Beranda Nikel Nikel di Persimpangan Global: Harga Bijih Lokal Indonesia Naik, Pasar Dunia Tertekan...

Nikel di Persimpangan Global: Harga Bijih Lokal Indonesia Naik, Pasar Dunia Tertekan Tarif dan Geopolitik

877
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pasar nikel global memasuki fase krusial menjelang paruh pertama Februari 2026. Di tengah koreksi harga nikel dunia dan meningkatnya tensi geopolitik, harga bijih nikel lokal Indonesia justru diproyeksikan menguat, mencerminkan ketatnya pasokan domestik serta peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

Lembaga riset dan penyedia data logam internasional, Shanghai Metals Market (SMM), memperkirakan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel lokal Indonesia akan meningkat sekitar 8,20% pada paruh pertama Februari 2026. Namun, harga mineral acuan (HMA) justru diproyeksikan mengalami penurunan.

“HMA untuk paruh pertama Februari diperkirakan berada di level US$17.774/dmt, turun sekitar US$1.347,46/dmt,” tulis SMM dalam rilis resminya tertanggal 27 Januari 2026.

Menurut SMM, kenaikan HPM terutama ditopang oleh bijih nikel kadar tinggi, khususnya moisture content (MC) 35%, yang menjadi tulang punggung pasokan bagi industri pengolahan nikel di dalam negeri. Pengetatan pasokan terjadi seiring pengendalian produksi melalui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) serta meningkatnya biaya logistik di kawasan industri nikel.

Adapun proyeksi HPM bijih nikel lokal Indonesia pada paruh pertama Februari 2026:

  • Ni 1,2%: US$18,02/wmt, naik US$1,37/wmt
  • Ni 1,6%: US$31,42/wmt, naik US$2,38/wmt
  • Ni 1,7%: US$35,35/wmt, naik US$2,68/wmt
  • Ni 1,8%: US$39,51/wmt, naik US$3,00/wmt
  • Ni 2,0%: US$48,52/wmt, naik US$3,68/wmt

Berbanding terbalik dengan kondisi domestik Indonesia, harga nikel global justru mengalami tekanan. Pada 27 Januari 2026, SMM mencatat harga nikel rafinasi #1 berada di kisaran CN¥144.100/ton– CN¥152.100/ton, dengan rata-rata CN¥148.100/ton, turun CN¥5.700/ton.

Kontrak nikel teraktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE 2602) juga melemah 2,48% ke level CN¥145.200/ton.

“Harga nikel terkoreksi akibat sentimen makro, termasuk rencana kenaikan tarif timbal balik terhadap Korea Selatan menjadi 25%,” tulis SMM dalam ulasan pasar tengah hari.

Kebijakan tarif terhadap mobil, kayu, produk farmasi, dan seluruh barang asal Korea Selatan dinilai berpotensi menekan permintaan industri global, sehingga berdampak langsung pada pasar logam non-fero. Meski harga global melemah, SMM menegaskan bahwa fundamental nikel masih ditopang kuat oleh Indonesia sebagai produsen utama dunia.

“Rencana Indonesia untuk memotong kuota RKAB bijih nikel tetap menjadi pendorong inti harga nikel,” tulis SMM.

Selain itu, potensi gangguan pasokan nonteknis turut meningkat. Penyelidikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait dugaan praktik monopoli logistik di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dinilai dapat menambah ketidakpastian pasokan bijih nikel.

“Harga nikel lebih cenderung berfluktuasi naik–turun, dengan titik pusat harga berada pada level yang relatif tinggi,” lanjut SMM.

Di tengah dinamika tersebut, pelaku industri nikel memilih bersikap hati-hati sembari menunggu pengumuman resmi harga lokal.

“Harga lokal akan segera diumumkan, harap ditunggu,” ujar sumber industri yang mengacu pada publikasi SMM.

Keputusan HPM paruh pertama Februari 2026 ini akan menjadi penentu arah negosiasi antara penambang, smelter, dan pelaku industri hilir, sekaligus menjadi indikator penting sejauh mana Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan pasokan, dan daya saing di pasar nikel global. (Shiddiq)