Grup Sinarmas Akuisisi BHP Minerals Australia Senilai Rp19 T

459
South Walker Creek (Foto: Dok GEAR)
Grup Sinarmas
South Walker Creek (Foto: Dok GEAR)
JAKARTA, NIKEL.CO.ID

Stanmore Resources, anak usaha dari Golden Energy Resources, membeli 80% saham milik Broken Hill Proprietary (BHP) Minerals Australia di BHP Mitsui Coal (BMC). Stanmore Resources adalah anak usaha dari Golden Energy Resources, perusahaan pertambangan milik Grup Sinarmas. Nilai transaksi pembelian saham tersebut mencapai US$1,35 miliar (Rp 19,17 triliun), dengan asumsi kurs Rp14.200/US$.

Menurut Presiden BHP Minerals Australia, Edgar Basto, penjualan aset tersebut sejalan dengan upaya perusahaan untuk melakukan transisi dari emisi karbon besar.

“Transaksi ini sesuai dengan strategi BHP, memberikan nilai bagi perusahaan dan pemegang saham kami serta memberikan kepastian bagi tenaga kerja BMC dan masyarakat setempat,” kata Basto, sebagaimana dilansir australiamining.au, Senin (8/11).

Aset BMC yang dilepas, sambungnya, semua lokasinya di Queensland, Australia. Aset tersebut terdiri dari tambang batu bara metalurgi Poitrel dan South Walker Creek, infrastruktur Red Mountain, dan pengembangan sumur Wards Well. Poitrel dan South Walker Creek memiliki produksi batu bara metalurgi dengan total sekitar 10 juta ton per tahun dan cadangan lebih dari 135 juta ton.

Berkenaan dengan hal itu, CEO Stanmore Resources, Marcelo Matos, mengatakan, transaksi tersebut membuat perusahaannya menjadi salah satu produsen batu bara metalurgi terkemuka secara global dan memberikan Stanmore portofolio aset Tier 1.

“Dengan auisisi ini, cadangan dan basis sumber daya dan aset yang meningkat secara signifikan dengan masa pakai tambang yang diharapkan melebihi 25 tahun produksi, memposisikan perusahaan untuk menghasilkan arus kas yang substansial dan peluang pertumbuhan di masa depan,” kata Matos.

Akuisisi ini juga memberikan peningkatan produksi batu bara metalurgi Stanmore dengan kelipatan 5,6, sementara cadangan batu baranya akan meningkat dengan kelipatan 4,2. Akuisisi diharapkan akan rampung pada pertengahan 2022 mendatang.

Stanmore masih akan menunggu dari Australian Foreign Investment Review Board dan otoritas lainnya untuk proses akuisisi tersebut. Selain itu, juga menunggu persetujuan akuisisi dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. sebagai pengendali Golden Energy Resources.

Dana untuk akuisisi tersebut berasal dari fasilitas pinjaman Stanmore untuk akuisisi senilai US$ 625 juta (Rp8,87 triliun), penawaran saham baru Stanmore kepada pemegang saham existing, dan sumber kas internal. Rencananya, senilai US$ 600 juta (Rp 8,52 triliun) akan dibiayai melalui pro-rata entitlement offer, yakni semacam penerbitan saham baru, seperti rights issue, meski saat ini keputusan tersebut belum resmi.

Namun, melalui Golden Investments, perusahaan sudah mendapatkan komitmen dari Golden Energy Resources, untuk menyerap dana senilai US$300 juta, US$ 300 juta lainnya telah didapat jaminan dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk.

“Terlepas dari komitmen ini, Stanmore masih bermaksud untuk memulai diskusi dengan penjamin emisi profesional dan investor pihak ketiga untuk menanggung setiap penawaran kepemilikan,” tulis keterbukaan tersebut sebagaimana dilansir cnbcindonesia.com.

Pada akhir September 2021, penjualan batu bara Stanmore mencapai 723 ribu ton. Hal itu mencerminkan kuatnya kinerja tambang dan pabrik persiapan batu bara yang menghasilkan 653 ribu ton batu bara yang dapat dijual dengan 96% kokas dan 4% batu bara termal. Produksi ini diharapkan dapat mencapai angka 2,3 hingga 2,4 juta ton hingga akhir tahun, sejalan dengan tren pasar batu bara yang makin baik. (Rus/dbs)