Nikel, Perusahaan, dan PDRB Sulawesi Tenggara (Bagian I)

1036
Sebaran perusahaan pertambangan di Sultra
Nikel, Perusahaan, dan PDRB Sulawesi Tenggara (Bagian I)
Sebaran perusahaan pertambangan di Sultra. Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara.

NIKEL.CO.ID, 26 Januari 2022-Konsultan Independen Sektor Pertambangan, Steven Brown, mengakui bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi raja nikel dunia. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2020, Indonesia memiliki ‘harta karun’ nikel sebesar 72 juta ton nikel (Ni) .

Negara penghasil nikel lainnya di antaranya Philipina, Kanada, Australia, New Caledonia, China, Cuba, dan Colombia. Sementara dari sisi perusahaan, penghasil terbesar nikel adalah Norilsk (Rusia), Vale (Brazil dan Kanada), dan The BHP Billiton Group (Australia dan UK). Sementara PT Aneka Tambang Tbk (Indonesia) hanya berada pada urutan keempat.

“Produksi nikel di Indonesia meningkat pesat, dan sudah menjadi peringkat nomor satu  di dunia dari semua negara,” kata Steven Brown kepada Nikel.co.id, belum lama ini.

Menurutnya, nikel Indonesia sudah lama punya pengaruh di pasar global. Nikel Indonesia bahkan kerap menjadi bahan analitik nikel dunia. Karena, dunia mengakui Indonesia merupakan salah satu penghasil nikel terbesar di dunia.

Salah satu daerah penghasil nikel adalah Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, produksi nikel pada 2019 sebesar 23.967.146 ton.

Pertambangan dan penggalian memiliki peranan penting dalam perekonomian di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan Jenis Bahan Tambang terdapat 189 perusahaan pertambangan yang lokasinya terbagi di 12 kabupaten/kota di Provinsi Sultra. Jenis bahan tambang yang digali beragam macamnya seperti aspal, nikel, emas, kromit, pasir besi, tembaga, dan mangan.

Dari 189 perusahaan, terdapat 138 perusahaan tambang nikel, 33 perusahaan tambang aspal, 11 perusahaan tambang emas, 4 perusahaan tambang kromit, 1 perusahaan tambang pasir besi, 1 perusahaan tambang mangan, dan 1 perusahaan tambang tembaga.

Terlihat, dari 189 perusahaan pertambangan itu,  jumlah perusahaan tambang nikel mendominasi di Sultra.

Perusahaan pertambangan nikel masing-masing  tersebar di Kolaka 13 perusahaan nikel, Kolaka Utara 23 perusahan nikel, Kolaka Timur 1 perusahaan nikel, Konawe 14 perusahaan nikel, Konawe Utara 50 perusahaan nikel, Konawe Kepulauan 5 perusahaan nikel, Konawe Selatan 14 perusahaan nikel, Buton 1 perusahaan nikel, Buton Tengah 2 perusahaan nikel, dan Baubau 1 perusahaan nikel.

Sejak ditetapkannya Kawasan Industri Konawe dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres No 109 tahun 2020 diyakini akan semakin mendongkrak perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara.Terlebih lagi masuknya PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dalam Objek Vital Nasional subbidang mineral dan batubara berdasarkan Kepmen No77K/90/MEM/2019, menjadi  menjadi salah satu penggerak utama wilayah pusat-pusat pertumbuhan industri di Sultra.

Mengutip Buku Direktori Pertambangan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2021 yang diterbitkan oleh BPS Sultra menyebutkan, penduduk yang bekerja di sektor pertambangan dan penggalian berjumlah 34.987 jiwa, dengan rincian 30.216 jiwa penduduk laki-laki dan 4.771 jiwa penduduk perempuan.

Dalam perekonomian regional Sulawesi Tenggara tahun 2020, kategori pertambangan dan penggalian memberikan nilai tambah pada Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku sebesar 26.371,59 miliar rupiah, dan sebesar 18.941,20 miliar rupiah pada Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan.

Kategori pertambangan dan penggalian merupakan penyumbang terbesar kedua setelah kategori pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian. Hal ini dapat dilihat dari besarnya kontribusi kategori pertambangan dan penggalian terhadap Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Tenggara 2020, yaitu sebesar 20,26 persen.

Sedangkan jika dilihat dari nilai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan kategori pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,45 persen. Hal ini merupakan dampak dari menurunnya aktivitas konstruksi selama pandemi Covid-19, sehingga terjadi penurunan permintaan barang galian seperti tanah, batu, pasir, dan lainnya.

Lantas, perusahaan apa saja yang melakukan aktivitas pertambangan nikel di Provinsi Sultra? Tunggu ulasan berikutnya. (Syarif)