Beranda Tambang ESG tak Lagi Jadi Risiko Utama, Berubah Jadi Strategi Inti Bisnis Tambang

ESG tak Lagi Jadi Risiko Utama, Berubah Jadi Strategi Inti Bisnis Tambang

229
0
Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar, M.S. (Foto: MNI/Uyun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Posisi isu environment, social, and governance (ESG) dalam industri pertambangan dan logam global mengalami pergeseran penting. Berdasarkan Laporan Risiko dan Peluang Bisnis Ernst & Young (EY) Pertambangan & Logam 2026, ESG yang sebelumnya menempati peringkat pertama risiko industri pada 2022–2024 dan peringkat kedua pada 2025, kini turun lebih jauh dalam daftar risiko utama tahun 2026.

Menurut Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar, M.S., perubahan ini menunjukkan bahwa ESG tidak lagi dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi industri, melainkan telah menjadi ekspektasi dasar yang melekat dalam strategi bisnis perusahaan tambang.

“Pergeseran ini menandakan bahwa ESG telah beralih dari kepatuhan mendesak menjadi strategi bisnis yang terintegrasi,” ungkap Muchtazar dalam ulasannya terhadap laporan EY tersebut, di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Dalam laporan tersebut disebutkan, risiko utama industri pertambangan dan logam kini didominasi oleh kompleksitas operasional, kenaikan biaya, serta tekanan terhadap modal, sementara ESG bergerak ke posisi yang lebih matang dalam kerangka pengelolaan bisnis.

Dia menilai, turunnya peringkat ESG bukan berarti menurunnya kepentingan isu keberlanjutan. Sebaliknya, hal ini mencerminkan meningkatnya tingkat adopsi dan integrasi ESG di tingkat korporasi.

“ESG tidak lagi dilihat sebagai risiko yang harus dihindari, tetapi sebagai fondasi operasional dan pendukung strategi jangka panjang perusahaan,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, laporan EY menunjukkan tingkat kepercayaan yang tetap tinggi dari pelaku industri terhadap target keberlanjutan. Sebanyak 61% perusahaan tambang yakin mampu menurunkan emisi Cakupan 1,54% percaya dapat mencapai nol emisi bersih, sementara 60% menargetkan menjadi water positive dan 58% menargetkan nature positive.

Bagi Indonesia, yang saat ini tercatat sebagai produsen nikel terbesar di dunia, evolusi peran ESG ini menjadi sangat strategis. Perusahaan tambang nasional perlu memandang ESG sebagai pendorong nilai tambah, bukan sekadar kewajiban pelaporan.

“ESG tidak menghilang, melainkan berubah. Perusahaan yang memperlakukan ESG sebagai pendorong nilai, bukan sekadar kotak centang, akan memimpin dalam menarik investasi dan mengakses pasar premium,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan ini akan menjadi krusial, terutama dengan hadirnya kebijakan global, seperti Paspor Baterai dan kewajiban pelaporan karbon Uni Eropa, yang akan menjadi prasyarat penting dalam rantai pasok kendaraan listrik dan transisi energi.

Transformasi ESG dari isu risiko menjadi strategi inti mencerminkan kematangan industri pertambangan global. Tantangan ke depan bukan lagi pada komitmen, melainkan pada kualitas implementasi.

“Perusahaan pertambangan perlu beradaptasi dengan menjadikan ESG sebagai sumber keunggulan kompetitif, terintegrasi dalam keputusan investasi, efisiensi operasional, dan akses pasar global,” pungkasnya.

Dengan tekanan biaya dan modal yang semakin besar, integrasi ESG yang efektif diyakini akan menjadi pembeda utama antara perusahaan tambang yang sekadar bertahan dan yang mampu memimpin dalam era transisi energi. (Shiddiq)