Dirut IBC Toto Nugroho: Baterai Sel IBC Sasar Pasar Domestik dan Global

800
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho
Dirut IBC Toto Nugroho: Baterai Sel Indonesia Battery Corporation Sasar Pasar Domestik dan Global
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho

NIKEL.CO.ID, 22 Februari 2022-Kementerian BUMN resmi mengumumkan pembentukan holding perusahaan baterai BUMN, yaitu Indonesia Battery Corporation atau IBC. Perusahaan holding ini terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero atau MIND-ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina, dan PT PLN.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation, Toto Nugroho mengatakan, pembentukan IBC dalam rangka pengembangan industri baterai terintegrasi dari hulu ke hilir dan juga pengembangan ekosistem dalam kendaraan listrik.

“Kepemilikan saham dari empat perusahaan yang tergabung di IBC sama rata, yaitu sebesar 25 persen,” kata Toto Nugoroho kepada Nikel.co.id, baru-baru ini.

Menurutnya, saat ini IBC sedang tahap pelaksanaan kajian mendalam dengan mitra terkait untuk mengimplementasikan hilirisasi nikel ke baterai sel, yang rencananya akan terdiri dari beberapa perusahaan joint venture, yakni JV Pengolahan Nikel, JV Prekursor, JV Cathode, JV Baterai Sel, dan JV Recycle.

“Proyek-proyek ini akan mulai beroperasi komersial pada tahun 2025 (program jangka menengah) dengan penetrasi global market. Sementara program jangka panjang akan ditingkatkan kapasitasnya seiring dengan tumbuhnya industri EV di Tanah Air dan global,” jelas Toto.

IBC tidak hanya memiliki satu pabrik, namun akan menjadi industri baterai listrik yang terintegrasi, mulai dari mining, smelting, produksi prekursor, hingga battery pack.

Konsep yang dikembangkan oleh IBC ada hilirisasi nikel ke baterai sel dan dalam implementasinya akan terdiri dari beberapa pabrik pengolahan terintegrasi dimana input dan output dari tiap pabrik pengolahan tersebut akan berkaitan satu sama lainnya.

Diuraikan Toto, industri terintegrasi tersebut dimulai dari tambang nikel yang dimiliki oleh Antam yang berlanjut seterusnya ke pengolahan nikel (smelting), pabrik prekursor, katoda, dan baterai sel. Untuk baterai sel yang telah melewati masa pakai nantinya akan dilakukan daur ulang di pabrik daur ulang yang rencananya turut dikembangkan oleh IBC.

Untuk kebutuhan nikel sebagai bahan baku baterai listrik, disampaikan Toto, akan disesuaikan dengan kebutuhan hilirisasi yang saat ini turut menjadi bagian dalam pendalaman Due Diligence Study yang dilakukan IBC.

Sementara kebutuhan material bahan baku lainnya dalam rangka pengembangan industri baterai sel, IBC berintensi untuk turut menyerap bahan-bahan yang telah tersedia di Indonesia di antaranya adalah kebutuhan mangan, kobalt, dan aluminium.

Toto menjelaskan spesifikasi kapasitas baterai sel yang diproduksi IBC untuk awal sebesar 10 GWh. Tentunya nanti akan diperbesar sesuai dengan permintaan pasar. Dalam pengembangan baterai sel, IBC bermitra dengan global battery player, sehingga produk yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan kendaraan listrik global.

“Produk baterai IBC nantinya akan menyasar pasar domestik dan global,” ujarnya. (Herkis/Syarif)