya dengan sejenis baterai baru yang, ia harap, suatu saat nanti bisa dipakai sebagai bahan bakar kendaraan di seluruh negeri: baterai nikel-besi.

Ia membangun temuannya dari hasil kerja penemu Swedia, Ernst Waldemar Jungner, yang pertama kali mematenkan baterai nikel-besi pada 1899. Edison menyempurnakan baterai itu untuk digunakan di mobil.

Edison mengklaim baterai nikel-besi sangat tangguh, dan bisa diisi dua kali lebih cepat daripada baterai timbal-asam.

Dia bahkan membuat kesepakatan dengan Ford Motors untuk memproduksi kendaraan listrik yang diyakini akan lebih efisien ini.

Memang, masih ada beberapa masalah dengan penggunaan baterai nikel-besi. Ukurannya lebih besar dari baterai timbal-asam yang lebih umum digunakan, dan harganya lebih mahal.

Juga, ketika diisi, baterai ini akan melepaskan hidrogen, yang dianggap mengganggu dan bisa berbahaya.

Sayang, pada saat Edison berhasil membuat prototipe yang lebih baik, mobil-mobil listrik mulai tergantikan oleh mobil berbahan bakar fosil yang dapat menempuh jarak lebih jauh sebelum harus diisi ulang.

Kesepakatan yang dibuatnya dengan Ford Motors berantakan, meski baterai Edison terus digunakan di beberapa hal khusus, seperti untuk sistem persinyalan kereta api, yang tak masalah dengan ukuran besarnya.

Lebih dari seabad kemudian, para insinyur menemukan kembali nilai baterai nikel-besi, yang mereka sebut sebagai berlian yang masih kasar.

Sekarang, baterai ini diteliti sebagai jawaban dari tantangan panjang pencarian sumber energi terbarukan: sebuah alternatif dari sumber energi alami yang sifatnya terputus-putus seperti angin dan matahari.

Hidrogen, produk sampingan yang dulu dianggap membahayakan, justru bisa menjadi salah satu hal paling berguna tentang baterai ini.

Mari kita percepat kisah ini ke 2010. Sebuah tim riset dari Delft University of Technology di Belanda menemukan penggunaan baterai nikel-besi berdasarkan hidrogen yang diproduksinya.

Saat listrik melewati baterai kala diisi ulang, ia mengalami reaksi kimia yang melepaskan hidrogen dan oksigen. Tim tersebut menemukan bahwa reaksi ini mirip dengan proses yang dipakai untuk memisahkan hidrogen dari air, yang dikenal sebagai elektrolisis.

“Bagi saya, proses kimianya sama,” kata Fokko Mulder, pemimpin tim riset Delft University.

Reaksi pemisahan air ini merupakan salah satu cara memproduksi hidrogen menjadi bahan bakar — bahan bakar yang sepenuhnya bersih, bila energi yang dipakai untuk menciptakan reaksi kimia tersebut juga energi bersih.

Mulder dan timnya tahu bahwa elektrode dalam baterai nikel-besi mampu memisahkan diri dari air, namun mereka terkejut saat mendapati elektroda tersebut memiliki energi lebih tinggi daripada sebelum hidrogen diproduksi.

Dengan kata lain, baterai ini akan bekerja dengan lebih baik bila digunakan sebagai elektrolisis juga.

Mereka juga terkejut melihat seberapa baik elektrode di baterai ini menahan elektrolisis, yang dapat membebani dan merusak baterai tradisional pada umumnya.

“Dan, tentu saja, kami cukup puas karena efisiensi energinya tampak bagus,” ujar Mulder, mengacu pada level 80-90%.

Mulder menyebut penemuan ini “battolyser”, dan mereka berharap temuan mereka bisa memecahkan dua tantangan utama energi terbarukan: penyimpanan energi dan produksi bahan bakar bersih.

“Anda akan mendengar diskusi tentang baterai di satu sisi, dan hidrogen di sisi lain,” ujar Mulder. “Selalu ada semacam persaingan di antara keduanya, tapi pada dasarnya Anda membutuhkan keduanya.”

Nilai Terbarukan

Salah satu tantangan terbesar sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari adalah tak dapat diprediksi dan terbatas waktu.

Dengan tenaga surya, misalnya, Anda harus memiliki simpanan daya yang diproduksi selama siang hari dan musim panas, tapi pada malam hari dan musim dingin, pasokannya menyusut.

Baterai konvensional, seperti yang berbahan litium, dapat menyimpan energi dalam jangka pendek. Tapi saat mereka terisi penuh, mereka harus melepaskan kelebihannya atau mereka menjadi terlalu panas dan rusak.

Battolyser nikel-besi, di sisi lain, akan tetap stabil saat terisi penuh, dan di titik itu ia beralih membuat hidrogen.

“Baterai nikel-besi tangguh, mampu bertahan dari pengisian yang kurang atau berlebihan lebih baik dari baterai lain,” kata John Barton, rekan peneliti di Sekolah Teknik Mesin, Listrik dan Manufaktur, Universitas Loughborough di Inggris, yang juga meneliti battolyser.

“Dengan produksi hidrogen, battolyser mampu menambah simpanan daya selama berhari-hari bahkan saat pergantian musim.”

Selain memproduksi hidrogen, baterai nikel-besi juga mempunyai sifat berguna lainnya. Yang utama, ia sangat mudah dirawat. Baterai ini juga awet, seperti yang telah dibuktikan oleh Edison dengan mobil listriknya. Beberapa bahkan bisa bertahan hingga 40 tahun.

Logam yang dibutuhkan untuk membuat baterai — nikel dan besi — juga lebih umum dari, katakanlah, kobalt yang digunakan untuk membuat baterai konvensional.

Ini berarti, battolyser dapat membantu membuat energi terbarukan lebih menguntungkan.

Seperti industri lainnya, harga energi terbarukan berfluktuasi berdasarkan penawaran dan permintaan. Pada hari-hari yang cerah, bisa jadi ada banyak energi surya yang menyebabkan surplus dan penurunan harga jual. Battolyser dapat membuat kurva lebih simbang.

“Saat harga listrik naik, Anda bisa melepaskan baterai. Namun saat harga listrik rendah, Anda bisa mengisi daya baterai dan membuat hidrogen,” ujar Mulder.

Dalam hal ini, battolyser tidak sendiri. Elektrolisis alkali tradisional yang digabungkan dengan baterai juga bisa melakukan fungsi yang sama, dan jamak digunakan di industri penghasil hidrogen.

Dan meski hidrogen adalah produk langsung dari battolyser, sejumlah zat berguna lainnya dapat dihasilkan dari baterai tersebut, seperti amonia atau metanol, yang lebih mudah disimpan dan dipindahkan.

Meningkatkan Skala

Saat ini battolyser terbesar yang ada memiliki daya 15kW/15kWh, memiliki kapasitas baterai yang cukup besar dan simpanan hidrogen untuk memberi daya pada 1,5 rumah tangga.

Battolyser yang lebih besar dengan daya 30kW/30kWh terdapat di pembangkit listrik Magnum di Eemshaven, Belanda, yang menyediakan daya cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tersebut.

Setelah menjalani pengujian ketat di sana, battolyser akan diproduksi lebih banyak dan didistribusikan pada produsen energi terbarukan, seperti pembangkit tenaga surya dan angin.

Pada akhirnya, battolyser diharapkan mampu mencapai daya skala gigawatt — atau setara dengan daya yang dihasilkan sekitar 400 turbin angin.

Barton juga melihat peranan battolyser yang lebih kecil, yang bisa dipakai untuk menyediakan energi bagi komunitas yang hidup di wilayah terpencil dan tak punya jaringan listrik utama.

Fakta bahwa elektroda battolyser terbuat dari logam yang cukup umum dan murah membuat semuanya mungkin lebih mudah. Tak seperti litium, nikel dan besi tak membutuhkan banyak air saat ditambang. Kedua logam ini juga tak dihubung-hubungkan dengan kerusakan lingkungan.

Tetap saja, Mulder dan Barton melihat akan ada kesulitan dalam hal efisiensi dan kapasitas.

“Battolyser sangat butuh peningkatan kapasitas daya sebagai baterai, atau pengurangan resistensi internal,” kata Barton. Semakin tinggi resistansi internal, maka semakin rendah efisiensi sebuah baterai.

Meningkatkan kedua hal itu adalah sesuatu yang sedang dikerjakan oleh tim Mulder.

Sebagian besar potensi battolyser sesungguhnya tersembunyi di depan mata selama ini, sejak Thomas Edison pertama kali bereksperimen dengan baterai nikel-besi pada pergantian abad ke-20.

Edison mungkin salah karena meyakini baterainya akan mampu menggantikan kendaraan lain di jalanan. Tapi baterai nikel-besi mungkin memiliki peran besar dalam menggantikan bahan bakar fosil, dengan membantu mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul The battery invented 120 years before its time pada laman BBC Future.

Sumber: BBC.com

Read More