Indonesia Kecipratan Terus Naiknya Harga Nikel Dunia

209

 

NIKEL.CO.ID, 11 April 2022—Harga nikel kembali melesat ke rekor tinggi dalam bulan ini. Pantauan dari Bursa perdagangan dunia , London Metal Exchange (LME) harga nikel pada Senin, (11/4/2022) pukul 12.35 WIB, 34,095 dolar AS, lebih tinggi dibandingkan penutupan kemarin Minggu, (10/4/2022) 33,235 dolar AS.

Kembali naiknya harga nikel merupakan nilai positif bagi para penambang, khusunya nikel. Tetapi, tidak dengan stok nikel yang kian menipis di gudang LME.

Dilansir Shanghai, logam dasar Shanghai dan LME ditutup bervariasi Jumat lalu dalam menghadapi sinyal Hawkish dari Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) yang mengindikasikan kenaikan suku bunga dan pengurangan neraca pada Mei, serta berlanjutnya pandemi Covid di Cina yang berdampak berbagai aspek termasuk transportasi, permintaan dan sebagainya.

Nikel berjangka dibuka pada 217.700 Yuan/mt dalam perdagangan semalam dan berada di sekitar 215.000 Yuan/mt setelah jatuh ke harga terendah 214.280 Yuan/mt. Akhirnya, harga ditutup pada 215.810 Yuan/mt, 2.360 Yuan/mt, lebih rendah dari hari perdagangan sebelumnya atau turun 1,08%. Volume perdagangan adalah 45.000 lot, dan minat terbuka turun 1.055 lot menjadi 48.354 lot.

Tingginya harga nikel LME mendukung nikel SHFE, dan harga nikel belum kembali ke fundamentalnya. Pada dasarnya, pasokan nikel sulfat sangat terbatas, sehingga produksi nikel matte bermutu tinggi menjadi perhatian utama, yang akan mempengaruhi pasokan bahan baku yang digunakan dalam energi baru dan kekurangan briket nikel, sehingga mempengaruhi harga nikel.

Jendela impor tetap tertutup dan produk nikel dengan harga menurut LME sulit masuk ke China, sehingga pasokannya terbatas. Juga terjadi kelangkaan bahan baku baja tahan karat, dan harga NPI tetap stabil. Selain itu, peleburan dan pengangkutan bahan mentah dan produk jadi dipengaruhi oleh pandemi dalam berbagai tingkat. Secara umum, fundamental juga mendukung harga nikel. SMM memperkirakan harga nikel akan berada pada level tinggi dalam jangka pendek.

HMA Nikel Ikut Terkerek

Terus naiknya harga nikel dunia, ternyata berdampak positif terhadap Harga Mineral Acuan (HMA) mineral logam di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari tren kenaikan HMA mineral logam di Maret sebesar 23.537,05 dolar AS per dmt menjadi 35.995,30 dolar AS per dmt di April 2022. HMA April ini berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 67.K/HK.02/MEM.B/2022 tanggal 7 April 2022.
Sekretaris Jendral Asosiasi Nikel Indonesia (APNI), Meidy katrin lengkey, mengutarakan bahwa kenaikan harga nikel tersebut bukan hanya semata-mata dampak perang antara Rusia dan Ukraina. Terlepas dari itu, naiknya harga nikel, kata Meidy, membawa gairah bagi pelaku pertambangan nikel di sektor hulu.

“Kami dari pelaku pengusaha hulu pertambangan dari APNI saat ini dalam posisi sangat menguntungkan. Jika kita berbicara HPM mineral, kami tetap mengikuti Permen ESDM No 11 Tahun 2020. Kami juga mengikuti Acuan Kepmen ESDM No 2946 K/30/MEM/ 2017 untuk peritungan HPM,” kata Meidy Katrin Lengkey, pada Kamis (7/4/2022) sore.

Menurutnya HPM mineral dihitung pemerintah berdasarkan harga internasional yang dihitung dari tiga bulan ke belakang (Februari-Maret-April). Untuk HMA mineral logam bulan Maret sebesar 23.537,05 dolar AS per dmt.
Meidy mengapresiasi kebijakan pemerintah yang komitmen dalam menentukan perhitungan HMA komoditas minerba. Lain hal, jika ke depan ada perubahan peraturan terkait penentuan perhitungan HMA minerba.

Pelaku hulu, kata Meidy, memahami kondisi yang tengah dihadapi perusahaan smelter karena bertambahnya biaya produksi, seiring naiknya harga-harga bahan baku untuk menggerakkan roda produksi smelter. Maka, ada wacana dari smelter agar tidak mengikuti HPM minerba di April, namun mengikuti HPM Maret 2022.

Demi menjaga kelangsungan dunia usaha hulu dan hilir, kata Meidy, pihaknya menolerir usulan dari pihak Smelter, di mana transaksi jual-beli nikel berdasarkan HPM Maret 2022.
“Selama penyesuaian dari kami disesuaikan juga dengan kewajiban kita ke negara. Memang ini masih tahap diskusi bersama, bagaimana dapat pengambilan yang pas antara pelaku industri hilir dan hulu, sehingga tidak ada yang dirugikan,” tutur Meidy.(Fia/Editor:Syarif)