Mengolah Nikel Ramah Lingkungan ala Tonghua Jianxin

236
Mr Bruce Lan saat menyampaikan materi di ToT Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Mineral Nikel.

NIKEL.CO.ID, 8 November 2022- Bruce Lan dari Tonghua Jianxin Science & Technology Co.Ltd., mengatakan, nikel tak sekadar diolah untuk menghasilkan berbagai produk olahan. Namun,harus diperhatikan juga faktor lingkungan dari hasil pengolahan nikel.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kandungan dan cadangan nikel terbesar di dunia. Dari cadangan nikel Indonesia, diketahui Indonesia memiliki nikel kadar rendah atau limonit lebih banyak dibandingkan nikel kadar tinggi atau saprolit. Menurut Bruce Lan, tipikal nikel laterit ore di Indonesia terdiri dari bedrock, saprock, saprolite, limonite, dan ferricrete.

Unsur yang terkandung dalam bedrock dan saprock antara lain fe 5%, MgO 35-45%, Ni 0,3%, dan  Co 0,01%. Di saprolite mengandung fe 10-25%, MgO 15-35%, Ni 1,5-3%, dan Co 0,02-0,1%. Limonit mengandung unsur fe 40-50%, MgO 0,5-5%, Ni 0,8-1,5%, dan Co 0,1-0,2%. Di ferricrete mengandung unsur fe 50%, MgO 0,5%, Ni 0,6%, dan Co 0,1%.

“Lapisan bedrock ada di lapisan tanah di kedalaman 15 meter. Saprolit di kedalaman 8 meter, dan limonite di kedalaman 0 meter,” kata Bruce Lan saat menyampaikan pembekalan industri pengolahan nikel di Indonesia di acara Training of Trainers Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Mineral Nikel di Hotel Grand Sahid Jakarta, Selasa (8/11/2022).

Indonesia saat ini telah banyak berdiri industri pengolahan nikel.  Bruce mengungkapkan, dalam proses pengolahan nikel secara tradisional, misalnya untuk mengolah limonit, dengan kadar Ni 1,3% dan fe 30% menggunakan teknologi HPAL. Sedangkan pengolahan saprolit dengan kadar Ni 1,8% dan fe 20% diolah oleh pabrik menggunakan teknologi RKEF, salah satunya menghasilkan feronikel.

Bruce Lan menyampaikan, untuk menghasilkan produk olahan nikel yang paling baik, dibutuhkan kadar Ni 1,8% dan fe 20% dengan campuran SiO2/MgO 1.75 Ni/fe 1:10, Al2O3 lebih dari 3% MC sekitar 35%.

Menurutnya, limonit yang banyak jumlahnya di Indonesia sebenarnya bisa diolah oleh pabrik pengolahan, mulai limonit dari kadar 1%, 1,3%, dan 1,5%. Teknik pengolahan bisa dilakukan secara electric furnace dan blast furnace.

Teknik pengolahan blast furnace  berkembang sebelum adanya pemberlakuan larangan ekspor nikel ore oleh pemerintah. Sesudah ada larangan ekspor nikel ore, pemerintah melarang pengolahan nikel dengan blast furnace, lantaran lebih banyak menimbulkan pencemaran udara dibandingkan teknik electric furnace.

Disampaikan, Tonghua Jianxing Group sudah banyak menjalin kerja sama dengan pemerintah dan pengusaha Indonesia. Sebut saja kerja sama dengan PT Celebessi Metalindo Utama dalam penyediaan mesin smelter yang memproduksi FeNi 4 lines x 42000 kVA. Kerja sama lain untuk desain, peralatan, dan teknologi smelter nikel di Makassar.

Tonghua Jianxin Group hanya membangun pabrik atau smelter.  Sudah banyak orang yang bekerja sama dengan Tonghua membangun smelter di Indonesia. Sekarang holdong sedang membangun smelter nikel di Paloppo, Makassar, yang mengombinasikan teknologi modern pirometalurgi dengan hidrometalurgi untuk memproduksi feronikel dan nikel sulfat. Kombinasi teknologi ini untuk mengolah limonit.

“Pembangunan smelter yang mengolah limonit di Paloppo dilakukan tiga tahap. Smelter ini akan menghasilkan nikel sulfat,” ujar Bruce Lan.

Selama bertahun-tahun Tonghua Jianxin mengkhususkan diri dalam pengembangan dan desain sebuah proyek, pemilihan peralatan, produksi dan pemasangan, commissioning, pelatihan personel dan layanan purnajual untuk lini produksi besi dan baja, lini produksi ferroalloy, peralatan lengkap tanur tinggi, tungku busur terendam, rotary klin dan lini produksi sintering, lini produksi kokas, pengecoran, dan penyediaan peralatan pembangkit listrik.

Bruce Lan menyampaikan perbandingan biaya antara pabrik pengolahan limonit dengan RKEF. Menurutnya, limonit sangat bisa diolah dengan pabrik hidrometalurgi, namun proses pengolahannya tidak secepat teknik pengolahan dengan RKEF.

“Apalagi tipikal nikel laterit di Indonesia banyak juga unsur sampahnya, sehingga dibutuhkan teknologi modern dalam pengolahan nikel sekaligus menekan sisa pengolahan bijih nikel,” paparnya.

Tonghua Jianxin, kata Bruce Lan,  menyediakan peralatan dan teknologi yang dapat mengolah sampah dari nikel, namun tentunya akan ada penambahan biaya dari perusahaan yang membutuhkan jasa penyediaan teknologi tersebut.

“Untuk meminimalisir waste, misalnya untuk membersihkan silika mangan yang terkandung di bijih nikel, maka dibutuhkan campuran unsur kimia. Jadi, prosesnya perlu diberikan perlakuan lagi untuk mendapatkan unsur Ni,” Bruce Lan. (Syarif)