Mampukah Indonesia Membangun Industri Baterai?

NIKEL.CO.ID – Dalam menekan pemakaian bahan bakar dari energi fosil yang dinilai yang tidak ramah lingkungan, pemerintah tengah mendorong penggunaan kendaraan listrik. Kendaraan listrik dinilai ramah lingkungan dengan emisi 0. Penggunaan kendaraan listrik akan hemat karena tidak perlu membeli BBM. Dan juga komponen kendaraan listrik lebih sedikit dibandingkan bahan bakar fosil sehingga biaya perawatannya pun murah sehingga diproyeksikan kedepannya akan terjadi peningkatan permintaan kendaraan listrik. Di dalam kendaraan listrik, baterai merupakan komponen yang sangat penting. Indonesia sendiri memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yaitu sebanyak kurang lebih 560.000 ton atau 24% cadangan nikel dunia. Melihat potensi dan prospek emas ini, pemerintah Indonesia berkeinginan untuk membangun pabrik baterai berbasis nikel. Hal ini juga selaras dengan proyek ibu kota baru yang ditargetkan akan mengadopsi kendaraan listrik 100 persen pada 2026. Untuk mewujdkannya, pemerintah membangun Indonesia Battery Corporation (IBC). Pemerintah mendesign holding khusus untuk industri baterai dimana dipimpin MIND ID atau PT INALUM (Indonesia Asahan Aluminium (Persero)) bersama PT ANTAM (Aneka Tambang (Persero), PT Pertamina (Persero), PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan porsi kepemilikan masing-masing 25% untuk mengawal proyek baterai listrik dari hulu sampai hilir. Untuk membangun industri baterai tersebut, proyek baterai ini akan bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) asal China dan LG asal Korea Selatan. Dengan CATL, yang lead untuk negosiasi yaitu Antam, sedangkan yang negosiasi dengan LG yaitu dari Pertamina karena sudah ada kerja sama dengan LG di tempat lain. Untuk rencana awal Indonesia Battery Holding (IBH) berdiri, modalnya kurang lebih US$ 50 juta, dan itu hanya awalnya saja.

Di sektor hulu, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sehingga untuk menambang nikel ini dipercayakan kepada INALUM dan ANTAM. Sedangkan di sektor middle (produksi) diberikan kepada PERTAMINA. Dan untuk sektor hilir, PLN yang akan mengaturnya untuk mendistribusikan baterai-baterai yang diciptakan. Pada sektor Hilir, Indonesia punya pangsa pasar produksi dan penjualan kendaran roda dua dan empat yaitu motor 88,2 juta dan 2 juta unit mobil pada tahun 2025. Sejauh ini, negara produksi baterai listrik untuk kendaraan listrik : AS, CINA, Korea Selatan dan Polandia.

Untuk Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan pihaknya sudah menyusun peta jalan (roadmap) pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik hingga 2027 mendatang. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VII DPR RI, Senin (01/02/2021), pada 2021 ini akan digencarkan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) di seluruh Indonesia. Saat ini sudah ada 32 titik SPKLU di 22 lokasi dan proyek percontohan (pilot project) 33 SPBKLU. Selain itu, tahun ini juga direncanakan akan ada pengembangan sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ ESS).

Kemudian, pada 2022 OEM ditargetkan akan mulai memproduksi kendaraan listrik di Indonesia. Lalu, pada 2024 smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) ditargetkan mulai beroperasi yang dikembangkan oleh PT Aneka Tambang Tbk dan pabrik precursor baterai dan katoda mulai beroperasi yang dikerjakan Pertamina dan MIND ID. Tahun 2022 perusahaan manufacturing EV diharapkan mulai beroperasi di Indonesia dan dari hulu sampai hilir direncanakan akan beroperasi pada 2024. Dan, pada 2025 pabrik cell to pack mulai beroperasi yang dikembangkan oleh Pertamina dan PLN. Kemudian, pada 2026 ibu kota baru RI di Kalimantan Timur diharapkan sudah 100% mengadopsi kendaraan listrik. Pembangunan ekosistem industri baterai listrik secara terintegrasi dari hulu sampai hilir bakal membutuhkan investasi mencapai US$ 13-17 miliar atau sekitar Rp 182 triliun-Rp 238 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per US$). Pendanaan investasi tersebut akan dilakukan secara bertahap.

Berdasarkan informasi dari Direktur INALUM, capaian investasi yang akan terealisasi dari pembangunan pabrik baterai sekitar 176 T Rupiah atau sekitar US$ 12 Miliyar, suntikan dana dari investor dan pinjaman modal bagi perbankan dan modal antara pemegang saham dalam pembangunan proyek. Kebutuhan di tahap awal menurutnya hanya mencapai sebesar US$ 5 miliar sampai US$ 10 miliar. Besaran nilai ini tidak langsung digelontorkan. Investasi di hulu cukup besar, namun bukan di tambangnya, melainkan pada pembangunan smelternya. Untuk Indonesia, hingga tahun 2022, ditargetkan 52 smelter namun ternyata, terdapat kendala sehingga ditargetkan hanya 48 smelter rencana akan rampung pada tahun 2022. Sayangnya, pada kenyataannya smelter di Indonesia masih minim masih di bawah 20 unit smelter. Penyebabnya adalah terdapat masalah pada pembebasan lahan, kepastian produksi dan kepastian pasokan listrik. Diharapkan kedepannya ada win win solution antara pemerintah dan pelaku usaha.

Direncanakan akan dibangun smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) atau The Rotary Klin Electric Furnace (RKEF). Setelah proyek smelter, maka akan masuk dalam proyek baterai yang rencananya PERTAMINA dan PLN juga akan ikut bekerjasama. Di dalam kerja sama tentu ada equity-nya [penyertaan saham]. Penghitungan sementara, equity 30% dan pinjaman 70%. Besaran ekuitas 30% itu berlaku untuk masing-masing proyek. Namun untuk proyek hulu hingga smelterholding BUMN Indonesia Battery akan menyumbang ekuitas lebih besar. Sementara untuk proyek baterai tergantung dari hasil negosiasi dengan mitra dan pembeli (offtaker) baterainya. Diharapkan proyek industri baterai ini dapat menciptakan banyak lapangan kerja. Pemerintah terus berupaya proyek baterai ini segera rampung, sedang mengurus pengizinan dan legislasinya dari 1-2 bulan ke depan, pemerintah sedang mencari tempat atau wilayah yang cocok untuk membangun pabrik baterai yaitu Halmahera, Sulawesi Tenggara dan Papua Barat.

Di samping itu, Indonesia merupakan market besar pada industri motor listrik dunia sehingga pemerintah berkeinginan untuk motor listrik dan stabilisator baterai untuk renewable energy atau power listrik di rumah, Indonesia menjadi leading sector namun untuk mobilnya, Indonesia mengalah sehingga diharapkan Indonesia tidak menjadi market saja.   Sementara itu, dilansir dari pernyataan Menteri BUMN, Erick Tohir, pasca pandemi covid-19, bisnis model mengalami perubahan sehingga perlu diantisipasi. Permodalan industri baterai ini, CATL memberikan kontribusi lebih dari 5 billion dan LG Chem nilainya kurang lebih 13 – 17 billion sehingga kedua perusahaan ini merupakan partnership yang besar sekali.

Untuk saat ini, keberadaan IBC memang masih di atas kertas. Hasil kerja konsorsium BUMN ini akan terlihat setelah memproduksi battery cell pada 2022-2023. Pada tahap awal, produksi baterai ditargetkan mencapai 10-30 Gigawatt Hour (GWh). Produksi ini akan terus ditingkatkan hingga bisa mencapai 140 GWh pada 2030. Selain digunakan untuk produksi kendaraan listrik di dalam negeri, sekitar 50 GWh dari produksi battery cell ini akan diekspor untuk memasok produsen kendaraan listrik skala global. Namun jika ditelisik lebih dalam dari beberapa BUMN yang diajukan untuk menggarap proyek baterai listrik, ada juga BUMN yang kurang sehat karena rasio utang yang meningkat terus seperti PLN. Semoga proyek ini berjalan lancar dan baik serta memberikan masa depan cerah bagi bangsa Indonesia khususnya di kancah energi dunia.

Sumber: kompasiana.com