“5 Tahun Terakhir Indonesia Telah Bisa Mengekspor Produk Hilirisasi Nikel Dalam Bentuk Baja Tahan Karat (Stainless Steel)”

176

Arif S. Tiammar

Energy Material, Powder Metallurgt, Business Development

1: Perkembangan nikel yang akan datang & hilirisasi dan terintegrasi.

Selama ini penggunaan nikel didominasi untuk baja tahan karat (stainless steel) dengan porsi sekitar 71%. Pada masa mendatang, porsi untuk baja tahan karat porsinya menurun walau masih paling besar. Sementara itu, Penggunaan nikel untuk baterai menunjukkan peningkatan proporsi yang sangat signifikan. Penggunaan nikel untuk baterai pada tahun 2020 hanya berkisar 3% dan meningkat drastis menjadi 30% pada tahun 2040. Sedangkan proporsi stainless steel pada periode yang sama mengalami penurunan dari 71% menjadi tinggal 48. Sedangkan porsi penggunaan nikel untuk bidang lain (elektroplating, pengecoran, paduan dan powder metallurgy) relatif tidak banyak berubah. Kebutuhan energi dari baterai akan terus meningkat karena adanya tekanan lingkungan, budaya hemat energi dan perubahan iklim.

2 : Bagaimana tanggapan pemerintah tentang adanya perkembangan ekspor nikel di Indonesia.

Pemerintah tentunya akan mendukung upaya-upaya hilirisasi selama itu memberikan dampak positif dalam hal peningkatan nilai tambah produk, penciptaan lapangan kerja, menggerakkan sektor UKM, investasi yang berkualitas dan ramah lingkungan serta secara makro ekonomi bisa meningkatkan produk domestik bruto.

Tidak seperti beberapa dekade sebelumnya dimana ekspor nikel Indonesia didominasi oleh bijih nikel, feronikel dan Ni-matte, dalam 5 tahun terakhir Indonesia telah bisa mengekspor produk hilirisasi nikel dalam bentuk baja tahan karat (stainless steel). Produk ini merupakan hasil olahan lanjut dari feronikel atau NPI (nickel pig iron) setelah penambahan ferokrom (FeCr), feromangan (FeMn) dan beberapa unsur logam lain sesuai kebutuhan. Ekspor baja tahan karat Indonesia bahkan menjadi yang terbesar kedua setelah China dengan nilai penjualan sangat signifikan.

Pemerintah tentunya akan mendorong hilirisasi lebih lanjut bahkan jika memungkinkan hingga menjadi produk akhir yang bisa diserap pasar domestik maupun ekspor. Karena sesungguhnya, jenis produk akhir dari sebuah bangsa bisa meningkatkan harkat dan kewibawaan sebuah bangsa dalam tataran regional dan global.

3 : Berapa target dari kementerian ESDM untuk fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter)

Target produksi nikel Kementerian ESDM tentu disesuaikan dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari beberapa perusahaan pemegang IUP OP khususnya yang mengintegrasikan antara operasi penambangan dengan smelter (proses berbasis pirometalurgi) atau leaching plant (proses berbasis hidrometalurgi). RKAB merupakan dokumen yang wajib diserahkan seluruh pemilik IUP dan IUP OP. Dari situlah Kementerian ESDM bisa menargetkan produksi nikel baik dalam bentuk NPI, FeNi, Matte, MHP dan lainnya. Namun pada kenyataannya, perusahaan-perusahaan pemilik smelter dan leaching plant lebih banyak sebagai pemegang IUI dibawah pengawasan dan koordinasi Kementerian Perindustrian.

Sebagai gambaran awal, proyeksi kapasitas input smelter dan leaching plant pada 2021 diperkirakan sebesar 85 juta WMT. Kapasitas tersebut menghasilkan 776.000 ton nikel dalam berbagai varian produk (NPI, FeNi dan MHP). Sebagian dari kapasitas NPI tersebut diolah lanjut menjadi stainless steel. Pada tahun 2021, diperkirakan akan ada 58 proyek baru dimana satu proyek bisa membangun 2 hingga 32 line RKEF. Khusus untuk HPAL (High Pressure Acid  Leaching) baru terbangun 1 line di Pulau Obi. Sebagai catatan, HPAL bukanlah termasuk smelter melainkan leaching plant karena proses yang digunakan adalah hidrometalurgi.

Sementara itu, seiring dengan masifnya pembangunan smelter RKEF di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2025 akan dihasilkan 2,7 juta ton dalam berbagai varian produk. Kapasitas masif tersebut memerlukan bijih sebesar 237 juta WMT saprolit (kadar Ni tinggi) dan 40 juta WMT limonit (kadar Ni rendah). Kapasitas pada tahun-tahun berikutnya diprediksi ada kecenderungan terus meningkat. Sungguh merupakan julah yang luar biasa, sebuah kapasitas produksi yang pada belasan tahun lalu belum terpikirkan sekalipun.

 

(Chiva/Via)