Rizal Kasli: Nikel Kadar Rendah Dulu Terbuang Sia-sia, Kini Bisa Diolah dengan Teknologi Hidrometalurgi

213

NIKEL.CO.ID, 28 Oktober 2022 – Pengurus Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Ir. Rizal Kasli S.T., I.P.M., ASEAN Eng mengungkapkan bahwa perkembangan nikel kadar rendah yang sebelumnya belum bisa diolah dengan teknologi yang lama dan terbuang sia-sia, namun kini sudah bisa diolah dengan menggunakan teknologi hidrometalurgi.

Hal itu disampaikan Rizal Kasli ketika ditanya mengenai perkembangan pengelolaan nikel kadar rendah oleh nikel.co.id pada konferensi pers saat jam istirahat acara Temu Profesi Tahunan (TPT) ke- 31 Perhimpunan Ahli Penambang Indonesia (Perhapi) di Hotel Claro Kendari Sulawesi Tenggara, Senin (24/10/2022).

“Yang pertama tentang nikel kadar rendah. Memang ini belum menjadi hal yang belum kita kelola dengan baik dimana nikel kadar rendah karena (hanya bisa) proses dengan teknologi hill (tinggi), ada Hi hill (sangat tinggi) teknologi itu, (sehingga) banyak di setop karena atau malah terbuang,” ucap Rizal Kasli kepada nikel.co.id dalam konferensi tersebut beberapa hari lalu. 

Menurut Rizal Kasli, seiring dengan perkembangan teknologi melalui transformasi teknologi telah tercipta teknologi tinggi yang dapat mengolah nikel kadar rendah menjadi material yang bernilai ekonomis untuk produk Battery Electric Vehicle (BEV).

“Akan tetapi sekarang dengan perkembangan teknologi, tadi (Staf Menteri ESDM) Prof Irwandy Arif sudah menyampaikan ada beberapa ratusan (Pabrik) sedang membangun refinery (kilang) pengelolaan nikel kadar rendah dengan teknologi hidromisasi sehingga ini bisa memanfaatkan nikel kadar rendah, biasanya kobalt akan ikut serta,” ujarnya. 

Dia menambahkan bahwa dari hasil penelitian nikel kadar rendah dengan teknologi hidrometalurgi dapat menghasilkan beberapa material yang bernilai. “Bahwa nikel, kobalt dan mangan itu bisa diambil,” tambah Rizal Kasli yang juga merupakan Ketua Umum Perhapi.

Rizal Kasli juga menjelaskan mengenai perkembangan nikel kadar tinggi yang diolah dengan teknologi pirometalurgi melalui smelter-smelter yang menghasilkan nilai tambah nikel itu sudah banyak dibangun sehingga kalau ditambah pengelolaannya tersebut banyak smelter yang mati suri karena tidak bisa berlanjut sesuai pertumbuhan ekonomisnya itu. 

“Untuk smelter pirometalurgi yang kadar tinggi karena cadangannya sudah menghasilkan kalau nanti ditambah mungkin akan banyak yang mati suri. Ngga bisa berlanjut sesuai pertumbuhan ekonomisnya,” jelasnya.

“Nanti yang sedang kita rumuskan di Kementerian ESDM tentang moratorium pembangunan smelter RKM menghasilkan NPi, kemudian nikel mate dan feni,” sambung Rizal Kasli. 

Selain itu, Dia juga menyinggung tentang nilai dasar Harga Patokan Mineral (HPM) nikel harus sesuai karena bila dibawah HPM maka akan diperiksa dan dinyatakan sebagai kerugian negara.

“Untuk HPM kemarin saya sempat diskusi dengan Aneka Tambang bahwa mereka itu mengubah sesuai dengan HPM, karena tidak boleh mereka menjual dibawah harga HPM dan bila mereka menjual dibawah harga HPM, itu akan kena pemeriksaan dan itu dianggap kerugian negara,” paparnya. 

Rizal Kasli juga menilai bahwa permasalahan HPM itu harus dijembatani antara kedua belah pihak untuk mencapai solusi yang baik dan sesuai aturan. 

“Saya melihat bahwa hal ini harus di cover kedua belah pihak baik penambang maupun pembeli. Ini yang saya memang terus dikejar dan diusahakan termasuk oleh APNI sendiri,” cetusnya. 

Kemudian, terakhir Rizal Kasli mengungkapkan mengenai satu hal yang utama tentang kobalt yang memiliki nilai dan harga jual yang tinggi dari nikel namun belum memiliki daftar harga HPM hingga saat ini.

“Cobalt ini lebih tinggi nilainya, harganya lebih tinggi daripada nikel tapi belum dimasukkan ke dalam harga. Sedangkan persyaratannya dan penentuan ore nikel itu kobalt saat ini. Kita scanner saat ini suatu hal yang konkret, kita kaji bahwa kobalt itu seharusnya masuk juga dalam komponen yang ada di nikel itu di proses dan dijual,” pungkasnya. (Shiddiq/Varrel)