Beranda Daerah Ekspor Nikel Sumbang Devisa Besar, Struktur Ekonomi Sulteng Kian Berbasis Hilirisasi

Ekspor Nikel Sumbang Devisa Besar, Struktur Ekonomi Sulteng Kian Berbasis Hilirisasi

109
0
Ekspor komoditas berbasis nikel menjadi penyumbang devisa bagi Sulawesi Tengah (Foto: Dok IMIP),

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Seiring kuatnya kinerja industri pengolahan dan aktivitas hilirisasi di kawasan Morowali dan Morowali Utara, Eekspor komoditas berbasis nikel terus menjadi penyumbang utama devisa bagi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng),

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman, mengatakan, struktur ekonomi daerah tidak sepenuhnya bergantung pada sektor industri, tetapi aktivitas hilirisasi mineral berbasis nikel telah mendorong transformasi signifikan dalam struktur ekonomi daerah, dari berbasis bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Produk seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), hingga turunan logam lainnya kini mendominasi ekspor Sulteng.

“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulawesi Tengah mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” kata Andi sebagaimana dikutip dari laman IMIP, Senin (6/4/2026).

Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulteng tercatat mencapai US$22,32 miliar atau tumbuh 5,14% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$21,22 miliar. Sementara itu, impor juga meningkat menjadi US$11,31 miliar, didorong kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung ekspansi industri. Kontribusi terbesar ekspor berasal dari kawasan Morowali, dengan nilai ekspor melalui Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencapai US$18,08 miliar atau sekitar 81% dari total ekspor daerah.

Dari sisi komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja dengan pangsa 61,31%, diikuti nikel sebesar 16,59%. Kinerja ekspor ini dinilai tetap tangguh, dengan pertumbuhan mencapai 17,41% dalam tiga tahun terakhir meski harga nikel global turun signifikan.

Menurut Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulteng, prospek perdagangan luar negeri daerah masih positif dalam beberapa tahun ke depan, terutama didorong permintaan global dari Cina. Produk unggulan berbasis nikel, seperti baja nirkarat dan mixed hydroxide precipitate (MHP), menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dunia.

Di sisi lain, peningkatan impor bahan baku dan barang modal mencerminkan ekspansi industri yang terus berlangsung. Data menunjukkan impor bahan baku mencapai US$8,82 miliar atau 79% dari total impor, sementara impor barang modal meningkat 14,4% menjadi US$2,33 miliar.

Kinerja industri ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kabupaten Morowali tercatat memberikan kontribusi sebesar 47,6% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Sulteng. Hingga triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Morowali mencapai 10,81%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sulteng mencapai 8,47%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,11%.

Surplus neraca perdagangan yang konsisten juga memperkuat stabilitas ekonomi regional. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulteng pada 2026 tetap tinggi, bahkan berpotensi mencapai dua digit di kisaran 12%–13%.

Sementara itu, investasi di kawasan industri berbasis nikel terus meningkat. Hingga Desember 2025, total investasi di kawasan industri Morowali tercatat mencapai US$41,48 miliar, naik signifikan dari US$29,6 miliar pada 2022.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan, peningkatan investasi tersebut sejalan dengan pertumbuhan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja di kawasan tersebut. Dengan tren ini, ekspor komoditas nikel dan turunannya diperkirakan akan tetap menjadi tulang punggung devisa daerah sekaligus pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulteng ke depan. (Shiddiq)