Meidy Katrin Lengkey: Hulu dan Hilir Nikel Beroperasi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

147

NIKEL.CO.ID, 25 Agustus 2022-Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey mengatakan, pembangunan hilirisasi industri nikel di Indonesia memberikan banyak manfaat untuk masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Meidy Katrin Lengkey menyampaikan, kegiatan usaha pertambangan nikel di hulu untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan nikel hilir sejatinya tidak semata-mata untuk kepentingan bisnis pengusaha. Karena, selama melakukan aktivitas usaha di pertambangan, baik hulu maupun hilir harus ikut membantu memberdayakan masyarakat sekitar area pertambangan dan kawasan industri. Tentunya di luar kontribusi pengusaha pertambangan membayar pajak dan PNBP berdasarkan ketentuan pemerintah.

Berdasarkan catatan APNI, Capital Expenditure (Capex) dari investasi pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia, baik dari PMA maupun PMDN ikut meningkatkan pembangunan di daerah, dan pendapatan untuk pemerintah pusat.

Meidy Katrin Lengkey mencontohkan untuk Sumatera, Capex sebesar Rp 6.729,4 juta dengan kapasitas investasi pengolahan nikel 371,7 miliar ton. Kalimantan, Capex Rp 8.668,1 juta dengan kapasitas investasi pengolahan nikel 280,3 miliar ton. Sulawesi, Capex Rp 22.756,4 juta dan kapasitas investasi untuk 42,2 miliar ton nikel. Jawa, Capex Rp 13.616,8 juta dan kapasitas investasi 455 triliun ton nikel. Bali, NTB, dan NTT Capex Rp 205,2 juta dengan kapasitas investasi 3,2 miliar ton nikel. Maluku, Capex Rp 9.223,7 juta dengan investasi 79,9 miliar ton nikel. Namun, hanya Papua Capex-nya belum terdata dari kapasitas investasi 0,3 miliar ton nikel.

Ia mengungkapkan, sebelum ada pencabutan IUP oleh Kementerian Investasi/BKPM, jumlah IUP nikel di Indonesia sebanyak 338 IUP. Masing-masing 170 IUP di Sulawesi Tenggara, 4 IUP di Sulawesi Selatan, 100 IUP di Sulawesi Tengah, 2 IUP di Maluku, 45 IUP di Maluku Utara, 2 IUP di Kalimantan Selatan, 4 IUP di Papua Barat, dan 11 IUP di Papua.

“Jumlah pabrik pirometalurgi yang mengolah nikel kadar tinggi atau saprolit yang beroperasi sebanyak 27, konstruksi 28, dan sedang tahap feasibility study (FS) 6 pabrik. Investasi pabrik pirometalurgi hingga tahap operasi sekitar US$ 15,7 miliar. Pabrik ini salah satunya memproduksi NPI sebanyak 4,7 juta ton per tahun,” papar Meidy Katrin Lengkey saat menjadi pembicara di Nickel Summit di The Westin Hotel, Jakarta, Kamis (25/8/2022).

Sementara pabrik hidrometalurgi yang mengolah nikel kadar rendah atau limonit sebanyak 10 pabrik. Masing-masing 2 pabrik sudah beroperasi, yaitu PT Halmahera Persada Lygend dan PT Gebe Industry Nickel, 5 pabrik dalam tahap konstruksi, dan 3 pabrik tahap perencanaan.

“Jika semua pabrik hidrometalurgi beroperasi diperkirakan akan membutuhkan saprolit 1,2 juta ton per tahun, sedangkan pabrik hidrometalurgi menyerap 50.568.207 ton per tahun. Pabrik hidrometalurgi salah satunya memproduksi MHP untuk baterai listrik,” kata Meidy Katrin Lengkey.

Meidy Katrin Lengkey mengutarakan, pabrik baterai terbagi dalam dua klasifikasi, yaitu pabrik yang mengolah raw material dan produsen baterai. Pabrik ini tersebar di 6 provinsi, masing-masing untuk produsen baterai, yaitu PT ABC Everbright di Sumatera Selatan dan PT International Chemical Industry, PT Panasonic Gobel, dan PT Energizer yang berada di DKI dan Jawa Barat.

Untuk pabrik raw material baterai listrik, yaitu PT Smelter Nikel Indonesia di Banten, PT Huayue Nickel Cobalt dan PT QMB New Energy Material di Sulawesi Tengah, PT Halmahera Persada Lygend dan PT Weda Bay Nickel di Maluku Utara.

Kawasan industri pengolahan nikel di Indonesia sebanyak 27, tersebar di berbagai wilayah, yaitu di Kepulauan Riau ada KL/KEK Galang Batang, di Kalimantan Barat ada KL Ketapang, di Sulawesi Tengah ada IMIP, Anugerah Tambang Indonesia, Stardust Estate Investment, Enam Sembilan Kawasan Industri, Transon Bumi Resources, Baoshu Taman Industry Investment Group, dan Walsin Nickel Industrial Indonesia.

Kemudian, di Maluku Utara ada IWIP, KL Emerald Ferrochromium Industry, KL Pulau Obi, dan KL Buli Haltim. Di Sulawesi Tenggara ada DPNIP, KL Nusantara Industri Sejati, IKIP, Konaweha Industrial Park, Lioning Smelting Industrial Park, Stargate Mineral Asia, dan Tiran Indonesia. Di Sulawesi Selatan ada KL Bantaeng dan KL Takalar. Di NTB ada KL Sumbawa Barat, dan di Jawa Tengah ada KL Seafer. (Syarif)