NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) resmi merilis pembaruan Indonesia Nickel Price Index (INPI) untuk periode 23 Februari 2026.
Dalam rilis tersebut, harga bijih nikel tercatat stabil dibandingkan periode sebelumnya 9 Februari 2026, sementara nickel pig iron (NPI) mengalami kenaikan. Di sisi lain, produk hilir berupa high-grade nickel matte (HGNM) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) mengalami perubahan harga sedikit.
| Produk | 9 Februari 2026 | 23 Februari 2026 | Keterangan |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$22/mt | US$22/mt | Tetap |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$60,9/mt | US$60,7/mt | Turun US$0,2/mt |
| NPI (FOB) | US$131,89/mt | US$133,99/mt | Naik US$2,1/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.362/mt | US$15.699/mt | Naik US$337/mt |
| MHP (FOB) | US$14.870/mt | US$15.198/mt | Naik US$328/mt |

Berdasarkan data INPI per 23 Februari 2026, harga bijih nikel (nickel ore) 1,2% (CIF) berada pada kisaran US$21–23/mt dengan rata-rata US$22/mt, tidak berubah dibandingkan 9 Februari 2026.
Sementara itu bijih nikel kadar 1,6% (CIF) tercatat pada kisaran US$59,2–62,2/mt dengan harga rata-rata US$60,7/mt, turun US$0,2/mt dari rata-rata sebelumnya US$60,9/mt.
Untuk produk antara, NPI (FOB) tercatat sebesar US$133,99/mt. Angka ini naik dibandingkan periode 9 Februari 2026 yang berada di level US$131,89/mt, atau menguat sekitar US$2,10/mt.

Adapun produk hilir menunjukkan pergerakan berbeda. HGNM (FOB) tercatat di level US$15.699/mt pada 23 Februari 2026, dengan perubahan US$337/mt lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, yaitu US$15.362/mt.
Sementara itu, MHP FOB berada di level US$15.198/mt, naik US$328/mt dibandingkan rilis 9 Februari 2026 yang dijual dh harga US$14.870/mt.

Rilis INPI oleh APNI ini menjadi acuan transaksi domestik antara penambang dan smelter, serta mencerminkan dinamika pasar nikel nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Periode akhir Februari menunjukkan kecenderungan stabil di sisi bahan baku, penguatan pada NPI, juga naik untuk nickel matte dan MHP.
Dengan perkembangan tersebut, pelaku usaha pertambangan dan pengolahan nikel di dalam negeri diharapkan tetap mencermati pergerakan harga global serta menyesuaikan strategi produksi dan penjualan pada kuartal pertama 2026. (Li Han)































