Omicron tak Ganggu Transaksi Bisnis Nikel di Indonesia

290

Omicron tak Ganggu Transaksi Bisnis Nikel di Indonesia

Ilustrasi aktivitas di Bursa Efek Indonesia. Foto: Istw

NIKEL.CO.ID –Jelang pertengahan Desember ini  harga nikel dunia masih naik turun, namun masih di angka rata-rata US$ 19.000 per ton.

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME) pada Selasa (14/12/2021) pukul 12:56 WIB harga nikel tercatat US$ 19.905 per ton. Sementara pada Senin (13/12/2021) perdagangan nikel ditutup di harga US$ 19.960 per ton.

Disebut-sebut wabah virus Omricon di Inggris membuat investor khawatir melakukan aktivitas di luar rumah (lockdown). Inggris mencatat satu korban kematian akibat varian baru Omicron. Ini jadi kematian pertama yang dikonfirmasi di dunia. Kabar ini disampaikan Perdana Menteri Boris Johnson, Senin (13/12/2021).

Dikatakan Boris Johnson setidaknya satu pasien dipastikan meninggal akibat serangan virus Omicron. Kejadian ini membuat aktivitas masyarakat Inggris terganggu. Mereka menilai bahwa Omicron tetaplah varian virus yang mematikan.

Situasi berbeda di Indonesia. Isu virus Omricon di luar negeri tidak mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia. Namun, Pemerintah Indonesia tetap memberlakukan penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar rumah. Mengingat di Indonesia masih ada ancaman bahaya virus Covid-19.

Begitu pula aktivitas di sektor pertambangan mineral, termasuk komoditas nikel. Program hilirisasi industri yang dicanangkan Presiden Jokowi disambut positif pelaku usaha pertambangan nikel di sektor hulu dan hilir.

Misalnya, PT Harum Energy Tbk (HRUM) melalui anak perusahaannya, PT Tanito Harum Nickel telah menambah kepemilikan sahamnya di PT Infei Metal Industry.  Tanito Harum Nickel telah melakukan pembelian 252.838 lembar saham baru atau 9,8% dari jumlah saham yang dikeluarkan Infei Metal Industry.

Transaksi dilakukan pada Senin (13/12/2021) senilai US$ 27,44 juta. Sehingga kepemilikan Tanito Harum Nickel di tubuh Infei Metal Industry menjadi 40%.

Direktur Utama Harum Energy, Ray Antonio Gunara mengatakan, tujuan dari transaksi yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kepemilikan Perseroan pada kegiatan usaha pengolahan pemurnian nikel.

Sebelumnya, pada Sabtu (30/12/2021), HRUM melalui PT Tanito Harum Nickel juga telah membeli 256.187 saham baru atau 14,7% dari jumlah saham yang dikeluarkan oleh PT Infei Metal Industry.

Pada Februari 2021, HRUM juga telah membeli 259.603 saham baru atau 24,5% dari jumlah saham  yang dikeluarkan oleh PT Infei Metal Industry lewat PT Tanito Harum Nickel. Pembelian ini dilakukan dengan harga jual beli US$ 68,6 juta.

PT  Infei Metal Industry adalah suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum yang berlaku di lndonesia dan bergerak dalam bidang pemurnian nikel (smelter). (Chiva/Syarif/dbs)