
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-9 Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menjadi momentum refleksi bagi pelaku industri nikel nasional untuk memperkuat peran strategis sektor ini di tengah transisi energi global.
Ketua Umum APNI, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna, menegaskan, perjalanan APNI tidak sekadar soal bisnis, tetapi juga tanggung jawab kebangsaan dalam mengelola sumber daya alam.
“Momentum ini bukan hanya perayaan organisasi, tetapi juga saat refleksi untuk meneguhkan kembali tanggung jawab kita terhadap industri dan bangsa,” ujar Nanan dalam sambutannya, di Hotel Sultan Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ia menekankan, tiga fondasi penting bagi industri nikel: identitas, moral, dan keadilan. Industri tanpa identitas akan kehilangan arah, tanpa moral akan kehilangan integritas, dan tanpa keadilan akan kehilangan makna.

Selama sembilan tahun berdiri, APNI berperan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha. Dari sekitar 419 perusahaan tambang nikel di Indonesia, sebanyak 119 perusahaan tercatat sebagai anggota APNI.
APNI juga aktif membangun kerja sama internasional dengan lembaga, seperti Shanghai Metals Market, Argus Media, Nickel Institute, dan Cobalt Institute guna memperkuat akses pasar global dan referensi harga komoditas.
Di tengah meningkatnya permintaan nikel untuk industri baterai dan kendaraan listrik, Nanan menilai, Indonesia memiliki peluang besar dalam rantai pasok energi masa depan. Namun, peluang itu hanya dapat diraih dengan tata kelola yang solid, profesional, dan berintegritas.
“Jika dikelola dengan benar, hilirisasi nikel dapat menjadi salah satu fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Shiddiq)


































